November 04, 2010

Sebenar-benar Pengabdi





"Orang arif (yang mencapai makrifat) terlepas dari kesibukan (mengatur takdirnya) itu
kerana yakin dengan jaminan dan janji Tuhan. Mengingat rezeki, mereka mempercayai
jaminan Tuhan dan meyakini kebenaran janji-Nya. Mereka mencari rezeki dengan
hati tenang dan sesuai dengan batasan yang telah ditetapkan Tuhan. Hatinya berada
di samudera luas dan bergantung sepenuhnya pada Zat Yang Mahadermawan.

Kala mengingat anugerah, hatinya tenggelam.
Kala mengingat ampunan, hatinya berdebaran.
Kala mengingat mati, hatinya bercahaya.
Kala mengingat cela, hatinya gementar.
Kala mengingat perhatian dan pemeliharaan Tuhan, hatinya bahagia.
Kala mengingat nikmat dalam ibadah, hatinya gembira.
Kala mengingat-Nya, hatinya berharap-harap cemas.
Kala merindukan Tuhan, ia larut dalam lautan anugerah
dan lebih mengharapkan kurniaan di sisi-Nya.

Ia senantiasa gelisah, khuatir imannya hilang. Kesedihan
terpancar jelas darinya kerana merasa lama terpenjara
di dunia. Ia tenggelam dalam rasa malu setelah
menginsafi kebaikan dan kelembutan-Nya, keindahan tatapan-Nya,
keutamaan balasan-Nya, dan kesempurnaan ciptaan-Nya;
sementara dirinya jauh dari Tuhan, melanggar
hak-hak-Nya, dan bermaksiat kepada-Nya.

Berkat keagungan dan kasih sayang Tuhan,
ia dijaga, dipelihara, dan dilindungi. Ia bahagia,
kerana Allah telah membuka pintu hatinya,
memuliakannya dengan ibadah,
dan mendekatkannya kepada-Nya,
sehingga ia benar-benar mengabdi."

[Imam Al-Hakim Al-Tirmidzi r.a.]


November 03, 2010

Sikap Terbaik Hamba-Nya





"Katakanlah,
'Dengan kurniaan Allah dan rahmat-Nya, hendaknya dengan
itulah mereka bergembira. (Kurniaan Allah dan rahmat-Nya) itu lebih baik
daripada apa yang mereka kumpulkan.'
(Surah Yunus (10) : 58)

Ia tak pernah menyalahkan Allah atas segala musibah. Hatinya tak pernah
berprasangka buruk kepada Allah. Ia tahu benar bahawa Allah Maha Pemaaf,
Maha Pengasih, Mahahalus, Maha Terpuji, Mahaluhur, Maha Esa, Mahakekal,
Maha Berdiri Sendiri, Maha Mencukupi, Maha Melindungi, Mahadermawan,
Mahamulia, Maha Penyayang, Maha Pemberi, Mahahidup dan tak pernah mati,
Mahalembut kepada hamba-Nya, Maha Berterima kasih, Maha Pengampun,
Mahabijaksana, Maha Penyantun, Maha Membalas kebaikan dengan kebaikan,
Maha Baik, dan Maha Penganugerah.

Anugerah-Nya begitu luas, kebaikan-Nya begitu abadi, dan keagungan-Nya
begitu nyata."

[Imam Al-Hakim Al-Tirmidzi r.a.]


November 02, 2010

Hanyalah Kasih Sayang-Nya





"Mengharapkan sesuatu yang tidak ditakdirkan dalam Lauh Mahfuz
adalah keangkuhan dan sama dengan meminta sesuatu yang bukan
hakmu. Sedangkan, bangga dengan anugerah yang kamu dapatkan
dapat membuatmu lupa dan melalaikan Yang Maha Memberi, sehingga
kamu terjerumus dalam kesombongan yang mengakibatkanmu tercela.

Sikap terbaik adalah tidak memikirkan apa yang tidak kamu miliki
(yakni, tidak mengatur takdir bersama-Nya) dan berbahagia dengan
apa yang kamu dapat sesuai dengan takdir yang telah ditentukan,
disertai kesedaran bahawa anugerah diperoleh kerana kasih sayang
Allah semata."

[Imam Al-Hakim Al-Tirmidzi r.a.]


November 01, 2010

Menjawab Keresahan Jiwa





"Keresahan yang menggelayuti jiwa pada hakikatnya disebabkan
minimanya keyakinan dan cengkaman syahwat. Jika kita tanyai jiwa,
'Wahai jiwa, mengapa kamu resah?' Jiwa menjawab, 'Kerana aku selalu
memerlukan sesuatu. Aku diciptakan penuh keresahan, punya syahwat,
tidak bisa melihat tempat rezeki, tidak tahu bila akan diberi, tidak tahu
berapa akan didapatkan, dan tidak tahu bagaimana cara rezeki sampai kepadaku.'

