Jun 30, 2009

Pengetahuan Diri




Dengan mengenali nafs kita sendiri, kita akan menemukan hubungan yang dalam dengan Tuhan kita. Dengan menelusuri tali penghubung ini, kita dapat menjangkau Tuhan.


ALLAH berfirman, “Mereka yang mensucikan nafs-nya akan menemukan keselamatan.” “nafs” bukanlah benda. Istilah dari bahasa Arab ini berkaitan dengan kata “nafas”, “jiwa”, “esensi”, “diri”, dan “sifat dasar”. Istilah ini merujuk kepada apa yang dihasilkan dari interaksi antara jasad dan ruh. Jasad terbuat dari “tanah”, sebuah kombinasi dari unsur-unsur material. Seperti juga ruh, nafs berasal dari Allah. Nafs mempunyai tujuh aspek atau tingkatan, yaitu nafs yang bersifat mineral, nafs yang bersifat tetumbuhan, nafs bersifat binatang, nafs bersifat manusia, nafs bersifat malaikat, nafs bersifat rahasia dan nafs bersifat yang rahasia dari segala rahasia.


Elemen-elemen tertentu dari nafs ini dapat ditingkatkan. Dan obat untuk ini terkandung dalam kitab-kitab suci serta ajaran-ajaran para nabi dan wali.


Mengapa nafs bisa memiliki kualitas-kualitas yang negatif atau yang tidak diharapkan? Apa lagi, ia tidak berasal dari bumi ini, melainkan dari level Singgasana (‘Arsy) Allah.

Nafs menjadi sosok yang “ada dalam pengasingan” saat ia memasuki jasad. Ia terpenjara di dalam raga. Raga kita mempunyai berbagai macam organ dan instrumen tubuh untuk bertindak, misalnya saja organ seksual kita. Sang raga sendiri tidak mempunyai daya nafsaniyyah untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan fisiknya. Nafs-lah yang mememiliki daya itu, namun sebaliknya, ia tidak memiliki organ atau instrumen untuk melakukan tindakan apa pun.



Ketika nafs menggunakan instrumen-instrumen raga ini dengan pemakaian yang buruk, maka barulah kita dapat berbicara tentang nafs yang tercemari oleh kualitas-kualitas buruk. Tidak ada sesuatu pun yang Allah ciptakan yang bersifat buruk. Kesalahan kita dalam menggunakanlah yang menjadikannya buruk. Contohnya, hasrat seksual adalah suatu hal yang wajar dan dibutuhkan untuk melestarikan keturunan. Ia juga menjadi cara untuk mengekspresikan cinta antara suami dan istri. Namun, ketika keinginan yang natural ini dibiarkan menjadi tidak terkendali, ia akan membawa kita kepada berbagai macam tindakan yang merusak.


Jadi, siapakah yang kelak harus bertanggung jawab untuk kelakuan buruk kita, apakah raga, atau nafs? Dikatakan bahwa pada Hari Perhitungan nanti, sang raga akan menyalahkan nafs dengan mengatakan, “Aku tidak mempunyai daya untuk bertindak.” lalu sang nafs pun akan menyalahkan raga dengan mengatakan “Aku tidak mempunyai alat untuk bertindak.” Pertengkaran mereka ini pun akan dijawab dengan sebuah parabel tentang seorang buta yang kuat, yang menggendong seorang lumpuh di punggungnya. Orang lumpuh ini memiliki baik penglihatan maupun kemampuan menilai baik atau buruk, dan ialah yang mengarahkan gerakan penggendong butanya itu. Jadi, siapakah yang bertanggung jawab? Dua-duanya bersalah.


Nafs itu sendiri tidaklah jahat. Jangan pernah menyalahkan nafs-mu. Bagian dari upaya tashawwuf adalah untuk mengubah tingkatan nafs-mu. Jenjang terendah adalah ketika berada dalam kondisi sepenuhnya terdominasi oleh keinginan dan hasrat-hasratmu. Jenjang berikutnya adalah melawan dirimu sendiri, dengan berupaya bertindak berdasarkan nalar dan nilai-nilai yang tinggi, dan mencari kesalahan dirimu sendiri ketika gagal. Dan jenjang yang lebih tinggi lagi adalah dengan berpuas hati atas setiap pemberian Allah kepadamu, apakah itu terasa nyaman atau tidak, memenuhi keinginan-keinginan fisik maupun tidak.


Seluruh jenjang nafs merupakan bagian dari dunia makhluk ciptaan ini. Mereka terpenjara dalam raga, terbuang atau terasing dari tempat asalnya.


Nafs dalam tingkat tertingginya, yang suci, bukanlah bagian dari ciptaan. Ia merupakan sebuah aspek dari atribut ilahiah, al-Hayy, yaitu Yang Maha Hidup, Yang Senantiasa Hidup. Engkau tidak bisa “menempatkannya”, entah itu di dalam atau di luar tubuh. Sementara nafs dalam tingkat-tingkatnya yang lain, seperti disebutkan di atas tadi, terletak di dalam jasad. Nafs yang murni merupakan bagian dari Yang Maha Tak-Terbatas. Oleh karena itu, ia tidak dapat ditaruh di dalam makhluk ciptaan lain yang manapun. Ia merupakan manifestasi langsung dari Yang Mahahidup.


