April 19, 2009

Faham dan Ma'na Kebahagiaan



"Kesejahteraan" dan "kebahagiaan" itu 
bukan dianya merujuk kepada 
sifat badani dan jasmani insan, 
bukan kepada diri hayawani sifat basyari; 
dan bukan pula dia 
suatu keadaan akal-fikri insan 
yang hanya dapat dinikmati 
dalam alam fikiran dan nazar-akali belaka. 


Kesejahteraan dan kebahagiaan itu 
merujuk kepada keyakinan diri 
akan Hakikat Terakhir yang Mutlak 
yang dicari-cari itu — yakni: 

keadaan diri yang yakin akan Hak Ta'ala 
— dan penunaian amalan 
yang dikerjakan oleh diri itu 
berdasarkan keyakinan itu 
dan menuturi titah batinnya;


dan keyakinan adalah suatu keadaan diri 
yang kekal berada dalam diri insan 
dan yang merujuk pula kepada sesuatu 
yang kekal tentang diri insan itu 


— dan sesuatu yang kekal 
tentang diri insan itu 
dikenalinya dengan nazar 
serta rasa batinnya 
sebagai suatu 
alat hidup ruhani 
yang digelar kalbu. 


Maka kesejahteraan dan kebahagiaan itu adalah 
keyakinan yang kekal mesra menetap dalam kalbu insan; 
dia itu keamanan dan kedamaian dan ketenteraman kalbu; 


dia itu ilmu, 
dan ilmu itu keimanan 
dan dalam keadaan beriman; 


dia itu juga ilmu yang memberi tahu 
tentang tempat yang wajar 
dan keadaan yang tepat, 


keadaan yang benar 
dan betul bagi diri insan 
dalam Rencana pelbagai martabat 
Alam Makhluk jelata; 


dan tempat yang wajar 
serta keadaan yang tepat 
dan benar dan betul 


bagi diri itu adalah tempat dan keadaan 
yang bernisbah kepada Khaliqnya: 


dia itu suatu keadaan 
yang dikenali sebagai 'adl — yakni : 
keadilan.







[-] Prof S.M. Naquib al-Attas, Faham Agama dan Asas Akhlak (Kuala Lumpur: ABIM, 1977) ms. 48-49   



A Call From The Unseen



A baby pigeon on the edge of the nest
hears the call and begins his flight.
How can the soul of the seeker not fly 
when a message arrives saying,
“You have been trapped in life like a bird 
with no wings,
in a cage with no doors or windows
come, come back to Me!”
How can the soul not rip open its coverings,
and soar to the sky.
What is the rope that pulls the soul from above?
What is the secret that opens the door?
The key is the flutter of the heart’s wings
and its endless longing.
When the door opens, walk on the path
where abundance awaits you,
where everything old becomes new
and never look back.
Drink from the hands of the wine bearer
and you will be blessed
even in this life.





Maulana Jalaluddin Rumi

credits: photo 1, photo 2 


April 18, 2009

Let Us Begin The Journey Home



Wake up lovers, it is time to start the journey!
We have seen enough of this world, it is time to see another.

These two gardens may be beautiful but
let us pass beyond them and go to the Gardener.

Let us kiss the ground and flow like a river
towards the ocean.

Let us go from valley of tears to the wedding feast,
let us bring the color of blossoms to our pale faces.

Our hears shiver like autumn leaves about to fall,
in this world of dust there is no avoiding pain or feeling exiled.

Let us become like beautiful colored birds
and fly to the sweet land of paradise.

Everything is painted with the brush of the Invisible One
let us follow the hidden signs and find the Painter.

It is best to travel with companions
on this perilous journey only love can lead the way.

We are like rain splashing on a roof
let us find our way down the spout.

We are like an arched bow with the arrow in place
let us become straight and release the arrow towards the target.

We have stayed at home like scared mice
let us find courage and join the lions.

Let our souls turn into a mirror
longing to reflect the essence of Beauty.

Let us begin the journey home.




Maulana Jalaluddin Rumi
Divan of Shams, 1713


April 16, 2009

Fly To The Sky


Look at Love...
how it tangles
with the one fallen in love.


You know what love is?
It is all kindness, generosity.
Disharmony prevails when
You confuse lust with love, while
The distance between the two
Is endless.


Your task is not to seek for love, 
but merely to seek and find all the barriers 
within yourself that you have built against it.


Reason is powerless 
in the expression of Love. 
Love alone is capable of revealing 
the truth of Love and being a 
Lover. The way of our prophets is 
the way of Truth. If you want to live, 
die in Love; die in Love if you 
want to remain alive. 


Let the beauty of what you love 
be what you do.


Let yourself be silently drawn 
By the stronger pull 
Of what you really love.