Katakanlah kepada jiwa: 'Wahai jiwa, jika kamu beriman kepada Allah;
perkataan, janji, dan jaminan Tuhan Pencipta alam semesta seharusnya
lebih membuatmu yakin daripada sesuatu yang kamu lihat di alam nyata,
sebab penglihatan bisa salah dan menipu. Sesuatu bisa tampak berbeza
dari kenyataan sebenarnya sesuatu itu, sedangkan perkataan Tuhan
Pencipta alam semesta pasti lebih benar, lebih teliti, dan lebih tepat
daripada penglihatan inderamu. Kalau kamu merasa senang ketika
melihat sesuatu yang dapat menambah kantung-kantung hartamu,
seharusnya kamu lebih tenang dengan jaminan-Nya..'

[Imam Al-Hakim Al-Tirmidzi r.a.]


Oktober 31, 2010

Menjalani Apa Yang Digariskan-Nya





"Hati bersih dari kegalauan jiwa tentang apa yang diinginkannya
serta apa yang terjadi dan apa yang berlangsung. Itu kerana hati
telah 'berputus asa' untuk menjadi selain dari apa yang sudah
digariskan, dan ketika itulah jiwa pun tenang. Sesungguhnya,
Allah hanya menyeru kita untuk menyembah-Nya, menegakkan
ketentuan-Nya, melaksanakan kewajipan dari-Nya, serta menjauhi
murka-Nya; dan kita hanya memiliki satu hati."

Semua itu merupakan rahmat Allah untuk kita, sebagaimana diterangkan-Nya:
"Tidaklah suatu bencana menimpa di bumi dan [tidak pula] pada diri kalian
melainkan telah tertulis dalam Kitab (Lauh Mahfuz) sebelum kami menciptakannya."

Allah kemudian menjelaskan alasan-Nya, "Supaya kamu tidak berduka atas
apa yang luput dari kalian dan supaya kamu tidak terlalu gembira dengan
apa yang diberikan-Nya kepada kamu." (Surah Al-Hadid (57): 22 & 23)

[Imam Al-Hakim Al-Tirmidzi r.a.]


Oktober 30, 2010

Sarana Penenang Jiwa





"Segala peristiwa yang mampu disedari oleh hati, selayaknya menjadi sarana
untuk mengukuhkan kebenaran takdir yang tak mungkin diketahui
dan dapat diragukan keberadaannya. Allah menciptakan Lauh Mahfuz dan
menetapkan takdir manusia, sama sekali bukan untuk kepentingan Diri-Nya.
Tetapi supaya hati menjadi yakin, jiwa menjadi tenang, dan percaya
bahawa segala yang dialami sudah digariskan sebelumnya.

Apabila jiwa tenang, maka hati lapang untuk beribadah kepada-Nya,
memelihara segala ketentuan-Nya, dan melaksanakan semua perintah-Nya."

[Imam Al-Hakim Al-Tirmidzi r.a.]


Oktober 29, 2010

Kekuatan Sinaran Keyakinan





"Barangsiapa hatinya Allah sinari dengan iman, makrifatnya menguat
dan kalbunya tersinari dengan cahaya keyakinan, sehingga hatinya lurus,
tenang, tenteram, kukuh dan kuat. Ia rela hatinya menjadi penguasa
dan pengendali setiap perbuatannya. Kalaupun musuh mengganggu
dengan 'dalih' rezeki dan mata pencarian, hatinya takkan pernah
bimbang dan ragu, sebab dia menyedari bahawa Allah Mahadekat
serta tidak mungkin lalai atau lupa. Dia pun sedar sepenuhnya bahawa
Allah Maha Pengasih, Maha Penyayang, Maha Pengampun, dan Maha Penyantun.
Allah s.w.t. Mahaadil dan tidak pernah berbuat zalim. Allah Mahagagah dan tak ada
yang dapat menghalangi Kehendak-Nya. Dia memberi, bukan diberi balasan.

Allah s.w.t. menciptakan sang hamba fakir dan papa; maka ia berusaha
berhubungan dengan Rabb sesuai dengan Kehendak Tuhan, bukan kehendaknya;
menurut cara yang diinginkan Tuhan, bukan yang diinginkannya;
dalam bentuk yang dikehendaki Tuhan, bukan yang dikehendakinya;
dan pada waktu yang ditentukan Tuhan, bukan yang ditentukannya."

[Imam Al-Hakim Al-Tirmidzi r.a.]