Nafs memiliki sifat-sifat dasar maupun kualitas dari sebuah “ruh yang terjasadkan”. Allah berfirman, ”.. dan telah Kuhembuskan ke dalamnya (jasad Adam) (sesuatu yang berasal) dari ruh-Ku…”. (Q. S. Al Hijr [15]: 29; Shaad [38]: 72. –Ed.) Ini adalah aspek dari ruh yang dikurung dalam jasad, hingga kita mendengar kata-kata Sang Maut, “Kembalilah kepada Tuhanmu.” Sewaktu hal itu terjadi, nafs yang berada dalam jenjang-jenjang terendah ingin tetap berada di dalam jasad. Mereka tidak mau meninggalkannya ketika kematian datang. Mereka memberontak karena telah memiliki keterikatan kepada raga (dan sifat-sifat ragawi. –Ed.).


Lalu bagaimana dengan nafs dari para nabi dan wali? Tentu saja nafs mereka berbeda dengan kebanyakan kita. Nafs-nafs mereka lebih murni. Elemen-elemen keragaan mereka pun diambil dari tempat-tempat paling mulia, titik-titik tersuci di bumi. Raga mereka suci, sehingga saat nafs memasuki raga yang seperti itu ia sama sekali tidak terkotori.


Ada sebuah kata-kata terkenal, “Dia yang mengenal dirinya —sebenarnya tertulis “nafs”-nya—, akan mengenal Tuhannya” (“Man ‘Arafa nafsahu, Faqad ‘Arafa Rabbahu”) siapa yang mengenal nafs-nya akan mengenal Rabb-nya. (Al-Hadits). –Ed). Ada dua pengertian dari ungkapan ini. Yang pertama bahwa kita menjadi mampu mengenali segala kebutuhan, hasrat dan kelemahan kita, lalu juga menjadi mampu menyadari adanya suatu kuasa yang agung. Lalu kita mengerti bahwa kita butuh seorang pelindung: seorang yang menyediakan kita makanan, pakaian, dan melindungi kita di dunia ini. Yang kedua adalah penjelasan esoterisnya. Allah berfirman, “Aku lebih dekat kepadamu daripada urat lehermu sendiri.” (Q. S. Qaaf [50]: 16—Ed.). Dengan mengenali nafs kita sendiri, kita akan menemukan hubungan yang dalam dengan Tuhan kita. Dengan menelusuri tali penghubung ini, kita dapat menjangkau Tuhan.


Perjalanan kembali menuju Allah (taubat) ini hanya dapat diikuti oleh mereka yang hidup sesuai dengan ketentuan-ketentuan-Nya. Mereka yang tidak taat, atau malah mengikuti syaithan, akan dipisahkan.


Ada sesuatu yang menghubungkan kita dengan Allah. Walaupun Allah ada di atas semua permisalan, tapi seperti adanya jutaan bola lampu namun hanya satu yang disebut energi listrik. Setiap bola lampu berbeda-beda satu sama lain. Beberapa berkapasitas sepuluh watt, dan yang lainnya seratus watt. Kekuatan yang ada di balik mereka semua, sama. Atau, pikirkanlah seikat anggur. Mereka akan cepat menjadi busuk bila dipetik, tapi akan terus hidup bila dibiarkan di rantingnya. Ada sesuatu yang terus mengalir ke setiap butir anggur melalui rantingnya.


Segala sesuatu sebenarnya sama, dalam esensinya semuanya serba indah. Hanya atribut permukaan sajalah yang bisa membuat sesuatu menjadi buruk.


Jangan terikat kepada dunia. Saat keterpisahan dengan apa pun yang ada di dunia ini akan datang bersama maut. Sebelum engkau mati, engkau akan mendengar perintah, “Kembalilah kepada Tuhanmu.” Semua ikatan dengan dunia akan pergi dan engkau akan menemukan kebersamaan dengan Allah.


: : : : : : : :


Raja Sulaiman a.s. adalah seorang penguasa yang paling kaya dan berkuasa, dan juga merupakan salah seorang Nabi terbesar di zamannya. Walaupun beliau memiliki kekuasaan yang sangat besar dan kekayaan yang tiada bandingannya, segala kepemilikan itu sama sekali tidak menjadi perhatiannya. Ia memandangnya tidak lebih dari beban dan sumber masalah.


Setiap hari beliau mengunjungi burung kakaktua miliknya. Suatu hari, burung itu terlihat sangat sedih. Burung itu sedang rindu kampung halamannya.


