Disember 31, 2008

Hijrahlah dengan Sabar dan Tawakkal





Orang-orang yang hijrah
dalam keredhaan Allah,
sesudah mereka teraniaya,
sesungguhnya Kami tempatkan
mereka di dunia di negeri yang baik.
Sesungguhnya pahala akhirat lebih besar,
jika mereka tahu; iaitu orang-orang yang
sabar dan kepada Tuhan mereka bertawakkal.

[QS An-Nahl : 41-42]

Disember 19, 2008

Niat



Banyak pekerjaan biasa bisa menjadi tabungan amal baik karena terbungkus niat yang bagus, sebagaimana banyak kewajiban menjadi tak bernilai karena terhias niat yang tak lurus.


Izza Rohman Nahrowi
Dan Allah Maha Pengampun

Asa



Putus asa di hadapan begitu kelamnya masa silam yang penuh khilaf, bisa berarti kelalaian bahwa Allah Maha Pemurah dan Maha Pemaaf.


Izza Rohman Nahrowi
Dan Allah Maha Pengampun

Inti Kebaikan



Mengingat Allah adalah inti perbaikan hubungan dengan Allah, sementara menolong orang-orang susah adalah inti perbaikan hubungan sesama manusia.

Izza Rohman Nahrowi
Dan Allah Maha Pengampun

Pintu



Bertobat sama saja dengan mengetuk pintu ampunan Allah. Akan tetapi, "Kapankah kiranya pintu tersebut ditutup sehingga harus diketuk?"


Izza Rohman Nahrowi
Dan Allah Maha Pengampun

Disember 16, 2008

Munajat Faqir





Ya Allah,
kini kubersimpuh di hadapan-Mu.

Sesal dan insafku mengucur
di sekujur tubuhku.
Aku malu dengan pelan
mengetuk pintu-Mu. Ya Allah,
kapan kiranya pintu itu ditutup
sehingga harus kuketuk?


Duhai Rabbi, mengapa pertobatan
tak kunjung memadai aku lakukan?
Duhai Rabbi, mengapa kemaksiatan
terus berulang aku lakukan?
Duhai Rabbi, mengapa ketaatan
tak mencegahku dari kemungkaran?
Ya Rabbi, daku mohon ampunan-Mu
atas seluruh sikap kurang-ajarku.


Duhai Yang Maha Mendengar
lagi Maha Melihat,
kurangnya ilmuku mohon tidak
menghalangi ampunan-Mu.
Kurangnya amalku mohon tidak
menghalangi pemberian-Mu.
Dan kurangnya keikhlasanku
mohon tidak menghalangi kasih-Mu.


Ya Allah, izinkan hamba-Mu ini untuk
meyakini keluasan rahmat-Mu,
sekalipun telah menumpuk maksiatku.
Jadikanlah ingatan akan karunia-Mu
benar-benar modal bagiku untuk
tidak berputus asa,
sekalipun di tengah berat dan
sempitnya suasana.


Ya Allah, perkenanlah hamba-Mu
menaruh harapan pada luasnya rahmat-Mu
agar kami berlayar di samudera keridaan,
terhindar dari setan-setan yang menyesatkan,
menjauh dari pikuk daratan kemaksiatan.


Ya Allah, ampunilah dosa-dosa
hamba-Mu ini. Juga dosa-dosa orang
yang pernah berbuat baik kepadanya.
Juga dosa-dosa orang yang
pernah dia aniaya.
Juga dosa-dosa orang yang pernah
menyediakan ladang amal baginya.

Penyesalan




Tak akan berguna penyesalan sebelum memutar turbin-turbin semangat perbaikan. Tiadalah ratapan itu berfaedah hingga membulatkan tekad untuk berubah.

Izza Rohman Nahrowi
Dan Allah Maha Pengampun

Tertindaskah Iman?





Allah memerintahkan hamba-Nya untuk mengesakan-Nya baik melalui perkataan, perasaan, maupun perbuatan. Barang siapa (berbuat) demikian, ia benar-benar telah menyadari bahwa Dia Maha Esa. Hatinya tenteram dengan pengetahuan itu, perkataannya mencerminkan kebenaran dalam hatinya, serta ia terpicu dan terpacu untuk berbuat baik. Singkatnya, ia telah benar-benar beriman. Semua ini (pengesaan melalui perasaan, perkataan dan perbuatan) terjadi secara bersamaan pada diri seorang hamba. Tetapi, Allah menjadikan syahwat dan hawa nafsu sebagai bagian dalam diri manusia, serta menciptakan setan yang selalu mengembuskan keraguan dalam hati manusia dengan bujuk rayu yang mengalir bagai darah dan menyesap bak ikan dalam laut.