Oktober 28, 2010

Cerminan Ketenteraman & Kabutnya





"Allah memerintahkan hamba-Nya untuk mengesakan-Nya
baik melalui perkataan, perasaan, mahupun perbuatan.
Barangsiapa (mematuhi perintah-Nya yang) demikian, ia
benar-benar telah menyedari bahawa Dia Maha Esa.
Hatinya tenteram dengan pengetahuan itu, perkataannya
mencerminkan kebenaran dalam hatinya, serta ia terpicu dan
terpacu untuk berbuat baik. Singkatnya, ia telah benar-benar
beriman. Semua ini (pengesaan melalui perasaan, perkataan dan
perbuatan) terjadi secara bersamaan pada diri seorang hamba.

Tetapi, Allah menjadikan syahwat dan hawa nafsu sebagai
bahagian dalam diri manusia; serta menciptakan syaitan
yang selalu menghembuskan keraguan dalam hati manusia
dengan pujuk rayu yang mengalir bagai darah dan
menyesap bak ikan di dalam laut."

[Imam Al-Hakim Al-Tirmidzi r.a.]


Oktober 27, 2010

Taat & Tetap Ketauhidan





"Kamu bukanlah hamba jika tidak ber-Tuhan Yang tak
memiliki sekutu. Orang yang menyekutukan-Nya dengan
sesuatu telah keluar dari tauhid, meski pada dasarnya
kamu memang hamba-Nya. Seorang hamba tidak dinilai
sebagai hamba jika tidak menyembah dan mengesakan
Allah. Ketaatannya kepada Allah adalah atas perintah
Allah untuk senantiasa menaati-Nya. Jadi, orang yang taat
kepada perintah Allah-lah hamba sejati, hamba yang patuh."

[Imam Al-Hakim Al-Tirmidzi r.a.]


Oktober 26, 2010

Keutuhan Pandangan Hati





"Begitulah jiwa harus disiasati. Ia harus dipisahkan dari syahwat dan kenikmatan semu,
agar buah yang dihasilkannya tidak beracun dan tidak mematikan hati.
Dengan begitu, hati benar-benar mampu melihat agama secara utuh
dan mampu memandang dunia sesuai dengan kedudukannya sebagai jambatan
yang menyeberangkanmu dari satu tempat ke tempat lain.

Dunia tak lebih dari sekadar teman yang mengiringimu melewati
siang dan malam hingga bertemu dengan Tuhan Yang Maha Pencipta,
Mahakuasa, lagi Maha Pemberi balasan.

Engkau takkan mengagungkan sesuatu yang dianggap rendah oleh Allah,
takkan memuliakan sesuatu yang dianggap hina oleh-Nya,
takkan meremehkan sesuatu yang dianggap bererti oleh-Nya,
takkan berhubungan dengan sesuatu yang seharusnya dijauhi,
dan takkan menegakkan sesuatu yang seharusnya dihancurkan."

[Imam Al-Hakim Al-Tirmidzi r.a.]


Oktober 25, 2010

Memasung Nafsu Melunak Hati





"Cara melatih dan memperbaiki jiwa adalah
dengan menjauhkannya dari kenikmatan dan dengan
mengabaikan bisikan syahwat. Cara ini sangat
efektif dalam memasung hawa nafsu. Jika sudah
dibungkam sedemikian rupa, hawa nafsu meredup
lalu padam. Hasilnya, hati melunak dan kembali
kepada posisi dan fungsinya yang benar berdasarkan
bimbingan cahaya makrifat, cahaya akal, cahaya
pengetahuan dan cahaya kebaikan-kebaikan lain.
Setiap kali engkau menolak kongkongan syahwat
terhadap jiwa, cengkaman semakin berkurang.
Sebaliknya, setiap kali engkau memperturutkan
dorongan syahwat, dorongannya semakin kuat."

[Imam Al-Hakim Al-Tirmidzi r.a.]


Oktober 24, 2010

Bergegas Menuju-Nya




"Dosa tidak mungkin diredhai Allah, bahkan merupakan
sebab kehinaan hakiki di dunia dan azab di akhirat.
Akan tetapi, dosa yang telah mengubah pelakunya
dan membangkitkannya dari kelenaan, serta
mendorongnya segera bertaubat;
tidak dihitung sebagai dosa
setelah dibersihkan dengan penyesalan,
dan berubah menjadi pemacu si musafir
untuk bergegas menuju Tuhan."

[Syeikh Muhammad al-Ghazali]

Menuju-Nya Beserta Kesopanan




"Janganlah cita-citamu tertuju pada selain Allah.
Harapan seseorang tak akan dapat melampaui Yang Maha Pemurah."

"Pinta tiada tertahan selama kamu memohon kepada Tuhan.
Namun, pinta tiada mudah bila pada dirimu sendiri kamu berserah."

