Jun 23, 2009

Syariat & Tasawwuf





Dikutip dari buku Cinta Bagai Anggur bab ‘Godaan’.


“Tetapi jangan pula membodohi dirimu sendiri dengan mengira

bahwa kau bisa membersihkan aspek batinmu

tanpa membersihkan aspek lahirmu.”


Perhatikan, iblis tak akan pernah henti berusaha. Ketika semua tipuan telah gagal, sering kali dia mendapatkan kita melalui harga diri kita. Iblis adalah musuh abadi manusia, dan dia akan mengupayakan cara apa pun untuk menyesatkan kita. Ia terkadang menyesatkan manusia dengan berpura-pura menjadi seorang pemandu spiritual, atau bahkan berpura-pura menjadi Tuhan Yang Mahatinggi. Keselamatan hanya bisa kita peroleh jika kita mempelajari serta mengamalkan hukum-hukum syariat, sekaligus juga ajaran-ajaran dalam tashawwuf sebagai syariat batin.


Jika seseorang hanya memiliki pengetahuan syariat, mengetahui hukum-hukum fiqh itu ibarat pagar yang mengelilingi sebuah taman. Namun taman mungkin tidak cuma berisi bunga-bungaan atau pohon-pohon buah. Di dalamnya sangat mungkin terdapat banyak rumput liar dan tanaman berduri. Pagar akan menjaga agar hewan-hewan perosak tidak masuk. Hanya saja, jika ternyata ada hewan yang berhasil masuk, bisa jadi pagar itu pula yang justru membuatnya tertahan di dalam.


Pengetahuan tashawwuf dapat menjadi benteng kita terhadap keburukan; tetapi pengetahuan ini saja tidak akan sepenuhnya mampu melindungi qalb-mu dari keserakahan, amarah, dan kesalahan. Ajakan-ajakan salah yang bisa memengaruhimu tidak akan mampu menembus benteng pengetahuan ini dengan mudah, tetapi sekali mereka berhasil masuk, bisa jadi mereka tertahan di dalam.


Di sisi lain, mengamalkan ajaran tashawwuf maupun melakukan amalan-amalan olah-nafs tanpa disertai pengetahuan, itu seperti sebuah kebun raya yang terbuka, tanpa pagar sama sekali. Di dalamnya akan tumbuh buah-buahan dan bunga-bunga, tapi sama sekali tidak ada yang mencegah hewan liar untuk mengganyang buah-buahnya atau menginjak-injak bunganya. Tanpa dilindungi oleh benteng pengetahuan, pengabdian diri maupun ilham-ilham yang turun akan hilang dengan sangat mudah, bahkan dapat berubah menjadi kemunafikan, bangga diri maupun kesombongan.


Syariat dan tashawwuf itu seperti sepasang sayap. Jika sayapnya hanya satu, pemiliknya tidak sampai ke mana pun. Kau butuh (Bahasa Melayu: memerlukan) dua sayap. Kau harus membersihkan diri lahiriahmu dari hal-hal yang tidak suci, demikian pula diri batinmu harus bersih dari ketidaksucian, seperti bangga diri, kemunafikan, ketidakjujuran, amarah, keserakahan serta cinta kepada status dan kedudukan.


Tasawwuf tanpa syariat, ibarat lilin tanpa lentera yang menyala di tempat terbuka. Sekadar tiupan angin dapat memadamkan apinya. Tetapi jika engkau punya lentera dengan kaca yang melindungi nyalanya, maka apinya akan terus menyala dengan aman.

Sangat penting untuk kau perhatikan bahwa syariat dan tashawwuf adalah dua hal yang sama baiknya. Hanya karena engkau berpikir bahwa engkau tidak akan mampu melakukan keduanya sekaligus, sungguh tidak bijaksana jika engkau langsung meninggalkan salah satunya. Dan jika Allah menghendaki, mereka yang hendak membersihkan bagian (bahagian) dalam rumahnya, pada suatu saat dinding luar rumahnya pun akan terbawa bersih pula.


Tuhan Yang Maha Tinggi tidak melihat hamba-Nya dari penampilan luarnya, dari kecantikan lahiriahnya. Dia melihat ke dalam hati seseorang, kepada kesucian dan keindahan yang ada di dalam qalb hamba-Nya.


Harus kau pahami bahwa - di jenjang yang lebih tinggi - membersihkan aspek batiniah adalah jauh lebih sulit daripada membersihkan aspek lahiriah. Tetapi jangan pula membodohi dirimu sendiri dengan mengira bahwa kau bisa membersihkan aspek batinmu tanpa membersihkan aspek lahirmu. Misalnya, jika kau berpendapat bahwa uang (wang) - lambang dunia ini - adalah sesuatu yang tidak suci, kau bisa kapan saja mencuci tanganmu setelah menyentuhnya.Tetapi jika hatimu terikat oleh hasrat akan uang, yang ini sungguh sangat sulit membersihkannya.


Pada jenjang itu, membersihkan bagian dalam diri terlebih dahulu adalah jauh, jauh lebih sulit daripada dengan memulai dari bagian luar. Tetapi sekali engkau mampu membersihkannya, maka seluruh aspek luar dirimu pun akan ikut bersinar seperti kristal. Itu kalau kau berhasil.


Kau hanya membutuhkan beberapa dolar saja untuk pergi ke pemangkas rambut, mandi, lalu pergi ke toko membeli baju yang bagus. Secara lahiriah, engkau bisa dengan sangat mudah membuat dirimu jadi menarik. Tetapi bayangkan seperti apa kesulitan dan sumber daya yang harus kau kerahkan demi bersihnya diri batinmu!