This is love: to fly toward a secret sky, 
to cause a hundred veils to fall each moment. 
First to let go of life. Finally, to take a step without feet.





Maulana Jalaluddin Rumi


Wings of Desire



People are distracted by objects of desire,
and afterwards repent of the lust they’ve indulged,
because they have indulged with a phantom
and are left even farther from Reality than before.


Your desire for the illusory could be a wing,
by means of which a seeker might ascend to Reality.


When you have indulged a lust, 
your wing drops off;
you become lame, 
abandoned by a fantasy.


Preserve the wing and don’t indulge such lust,
so that the wing of desire may bear you to Paradise.


People fancy that they are enjoying themselves,
but they are really tearing out their wings 
for the sake of an illusion.



Maulana Jalaluddin Rumi
Mathnawi III,
2133-2138


Hear My Story


Hidden from all
I will speak to you without words.
No one but you will hear my story
even if I tell it in the middle of the crowd.




Maulana Jalaluddin Rumi


A Secret Way



Never lose hope 
if the Beloved pushes you away,
if He shuts the door on you, don't go,
be patient and wait!
It is your patience that will 
draw Him back.
If He blocks all your roads,
be sure
He will show you a secret way
unknown to others. 





Maulana Jalaluddin Rumi


April 15, 2009

The Guest House



This being human is a guest house.
Every morning a new arrival.



A joy, a depression, a meanness,
some momentary awareness comes
as an unexpected visitor.

Welcome and entertain them all!
Even if they are a crowd of sorrows,
who violently sweep your house
empty of its furniture,
still, treat each guest honorably.
He may be clearing you out
for some new delight.

The dark thought, the shame, the malice.
meet them at the door laughing and invite them in.

Be grateful for whatever comes.
because each has been sent
as a guide from beyond.

Maulana Jalaluddin Rumi



April 13, 2009

Seek, And Unseek



Seek the wisdom
that will untie your knot
seek the path
that demands your whole being.

Leave that which is not, but appears 
to be
seek that which is, but is
not apparent.






Maulana Jalaluddin Rumi 
Rubai 106

Invisible Wound




This Love is a King
But his banner is hidden.
The Quran speaks the Truth
But its miracle is concealed.
Love has pierced with its arrow
The heart of every lover.
Blood flows but the wound is invisible.





Maulana Jalaluddin Rumi

 

April 06, 2009

He Said It



I said what about my eyes?
"Keep them on the road."
I said what about my passion?
"Keep it burning."
I said what about my heart?
"Tell me what you hold inside it?"
I said, pain and sorrow.
He said:



"stay with it."


Maulana Jalaluddin Rumi


April 05, 2009

Semakin Mencinta


Semakin kita mencinta, semakin kita
membuka hati kita. Tindakan tanpa 
disertai cinta dan niat hati yang tulus
tidak begitu bermakna, atau bahkan
sama sekali tak bermakna

Anshari

Dia Tempatmu Bergantung


Pertolongan Tuhan datang tak terduga,
tapi hanya untuk hati yang waspada.
Jangan gantungkan harapanmu
pada manusia,
sebab kau akan terluka
Gantunglah harapanmu pada Tuhan,
maka kau akan diselamatkan

Anshari

Mac 28, 2009

Pancaran Sanubari



Tak ada musuh yang tak dapat
ditaklukkan oleh cinta.
Tak ada penyakit yang tak dapat
disembuhkan oleh kasih sayang.
Tak ada permusuhan yang tak dapat
dimaafkan oleh ketulusan.
Tak ada kesulitan yang tak dapat
dipecahkan oleh ketekunan.
Tak ada batuan keras yang tak dapat
dipecahkan oleh kesabaran.

Semua itu haruslah berasal
dari hatimu.



Mawar Keagungan




"Istafti qalbak,
mintalah fatwa pada hatimu;

kebaikan adalah sesuatu
yang membuat hatimu tenang

dan keburukan adalah sesuatu
yang membuat hatimu gelisah."