"Yang penting bukanlah adanya permohonan,
melainkan bahawa kamu diberi kesopanan."

"Jangan menuntut Tuhanmu kerana permohonanmu belum dikabulkan.
Namun, tuntutlah dirimu sendiri yang kurang sopan."

"Sebaik-baik permohonan yang harusnya kamu ajukan kepada Allah
adalah apa yang dituntut Allah untuk kamu lakukan."


[Imam Ibnu 'Athaillah as-Sakandari]

Kesembuhan Kalbu Kenikmatan Taat





"Seringkali dirimu diminta untuk taat,
tetapi hatimu senantiasa merasa berat
kerana memang tidak mencintai ketaatan.
Kerana itu, yang pertama kali harus
kamu lakukan adalah mengubati kalbumu.
Apabila telah sembuh, nikmat cinta pun
akan datang dengan sendirinya.
Manisnya maksiat yang dulu dirasakan
akan ditemukan pada ketaatan."


[Imam Ibnu 'Athaillah as-Sakandari r.a.]


Allah Di Hatinya





Sabda Al-Musthafa,
Rasulullah Sallallahu 'Alaihi Wasallam:
"Siapa yang ingin mengetahui kedudukannya di sisi Allah,
hendaklah dia mengamati bagaimana kedudukan Allah dalam dirinya.
Sesungguhnya Allah menempatkan hamba-Nya
dalam kedudukan sebagaimana dia
menempatkan kedudukan Allah pada dirinya."

[Riwayat Al Hakim]


Sayyidina wa Habibina,
Rasulullah Sallallahu 'Alaihi Wasallam bersabda:
"Sesungguhnya Allah Ta'ala tidak memandang rupa parasmu
dan tidak pula pada kedudukan mahupun harta kekayaanmu,
tetapi Allah memandang pada hatimu.
Barangsiapa memiliki hati yang soleh maka Allah menyukainya.
Bani Adam yang paling dicintai Allah ialah yang paling bertaqwa."

[Riwayat Ath-Thabrani dan Muslim]


Daripada Mu’adz bin Jabal r.a., beliau berkata:
“Aku mendengar Rasulullah Shalallaahu alaihi wasalam bersabda,
Allah Tabaraka wa Ta’ala berfirman:
“Wajib mendapatkan kecintaan-Ku
orang-orang yang saling mencintai kerana Aku,
dan yang saling berkunjung kerana Aku,
dan yang saling berkorban kerana Aku.”

[Riwayat Ahmad]


Menerangi & Diterangi Cinta




"Tahukah kamu, apa cinta itu?
Semuanya tentang mengasihani, suka memberi (kebaikan).
Kecelaruan tersingkap tika kamu keliru
antara (pemuasan) nafsu dan (ketulusan) cinta,
sedang jarak antara keduanya tak berjeda."

[Maulana Jalaluddin Ar-Rumi]



"Cinta adalah sentiasa berpaling kepada Sang Kekasih
dengan hati yang merasa kerana cinta.
Cinta bererti mengutamakan sang Kekasih
di atas semua yang dikasihi.
Cinta bererti bahawa si pencinta menyesuaikan diri
dengan keinginan Sang Kekasih,
baik dia hadir di sisi-Nya ataupun berada jauh dari-Nya."

[Imam Al-Qusyairi]

September 08, 2010

Do You Love Me?




Do You Love Me?

A lover asked his beloved,
Do you love yourself more
than you love me?


The beloved replied,
I have died to myself
and I live for you.


I’ve disappeared from myself
and my attributes.
I am present only for you.


I have forgotten all my learning,
but from knowing you
I have become a scholar.


I have lost all my strength,
but from your power
I am able.


If I love myself
I love you.
If I love you
I love myself.

____

Jalaluddin Rumi


You And I




You and I

Happy is the moment, when we sit together,
With two forms, two faces, yet one soul,
you and I.

The flowers will bloom forever,
The birds will sing their eternal song,
The moment we enter the garden,
you and I.

The stars of heaven will come out to watch us,
And we will show them
the light of a full moon –
you and I.

No more thought of "you" and "I."
Just the bliss of union –
Joyous, alive, free of care, you and I.

All the bright-winged birds of heaven
Will swoop down to drink of our sweet water –
The tears of our laughter, you and I.

What a miracle of fate, us sitting here.
Even at the opposite ends of the earth
We would still be together, you and I.

We have one form in this world,
another in the next.

To us belongs an eternal heaven,
the endless delight of you and I.