Omong-omong tentang kakaktua, seekor kakaktua yang mempunyai hafalan kosakata yang luar biasa banyaknya suatu hari laku dilelang di Istanbul seharga dua ribu keping mata uang. Nasruddin Hoja rah. (Nashruddin Hoça, 1208 – 1284 M, yang sering memberi pengajaran melalui lelucon) melihat hal ini dan terhenyak. Keesokan harinya dia pun membawa kalkunnya yang besar dan buruk rupa ke pasar. Penawaran tertinggi untuk kalkunnya itu hanyalah senilai enam keping saja. Ia berteriak meminta mereka menawar kalkunnya lebih tinggi, karena kalkun miliknya jauh lebih besar daripada burung yang kemarin laku terjual seharga dua ribu keping. Seseorang membalas berteriak, “Kemarin itu burung yang bagus sekali, dan bisa bicara seperti manusia!” Nasruddin menjawab, “Yang ini juga burung yang bagus sekali, dan bisa berpikir seperti manusia!”


Kita kembali ke cerita kakaktua Nabi Sulaiman a.s.. Untuk mengobati rasa rindu si kakaktua, Raja Sulaiman mengabulkan permintaannya untuk pulang ke negerinya. Perjalanan ke sana membutuhkan waktu satu bulan untuk berangkat dan satu bulan lagi untuk kembali, karenanya Raja Sulaiman memberinya waktu tiga bulan untuk “cuti”. Beliau mengingatkan kakaktua itu untuk kembali “berdinas” tepat waktu, atau ia akan mengutus angin atau jin untuk menyusulnya.


Si kakaktua pun pulang ke negerinya, dan di sana dia melewatkan waktu yang membahagiakan, berkumpul kembali bersama keluarga dan sahabat-sahabatnya. Waktu berlalu begitu cepat. Kau tahu, waktu satu malam itu hanya terasa sesaat bagi sepasang kekasih; tetapi untuk orang yang sedang sakit gigi, satu malam itu bisa terasa tak ada akhirnya.


Pada saat kakaktua akan berangkat, keluarganya membekalinya satu botol kecil berisi air keabadian, sebuah hadiah yang layak dan sesuai untuk seseorang seperti Raja Sulaiman a.s.. Kakaktua mengikatkan botol itu ke sayap kanannya dan ia pun berangkat. Ia pun kemudian menyerahkan hadiah dari keluarganya itu kepada Sulaiman a.s..


Sang Nabi meminta pertimbangan dari para penasihatnya. Ia ingin tahu apakah dia sebaiknya meminum air kehidupan abadi itu atau tidak. Seluruh dewan yang hadir di majelisnya—manusia, hewan dan jin—berkata, “Ya. Kami ingin agar engkau menjadi penguasa kami untuk selamanya.” Seluruhnya, kecuali seekor burung hantu yang berkata, “Sebelum engkau meneguknya, datanglah ke sebuah gua yang akan kutunjukkan padamu dan lihatlah siapa yang ada di sana.”


Raja Sulaiman a.s. pergi ke gua itu, dan di sana menemukan seorang lelaki tua yang tengah meratap agar segera didatangkan maut kepadanya. Burung hantu mengatakan kepada Sang Nabi bahwa lelaki itu pernah mencicipi air keabadian sehingga ia tidak bisa mati.


Siaplah untuk pergi ketika saatnya telah datang. Tidak ada seorang pun yang mau menanggung penderitaan sakit dan kelumpuhan yang tidak pernah berkesudahan. Dan tidak ada derita yang lebih memilukan daripada menyaksikan anak-anak keturunanmu mati dan meninggalkanmu sendirian.


Ketika Nabi Sulaiman a.s. berdiri tertegun memikirkan yang harus diperbuatnya dengan botol itu, malaikat Jibril a.s. datang dan membanting botol itu ke tanah hingga pecah.***


Dikutip dari buku Cinta Bagai Anggur.

Cover CBA

: : : : : : : :
Judul: “Cinta Bagai Anggur: Tuangan Hikmah Dari Seorang Guru Sufi di Amerika.”
Karya: Syaikh Muzaffer Ozak, dikompilasikan oleh Syaikh Ragip Frager
Alih bahasa: Nadia Dwi Insani, Herry Mardian, Herman Soetomo
Penerbit: Pustaka Prabajati
17 x 23 cm, 202 hal.
ISBN: 978-979-15115-0-6
Harga: Rp. 48.000,- (RM17)

Bisa dipesan di sini.


2 ulasan:

Nur berkata...

Salam,

Kalau di Malaysia, boleh kah didapati buku2 ini ? Yang versi Indonesia?

Ibnu Abas berkata...

Wa'alaikumussalam Kak Nur,

Di Malaysia masih belum ada, setahu saya. Saya sudah cadangkan pada Fajar Ilmu Baru Enterprise, pengimport dan pembekal buku-buku agama dari Indonesia; agar menambahkan judul ini dalam kedai buku mereka di Wisma Yakin Jalan Masjid India itu. Apapun masih belum dapat responnya lagi.


Terbaru, menurut khabar dari teman saya di Indonesia, buku 'Cinta Bagai Anggur' sudah kehabisan stok lantaran penerimaan pembaca yang amat baik.

Pertanyaan lain boleh lanjutkan kepada

1. Ahmad
+62 856 200 32 97
nurahmadhidayat@gmail.com

2. Apuy
+62 856 240 67 250
pustaka.prabajati@gmail.com
nanangsobari@yahoo.com

dari Toko Buku Tasawuf.


Moga Allah permudahkan.