Hadis Nabi


~~~


Hati kita adalah sumber cahaya batiniah,
inspirasi, kreativiti, dan belas kasih. Seorang mukmin sejati,
hatinya hidup, terjaga, dan dilimpahi cahaya.



Jika kata-kata berasal dari hati, ia akan masuk
ke dalam hati; jika ia keluar dari lisan, maka ia hanya
akan sampai ke pendengaran.



Hati memiliki mata, yang digunakan
untuk menikmati pemandangan alam ghaib

telinga, untuk mendengar
perkataan penghuni alam ghaib dan firman-Nya

hidung, untuk mencium wewangian ruhaniah,

dan mulut, untuk merasakan cinta,
manisnya keimanan, serta
lazatnya pengetahuan spiritual.



Ketika mata hati terbuka,
kita dapat melihat kenyataan yang tersembunyi
di balik penampakan luar dunia ini.

Ketika telinga hati terbuka,
kita mampu mendengar kebenaran yang tersembunyi
di balik kata-kata yang terucap.

Melalui hati yang terbuka,
sistem saraf kita dapat menyesuaikan dengan
sistem saraf orang lain, sehingga kita mengetahui
apa yang mereka fikirkan
dan bagaimana mereka akan bersikap.



"Dan kelak, di saat
begitu banyak jalan terbentang
di hadapanmu

dan kau tak tahu

jalan mana
yang harus kau tempuh,

janganlah memilihnya
dengan tergesa saja,
tetapi duduklah,
dan tunggulah sesaat.


Tariklah nafas dalam-dalam,
dengan penuh kepercayaan,
seperti saat kau bernafas
di hari pertamamu di dunia ini.



Jangan biarkan apapun
mengalihkan perhatianmu,
tunggulah dan tunggulah
lebih lama lagi.



Berdiam dirilah, tetap hening
dan dengarkanlah hatimu.


Lalu,
ketika hati itu bicara,
beranjaklah, dan

pergilah ke mana hati membawamu ..!"



"Istafti Qalbak!"
pesan Nabi.
Biarkan hatimu bicara.



~~~



Hanya dari Hati

Kau bisa menggapai langit

Mawar Keagungan

Hanya bisa ditumbuhkan dalam hati..


Jalaluddin Rumi


Mac 23, 2009

My Story


I was going to tell you my story 
but waves of pain drowned my voice. 
I tried to utter a word but my thoughts 
became fragile and shattered like glass. 
Even the largest ship can capsize 
in the stormy sea of love, 
let alone my feeble boat 
which shattered to pieces leaving me nothing 
but a strip of wood to hold on to. 
Small and helpless, rising to heaven 
on one wave of love and falling with the next 
I don't even know if I am or I am not. 
When I think I am, I find myself worthless, 
when I think I am not, I find my value. 
Like my thoughts, I die and rise again each day 
so how can I doubt the resurrection? 
Tired of hunting for love in this world, 
at last I surrender in the valley of love 
and become free.

Maulana Jalaluddin ar-Rumi



Mac 19, 2009

Menuju Kemuliaan-Ketaatan





"Apabila Allah 
hendak memindahkan hamba-Nya 

dari 
kehinaan-kekafiran 

menuju 
kemuliaan-ketaatan, 

Dia menjadikannya 

intim
dengan kesendirian,

kaya 
dengan kesederhanaan,

dan mampu
melihat kekurangan dirinya.

Barangsiapa yang 
dianugerahi semua ini,

bererti ia telah mendapatkan
yang terbaik di dunia dan akhirat."

Menjadi Danau



Seorang guru sufi mendatangi seorang muridnya ketika wajahnya kebelakangan ini selalu tampak murung.


“Kenapa kau selalu murung, nak? Bukankah banyak hal yang indah di dunia ini? Ke mana perginya wajah bersyukurmu?” sang Guru bertanya.


“Guru, kebelakangan ini hidup saya penuh masalah. Sulit bagi saya untuk tersenyum. Masalah datang seperti tak ada habis-habisnya,” jawab sang murid muda.


Sang Guru ketawa kecil. “Nak, ambil segelas air dan dua genggam garam. Bawalah ke mari. Biar kuperbaiki suasana hatimu itu.”


Si murid pun beranjak perlahan tanpa semangat.

Ia laksanakan permintaan gurunya itu, lalu kembali lagi membawa
gelas dan garam sebagaimana yang diminta.


“Cuba ambil segenggam garam, dan masukkan ke segelas air itu,”
kata Sang Guru. “Setelah itu cuba kau minum airnya sedikit.”

Si murid pun melakukannya. Wajahnya kini meringis karena meminum air masin.


“Bagaimana rasanya?” tanya Sang Guru.


“Masin, dan perutku jadi mual,” jawab si murid dengan wajah yang masih meringis.


Sang Guru tertawa perlahan melihat wajah muridnya yang meringis kemasinan.


“Sekarang kau ikut aku.” Sang Guru membawa muridnya ke danau di dekat tempat mereka. “Ambil garam yang tersisa, dan tebarkan ke danau.”


Si murid menebarkan segenggam garam yang tersisa ke danau, tanpa bicara. Rasa masin di mulutnya belum hilang. Ia ingin meludahkan rasa masin dari mulutnya, tapi tak dilakukannya. Rasanya tak sopan meludah di hadapan mursyid, begitu fikirnya.


“Sekarang, cuba kau minum air danau itu,” kata Sang Guru sambil mencari batu yang cukup datar untuk didudukinya, tepat di pinggir danau.