____

Jalaluddin Rumi





September 01, 2010

Syarah Hikam: Hakikat Ubudiah










Jika engkau berkeyakinan bahwa engkau sampai kepada-Nya hanya setelah lenyapnya semua keburukanmu dan sirnanya semua hasratmu, maka engkau selamanya tidak akan sampai kepada-Nya. Akan tetapi, jika Dia menghendakimu sampai kepada-Nya, Dia akan menutupi sifatmu dengan sifat-Nya, watakmu dengan watak-Nya. Dia membuatmu sampai kepada-Nya dengan kebaikan yang diberikan-Nya kepadamu, bukan dengan kebaikanmu.

Banyak sekali dalil agama yang menunjukkan bahwa amal saleh adalah jalan ke surga, sedang amal buruk adalah jalan ke neraka. Allah telah menjanjikan surga naim bagi kaum mukmin dan mengancam orang-orang durhaka dengan neraka jahim. Allah menolak mempersamakan dua kelompok itu dalam balasan, sebab itu tidaklah adil.

Sesungguhnya bagi orang-orang yang bertakwa (disediakan) surga-surga yang penuh kenikmatan di sisi Tuhannya. Maka apakah patut Kami menjadikan orang-orang Islam itu sama dengan orang-orang yang berdosa (orang kafir)? Mengapa kamu (berbuat demikian), bagaimanakah kamu mengambil keputusan? (Q.S. al-Qalam [68]: 34-36).


Allah memberitakan bahwa nikmat yang dirasakan oleh ahli iman yang beramal saleh itu kekal, tidak berubah.


Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal-amal saleh, bagi mereka surga-surga yang penuh kenikmatan. Kekal mereka di dalamnya, sebagai janji Allah yang benar (Q.S. Luqmân [31]: 8-9).

Dia memberitakan bahwa orang-orang fasik dan kafir mesti merasakan azab yang menyakitkan.

Lemparkanlah olehmu berdua ke dalam neraka semua orang yang sangat ingkar dan keras kepala, yang sangat enggan melakukan kebaikan, melanggar batas lagi ragu-ragu, yang menyembah sesem¬bahan yang lain beserta Allah. Maka lemparkanlah dia ke dalam siksaan yang sangat. Yang menyertai dia berkata (pula), “Ya Tuhan kami, aku tidak menyesatkannya, tetapi dialah yang berada di kesesatan yang jauh.” Allah berfirman, “Janganlah kamu bertengkar di hadapan-Ku, padahal sesungguhnya Aku dahulu telah memberi¬kan ancaman kepadamu.” Keputusan di sisi-Ku tidak dapat diubah dan Aku sekali-kali tidak menganiaya hamba-hamba-Ku (Q.S. Qâf [50]: 24-29).


Ayat-ayat ini, juga ratusan ayat lainnya, menunjukkan dengan jelas bahwa manusia sendirilah yang menentukan tempat kembalinya. Tangannya sendirilah membuat jalan untuk masa depannya. Takdir Tuhan tidak pernah membawa manusia ke negeri pembalasan dalam keadaan hina.

Yang manusia petik di akhirat adalah hasil dari yang mereka tanam di dunia. Kalau ada yang menyatakan pendapat selain pendapat ini, orang itu kalau tidak bodoh tentang Islam pastilah mengada-ada ajarannya.

Akan tetapi, di antara kesempurnaan amal saleh adalah harus sesuai dengan ketentuan dan tidak melampaui batasan-batasannya. Orang yang beranggapan bahwa ibadah beberapa tahun di bumi merupakan tiket memperoleh kekekalan di langit, sebenarnya adalah orang yang gegabah. Orang yang mengira bahwa ketaatan yang dipersembahkannya begitu bersih dan sempurna, sebetulnya adalah orang yang tertipu. Orang yang menduga bahwa amal-amal wajib dan sunah yang dilakukannya lebih berat dari nikmat-nikmat yang diterimanya di dunia, sesungguhnya adalah orang yang sedang melucu.

Sebenarnya, Allah melihat niat baik dalam hati orang beriman kemudian memaafkan banyak kesalahan yang mereka lakukan secara tak sengaja, memaafkan segenap keterbatasan mereka, dan memperbanyak amal mereka yang tidak seberapa, sebagaimana memperbanyak hasil panen tanaman petani meski benihnya sedikit. Kalau tidak demikian, maka tak seorang pun akan merasakan lezatnya keselamatan.

Dan kalau saja bukan karena karunia Allah dan rahmat-Nya kepada kalian, maka Dia selamanya tidak akan menyucikan seorang pun dari kalian, tetapi Allah menyucikan siapa yang dikehendaki-Nya (Q.S. al-Nûr [24]: 21).