Idealnya, tentu untuk menjadikan aspek luar dan dalammu seiring dalam harmoni. Aspek luarmu menjadi gambaran aspek dalammu. Yang sungguh-sungguh sangat penting, aspek lahir(1) dan aspek batinmu(2) harus menyatu dan selaras.


(1) Jasad dan segala yang terkait dengan aspek kejasadiahan. –Ed.

(2) Jiwa (nafs) dan segala yang terkait dengan aspek nafsiyyah. –Ed.




Jun 22, 2009

Lilin & Lentera





"Tasawwuf tanpa syariat,
ibarat lilin tanpa lentera yang menyala di tempat terbuka.

Sekadar tiupan angin dapat memadamkan apinya.
Tetapi jika engkau punya lentera dengan kaca yang melindungi nyalanya,
maka apinya akan terus menyala dengan aman."


Sheykh Muzaffer Ozak al-Jerrahi
Cinta Bagai Anggur



Jun 20, 2009

Penunggang Sang Kuda, Ruh Sang Jasad





"Jasad ini ibarat kuda tunggangan
dan ruh itu ibarat penunggangnya.
Jasad itu dijadikan untuk ruh,
dan ruh itu untuk jasad.

Jika seseorang itu tidak tahu
bahagian dirinya yang mana
yang paling dekat dengan Dia,
maka apakah gunanya ia mengenal yang lain?"


Imam al-Ghazali
Kimiyyah as-Sa'adah






Man 'arafa nafsahu, faqad 'arafa Rabbahu.
Dia yang mengenali nafs-nya, mengenali Rabb-nya.


Debu : Ampunilah Saya



Ya Allah! Ampunilah,
Dosa-dosaku,
Yang Kau mengetahuinya,
Lebih baik dariku.

Ya Rabbi! Kalau kuberbuat,
Dosa dan daga-dagi,
Biarlah ampunanMu,
Menutupinya lagi.

Ya Rabbi! Ampunilah,
Dosa yang dibuat,
Oleh mataku,
Ampunilah hambaMu!

Ampunilah kata-kataku,
Yang keji dan buruk,
Dan ampunilah ketidakmampuanku,
Menahan nafsuku.

CintaanMu kepada,
Mereka yang Kau suka,
Memang adalah lebih daripada,
Cinta yang dalam dunia.

Kau Sendiri bantuan mereka,
Yang tawakal padaMu,
Dengarlah kepadaku,
Wahai Tuhanku!

Berikanlah petunjuk padaku,
Agar kumeminta,
DariMu apa yang menguntungkan,
HambaMu selalu.

Ya Allah, adiliku,
Di dalam urusanku,
Berdasarkan keampunanMu,
Tak keadilanMu.



Jun 18, 2009

Putih Hitam Kelabu Nurani




Qalbu cuma wahana,
nafs-lah yang mewarna.

Putih hitam kelabu nurani
tercalit tanda pada rupawi.

Qalbu cermin cahaya Ilahi
Singgahsana-Nya tak tercerap indrawi.




Ibnu Abas

180609

10.32pm


Jun 15, 2009

Debu : Amanat






Debu - Amanat

Ada banjir, ada hujan
begitu pula kemarau
Gempa bumi, dan longsoran
di sini juga di rantau


Dihancurkan hutan-hutan
tanpa hirau akibatnya
Apalagi lautan-lautan
mati karang dan ikannya


Bencana di mana-mana
Laut gelora, amuk tofan;
Mengisyaratkan yang nyata

Bencana di mana-mana
Laut gelora, amuk tofan;
Mengisyaratkan yang nyata
sikap manusia tak sopan


Lihatlah kebinasaan
amanat dikhianati
Inilah keseluruhan
kerugian yang sejati


Dunia adalah amanat
dari Allah kepada kita
Manusia yang berkhianat
dan akhirnya dukacita


Bencana di mana-mana
Laut gelora, amuk tofan;
Mengisyaratkan yang nyata

Bencana di mana-mana
Laut gelora, amuk tofan;
Mengisyaratkan yang nyata
sikap manusia tak sopan


Masalah lingkungan hidup
adalah masalah akhlak
Renungkanlah kalau sanggup
itulah aturan mutlak


Yang wajib adalah tuk
bakti seluruh muka bumi
Iaitu bermasyarakat

Yang wajib adalah tuk
bakti seluruh muka bumi
Iaitu bermasyarakat
insan perlu memafhumi!


Bencana di mana-mana
Laut gelora, amuk tofan;
Mengisyaratkan yang nyata

Bencana di mana-mana
Laut gelora, amuk tofan;
Mengisyaratkan yang nyata

Bencana di mana-mana
Laut gelora, amuk tofan;
Mengisyaratkan yang nyata
sikap manusia tak sopan.


berkaitan:


Jun 12, 2009

Kebaikan & Keburukan Yang Sebenar




"Kebaikan itu adalah dalam menghadap kepada-Nya, dan
keburukan itu adalah kerana berpaling dari-Nya.

Setiap amal yang kau harapkan upahnya adalah untukmu,
dan setiap amal yang dilakukan kerana Dia adalah untuk-Nya.


Jika engkau beramal dan meminta ganti,
maka balasannya adalah makhluk.

Jika engkau beramal untuk mencari redha Allah Swt.,
balasannya adalah kedekatanmu dengan-Nya
dan memandang kepada-Nya,
kemudian engkau tidak meminta ganti
atas semua amalmu.


Apalah ertinya dunia, akhirat,
dan segala sesuatu selain Dia,
jika dibandingkan dengan Dia?"


Syeikh Abdul Qadir al-Jailani


Jun 05, 2009

Sempurnakan Ikhlasmu






Diri, pandanglah penundaan kurnia~Nya

sebagai peluang

untuk menyempurnakan keikhlasanmu kepada~Nya



Jun 01, 2009

Cinta al-Khaliq