Si murid menangkupkan kedua tangannya, mengambil air danau, dan membawanya ke mulutnya lalu meneguknya. Ketika air danau yang dingin dan segar mengalir di tenggorokannya, Sang Guru bertanya kepadanya, “Bagaimana rasanya?”


“Segar, segar sekali,” kata si murid sambil mengelap bibirnya dengan punggung tangannya. Tentu saja, danau ini berasal dari aliran sumber air di atas sana. Dan airnya mengalir menjadi sungai kecil di bawah. Dan sudah pasti, air danau ini juga menghilangkan rasa masin yang tersisa di mulutnya.


“Terasakah rasa garam yang kau tebarkan tadi?”


“Tidak sama sekali,” kata si murid sambil mengambil air dan meminumnya lagi. Sang Guru hanya tersenyum memperhatikannya, membiarkan muridnya itu meminum air danau sampai puas.


“Nak,” kata Sang Guru setelah muridnya selesai minum. “Segala masalah dalam hidup itu seperti segenggam garam. Tidak kurang, tidak lebih. Hanya segenggam garam. Banyaknya masalah dan penderitaan yang harus kau alami sepanjang kehidupanmu itu sudah dikadar oleh Allah, sesuai untuk dirimu. Jumlahnya tetap, begitu-begitu saja, tidak berkurang dan tidak bertambah. Setiap manusia yang lahir ke dunia ini pun demikian. Tidak ada satu pun manusia, walaupun dia seorang Nabi, yang bebas dari penderitaan dan masalah.”


Si murid terdiam, mendengarkan.


“Tapi Nak, rasa ‘masin’ dari penderitaan yang dialami itu sangat tergantung dari besarnya qalbu yang menampungnya. Jadi Nak, supaya tidak merasa menderita, berhentilah jadi gelas. Jadikan qalbu dalam dadamu itu jadi sebesar danau.”


: : : : : : :


“Berkata (Musa), “Ya Tuhanku, lapangkanlah untukku dadaku,” (25)
“Dan mudahkanlah untukku urusanku.” (26).
[Q.S. 20 : 25 - 26]

“Tidaklah Allah membebani seseorang kecuali sesuai dengan kesanggupannya.” [Q.S. 2 : 286]



—
C a t a t a n :
Artikel di atas merupakan sebuah adaptasi
dengan versi terjemahan bebas Herry Mardian, dari
sebuah cerita berbahasa Inggeris yang diperolehnya di internet. Ini linknya.

Karya asal : 'Berhentilah Jadi Gelas', oleh Herry Mardian


Mac 11, 2009

Mutiara Guru Sejati Kepada Muridnya






"Jangan pernah menyimpan keragu-raguan 
seperti itu dalam diri kalian.
Keragu-raguan akan membunuh kebenaran, 
cinta, keyakinan, kasih sayang, dan kebersamaan
yang ada bersama kalian.
Kebodohan mudah saja dihalau oleh kebenaran,
tapi keragu-raguan amatlah sulit untuk disingkirkan."




"Ketika kalian telah mampu mengendalikan
pikiran-pikiran yang berkecamuk dalam akal,
maka kalian berhasil menapakkan kaki kalian 
di atas tanah.

Jika kita telah sanggup mengendalikan 
apa yang ada di atas kita dan membawanya ke bawah
kaki kita, barulah kita dapat mulai belajar."




"Bagaimana mungkin seorang yang belum memahami
apa yang ada dalam dirinya dapat merenung
tentang kebenaran?"




"Perbuatan apa pun yang berasal dari luar diri,
bukanlah perbuatan yang sesungguhnya.
Saya justru harus menemukan tempat di dalam diri ini
untuk dapat melakukan perenungan yang sejati."




"Kita harus membuka apa yang terselubung dalam jasad ini.
Inilah yang harus kita pelajari dari seorang yang suci yang 
telah memahami kebenaran. Kita harus mempelajari
hal ini dari seorang manusia suci, yang juga memiliki hati
yang suci.

Kalian harus memahami di mana letak tempat suci ini.
Kalau kalian mampu membangun semua ini dalam diri
kalian dan telah mampu mempersaksikan bukti akan
keberadaannya, maka saat itu, Kebenaran Sejati, Cinta,
Kasih Sayang, Ketenteraman dan iman akan kalian peroleh."




"Dalam perjalanan menuju Allah, hanya ada satu titik
yang harus kalian tuju, hanya ada satu hal yang harus
kalian dapatkan: Kebenaran yang sejati. Kalian harus memulai
perjalanan ini, dan kalian harus mampu membebaskan jiwa kalian.

Mereka harus terlebih dahulu menghayati kelelahan dan beratnya
menempuh kehidupan. Barulah setelah itu, dengan pengetahuan
dan tekad yang bulat, mereka akan melakukan usaha yang keras
untuk membersihkan jiwa mereka masing-masing."