Tertipu oleh ilmu yang dimiliki adalah kehinaan yang menjatuhkan nilai amal. Jika seseorang berpinta kepada Allah agar mendekatkannya kepada-Nya atau memperbanyak ganjaran baginya sebab ia merasa telah mengerahkan usaha yang sungguh-sungguh untuk itu, maka sebenarnya ia tidak berhak mendapat sesuatu yang istimewa di sisi Allah.

Yang harus dilakukan oleh muslim adalah mempersembahkan sesuatu kepada Allah seraya mengakui kekurangan dirinya, meyakini bahwa hak Allah sedikit pun tidak bisa ditebus dengan amal terbaiknya, meyakini bahwa kalau saja Allah tidak menyelamatkannya dengan rahmat-Nya, pastilah ia akan binasa. Betapa pun ia telah menyerahkan jiwa dan harta untuk-Nya, itu belum cukup untuk memperoleh ganjaran. Bukankah Dia ada¬lah Pencipta jiwa dan Pemberi harta itu? Jika kemudian Dia memasukkannya ke dalam surga, bukankah itu karunia dari-Nya?

Lihatlah serentetan amal yang engkau lakukan sepanjang usiamu. Amal manakah yang luput dari kecacatan nafsu dan bebas dari kekurangan? Kalau amal-amal itu adalah amal orang lain, lalu diberikan kepadamu, tentu kamu tidak akan menerimanya. Seorang mukmin hakiki hanya beramal, tetapi tidak pernah berharap banyak ataupun mengagung-agungkan amalnya.

Barangkali uraian di atas bisa menafsirkan hadis Nabi yang cukup masyhur,
“Tak seorang pun yang akan masuk surga dengan amalnya.” Para sahabat berkata, “Tidak juga engkau, wahai Rasulullah?” Nabi menjawab, “Tidak juga aku, kecuali kalau Allah meliputiku dengan rahmat-Nya.” (H.R. al-Bukhârî).


Anehnya, banyak orang memahami larangan berbangga diri sebagai pengguguran nilai amal secara keseluruhan. Sehingga, muncul di benak mereka pemahaman seperti ini; amal tidak memasukkan pelakunya ke surga, maka tak perlu kita memerhatikan amal ataupun mengerahkan kesungguhan untuk beramal! Mereka memutuskan bahwa amal saleh bukan jalan menuju surga dan surga adalah pemberian Allah yang diberikan kepada orang yang dikehendaki-Nya, walau orang itu tidak beramal sama sekali. Bahkan, beberapa ahli kalam yang bodoh beranggapan bahwa orang-orang jahat bisa masuk surga dan orang-orang baik masuk neraka.

Itu adalah pemikiran yang mengada-ada, mendustakan Allah dan Rasul-Nya.

Dan itulah surga yang diwariskan kepadamu disebabkan amal-amal yang dahulu kamu kerjakan. Di dalam surga itu ada buah-buahan yang banyak untukmu yang sebagiannya kamu makan. Sesungguhnya orang-orang yang berdosa kekal di dalam azab neraka Jahanam. Tidak diringankan azab itu dari mereka dan mereka di dalamnya berputus asa. Dan tidaklah Kami menganiaya mereka, tetapi merekalah yang menganiaya diri mereka sendiri (Q.S. al-Zukhruf [43]: 72-76).


Ogos 24, 2010

Syarah Hikam: Introspeksi Diri







Bila engkau sakit hati karena orang-orang tidak menerimamu, ataupun mencelamu, maka kembalikanlah kepada ilmu Allah tentang dirimu. Jika engkau belum puas dengan ilmu-Nya, maka musibah yang menimpamu karena tidak puas dengan ilmu-Nya, lebih besar dari musibah yang menimpamu karena celaan orang-orang.

Hubungan seorang mukmin dengan Allah menjadi pangkal ketenangan maupun ketegangan dirinya, suka maupun dukanya. Sedangkan hubungannya dengan sesama manusia menempati urutan berikutnya dan tergantung kepada dorongan-dorongan hubungan yang pertama.

Pendapat manusia tentang suatu perkara tidak memastikan salah atau benarnya perkara itu. Pendapat mereka tentang seseorang juga tidak menentukan tinggi rendahnya orang itu. Opini publik kerap kali memunculkan desas-desus yang perlu diklarifikasi dan dicek kebenarannya. Sedikit sekali isu yang diliputi kejujuran dan kebenaran. Dalam situasi kritis yang memerlukan keberanian dan kepahlawanan, sangat sulit mencari orang-orang yang bisa jujur dan benar.

Ketika dijauhi dan dicela orang-orang, kaum saleh langsung mengingat ayat:

Dan jika kamu menuruti kebanyakan orang di muka bumi ini, niscaya mereka akan menyesatkanmu dari jalan Allah. Mereka tidak lain hanyalah mengikuti persangkaan belaka, dan mereka tidak lain hanyalah berdusta (terhadap Allah). Sesungguh¬nya Tuhanmu, Dia-lah yang lebih tahu tentang orang yang tersesat dari jalan-Nya dan Dia lebih tahu tentang orang-orang yang mendapat petunjuk (Q.S. al-An‘âm [6]: 116-117).

Motif gerak seorang mukmin berasal dari hati nurani, dan tujuannya mencapai rida Allah semata. Ia tak ambil pusing apakah orang-orang menjauhi dan mencelanya, atau mendekati dan memujinya.

Walaupun kita sangat terikat dengan masyarakat di mana kita tinggal, mau tidak mau, suka tidak suka, kita mesti tetap tegar dalam pendirian di tengah pujian atau celaan yang diarahkan kepada kita.

Adalah hak seseorang untuk tidak membiarkan keutamaannya berubah menjadi kehinaannya, ketika dia tidak memperoleh penghargaan semestinya. Adalah hak seseorang untuk membela diri dari komentar jelek yang diarahkan kepadanya, dari tuduhan orang-orang yang ingin meruntuhkan harga dirinya. Adalah haknya juga, ketika dia menjadi sumber isu, untuk menjaga pamor dirinya agar tidak redup, dan untuk menjadikan dirinya sebagai teladan yang baik.

Oleh karena itu, hubungan seseorang dengan sesamanya harus dijelaskan dengan agak detail. Sesungguhnya menampakkan kebaikan di tengah manusia, dan terang-terangan menjalankan kewajiban dan syiar agama, adalah tidak mengapa.

Jika kamu menampakkan sedekah-(mu), maka itu adalah baik sekali. Dan jika kamu menyembunyikannya dan kamu berikan kepada orang-orang fakir, maka menyembunyikan itu lebih baik bagimu (Q.S. al-Baqarah [2]: 271).

Usaha seseorang untuk menjaga nama baiknya agar tidak tercemar adalah sesuatu yang wajar. Nabi saw. sendiri pernah menyuruh berhenti beberapa orang yang melihat beliau berjalan bersama seorang perempuan. Lalu, beliau menerangkan kepada mereka bahwa beliau sedang berjalan bersama salah seorang istrinya. Ini beliau lakukan agar mereka tidak menuduhnya telah berbuat macam-macam, walaupun beliau seorang yang tidak pantas dituduh.

Jika seorang mukmin merasa bahagia karena terkenal sebagai pelaku kebaikan, itu wajar. Asal, perbuatan-perbuatan baik itu dia lakukan dengan niat ikhlas dan hati yang tulus. Para sahabat pernah bercerita kepada Rasulullah saw. tentang perasaan bahagia yang merasuki diri mereka ketika orang-orang memuji mereka atas amal baik yang mereka kerjakan karena Allah. Rasulullah bersabda, “Itu kabar gembira bagi orang mukmin di dunia” (H.R. Muslim). Kemudian beliau membaca ayat:

(Iaitu) orang-orang yang beriman dan selalu bertakwa. Bagi mereka berita gembira dalam kehidupan di dunia dan (dalam kehidupan) di akhirat. Tidak ada perubahan bagi kalimat-kalimat (janji-janji) Allah. Yang demikian itu adalah kemenangan yang besar (Q.S. Yûnus [10]: 63-64).

Memperoleh kemuliaan dan kedudukan di dunia adalah bagian dari rahmat Allah. Oleh sebab itu, Allah memberikannya kepada nabi-Nya, Muhammad saw., sehingga berfirman, “Dan Kami tinggikan bagimu sebutan (nama)-mu” (Q.S. al-Insyirah [94]: 4). Nabi Ibrâhîm pun memohon kepada Tuhan agar mengabadikan pujian baginya sepanjang zaman. Kata Ibrâhîm:

(Ibrâhîm berdoa), ‘Ya Tuhanku, berikanlah kepadaku hikmah dan masukanlah aku ke dalam golongan orang-orang yang saleh. Dan jadikanlah aku buah tutur yang baik bagi orang-orang (yang datang) kemudian (Q.S. al-Syu‘arâ’ [26]: 83-84).

Yang penting, seseorang dalam beramal harus didasari keikhlasan karena Allah semata, bukan untuk tujuan-tujuan duniawi atau popularitas. Kecintaannya kepada Allah haruslah mengalahkan dorongan-dorongan lainnya. Jika orang-orang memusuhinya, dia bisa tetap tegar berjalan menuju Tuhan tanpa rasa takut dan tak akan menyerah. Jika dia senang berhubungan dengan sesama, hendaknya itu dalam kerangka kerjasama dalam kebenaran, bukan untuk meraih maksud-maksud duniawi, mengumbar hawa nafsu, atau mengejar kepuasan-kepuasan sesaat.

Jika seseorang merasa orang-orang di sekitarnya berpaling darinya atau menjauhinya, maka perhatikanlah bagaimana hubungannya dengan Allah? Jika dirinya puas dengan hubungan itu, bahagia dengan ikatannya, tentulah dia tidak hiraukan ketidakpedulian orang-orang. Apalah artinya kebencian hamba dibanding dengan kerelaan Tuhan! Renungkan ucapan Hûd kepada kaumnya:

Hûd menjawab, “Sesungguhnya aku jadikan Allah sebagai saksiku dan saksikanlah olehmu sekalian bahwa sesungguhnya aku berlepas diri dari apa yang kamu persekutukan, dari selain-Nya, sebab itu jalankanlah tipu dayamu semuanya terhadapku dan janganlah kamu memberi tangguh kepadaku. Sesungguhnya aku bertawakal kepada Allah, Tuhanku dan Tuhanmu. Tidak ada suatu binatang melata pun melainkan Dia-lah yang memegang ubun-ubunnya (menguasainya sepenuhnya)” (Q.S. Hûd [11]: 54-56).

Sebaliknya, jika hubungannya dengan Allah rapuh, tentu musibah sejati yang dia rasakan adalah karena keretakan hubungannya dengan Allah itu, bukan karena keretakan hubungannya dengan sesama.[]


Ogos 10, 2010

Keindahan Perbuatan-Mu




“Semua perbuatan-Mu indah wahai Allah. Semua kenikmatan jika disyukuri akan dikurniakan nikmat yang lebih besar lagi, sebaliknya semua musibah yang diturunkan tidak lain tidak bukan adalah penghapusan dosa tanpa istighfar.”

Imam Al-Habib Abdullah Al-Haddad

Ogos 09, 2010

Nasihat, Du'a, Redha, 'Amal




"Jangan pernah berhenti mendengar nasihat, kerana hati akan buta apabila kehilangan nasihat."

"Orang yang tak dapat mengambil nasihat kematian tidak dapat dinasihati dengan apapun."
"Wahai anak muda, pasanglah jaring-jaring du'a, kembalilah pada redha. Janganlah kamu berdu'a dengan lidah, sedangkan hatimu berpaling."

"Janganlah kamu (seakan-akan menjadi) gila. Ilmu itu tidak akan berguna bagimu jika tanpa amal. Kamu harus beramal hitam di atas putih. Ia adalah hukum Allah swt. yang harus kamu ikuti hari demi hari, tahun demi tahun, sampai kamu mendapatkan buahnya."


Syeikh Abdul Qadir al-Jailani

Ogos 07, 2010

Nasihatilah Beserta Kesucian dan Kekuatan






"Diriwayatkan dari Hasan al-Basri rah.a., dia berkata: 'Nasihatilah manusia dengan ilmu dan ucapanmu.' Wahai pemberi nasihat, nasihatilah manusia dengan kesucian nuranimu dan kekuatan hatimu. Jangan kamu nasihati mereka dengan kebaikan lahirmu, sedangkan hatimu buruk."

"Duhai anak, kembalilah kepada Tuhanmu dengan hatimu. Kamu hanya senang bercerita tentang keadaan orang soleh dan berangan-angan mendapatkannya. Kamu seperti orang yang menadah air, kemudian membukanya; maka kamu tidak akan menemui sesuatupun yang tertinggal di tanganmu. Celaka kamu, melamun itu lembah kebodohan. Nabi s.a.w. bersabda: 'Janganlah kamu hanya mengelamun, kerana itu adalah lembah kejahilan.' "

Syeikh Abdul Qadir Al-Jailani

Ogos 06, 2010

Jagalah Batin dan Zahirmu





"Jagalah batinmu dengan merasakan kehadiran Allah, dan jagalah lahirmu dengan mengikuti sunnah (Rasulullah s.a.w.)."

"Kebaikan itu adalah dalam menghadap kepada-Nya, dan keburukan itu adalah kerana berpaling dari-Nya. Setiap amal yang kamu harapkan upahnya adalah untukmu, dan setiap amal yang dilakukan kerana Dia bererti untuk-Nya. Jika kamu beramal dan meminta ganti, maka balasannya adalah makhluk. Jika kamu beramal untuk mencari redha Allah swt., balasannya adalah kedekatanmu dengan-Nya dan memandang kepada-Nya, kemudian kamu tidak akan meminta ganti atas semua amalmu. Apalah ertinya dunia, akhirat, dan segala sesuatu selain Dia, jika dibandingkan dengan Dia?"

Syeikh Abdul Qadir Al-Jailani