Allah menjadikan hati sebagai penguasa tubuh dan hawa nafsu sebagai penggerak tubuh serta pembawa kerancuan kepada kalbu. Setan selalu membujuk, membisik dan menggoda hati. Hawa nafsu menanggapi dan tertarik dengan bisikan itu, tetapi hati mukmin tetap tenang dengan imannya dan kalimat tauhid selalu menghiasi lidahnya.


Ketika tiba waktu menunaikan kewajiban, hawa nafsu datang menggoda dan setan pun melancarkan bisikan, sehingga jiwa cenderung mengikuti godaan hawa nafsu. Akibatnya, seseorang melakukan perbuatan orang yang tidak beriman, padahal hati dan lidahnya masih menyimpan keimanan kepada Allah Swt. Ia dikalahkan syahwat. Kezaliman hawa nafsu dan tipu daya setan telah mengalahkan hati kendatipun tidak mengubah pengetahuan di dalamnya. Hati sebenarnya tetap cenderung kepada keimanan, tetapi ia terpenjara dan tertindas. Hati selamanya dikendalikan oleh sesuatu yang menguasainya.



Al-Hakim Al-Tirmidzi
Adab al-Nafs
The Wisdom of Al-Hakim Al-Tirmidzi

Terang Cahaya Lentera




Allah Swt. menyeru Anda untuk berpegang teguh pada agama-Nya dalam memerangi hawa nafsu. Anda sepatutnya bersungguh-sungguh dalam berjuang, sebab Dia tidak hanya memberi motivasi, tetapi juga menjanjikan (keselamatan dan) kemenangan:


"Dia adalah Pelindungmu. Maka Dialah sebaik-baik Pelindung dan sebaik-baik Penolong."
[QS Al-Hajj (22) : 78]


Kalau Anda tidak berpegang teguh pada agama Allah, nafsu dengan mudah memperdayaimu. Bila Anda terperdaya, pertolongan takkan pernah datang. Jika pertolongan tidak datang, sementara Anda dalam peperangan melawan hawa nafsu, Anda takkan menang. Musuh menyerang dengan panah syahwat dan hawa nafsu, dan Anda harus membalas dengan kliat ma'rifat dan akal sihat.


Bagaimana itu bisa Anda lakukan, kalau ma'rifat dan akal sihat terkurung dalam hati, sementara hawa nafsu dan syahwat berdiri di luar hati menjadi penghalang antara hati dan Tuhan?


Hawa nafsu dan syahwat menutupi telinga dan mata hatimu, memenjarakan isi hati, dan (dengan cara itu) mengalahkan hati. Hati tak ubahnya seperti lentera dalam wadah tertutup. Bagaimana mungkin lentera itu menerangi rumah jika cahayanya terhalang?


Apabila wadah itu dihancurkan, barulah benda-benda dalam rumah terlihat, baik yang berbahaya maupun yang bermanfaat. Kala jiwa bergolak, lalu Anda berpegang teguh dengan agama Allah, Anda pasti sedar bahwa Anda takkan sanggup meredam gejolak tanpa bantuan-Nya. Dialah yang akan membantu dan menolongmu. Bagaimana mungkin Dia tidak menolong sedangkan Dia menyuruhmu untuk membaca:

"Hanya kepada-Mu-lah kami menyembah dan hanya kepada-Mu-lah kami meminta pertolongan."
[QS Al-Fatihah (1) : 5]


Allah Swt. memerintahkan Anda untuk mengucapkan ayat tersebut, karena Dia pasti menolong:

"Atau siapakah yang menjawab (du'a) orang yang dalam kesulitan ketika ia berdu'a kepada-Nya dan siapakah yang menghilangkan kesulitan?"
[QS An-Naml (27) : 62]


Mahasuci Allah untuk tidak menolongmu bila engkau benar-benar memohon kepada-Nya.




Al-Hakim Al-Tirmidzi
Adab al-Nafs
The Wisdom of Al-Hakim Al-Tirmidzi

Disember 14, 2008

Menuai Hasil dari Bumi Gersang




Seorang ahli hikmah pernah berbicara:

"Bukanlah diharapkan dari awan mendung yang mendatang itu, sekadar turunnya air hujan yang melimpahi bumi, tetapi apa yang dikehendaki ialah berbuahnya pohon-pohon dari bumi yang gersang."

Beristirahat dari Kelelahan Hati





"Dibandingkan dengan kepenatan badan, kita lebih perlukan perlindungan Allah dari kepenatan hati. Sebab, hati akan merasa lelah oleh kerasnya usaha mencari rezeki dan tercurahnya seluruh perhatian kepadanya. Akibatnya, hati terbebani oleh itu semua.

Hati hanya bisa menjadi lapang dan istirah (berehat) ketika ia bersandar kepada Allah Swt. Hati orang yang bertawakal kepada Allah tidak akan merasa berat dan penat kerana Dia membawakan beban untuknya. Allah berfirman, "Siapa yang bertawakal kepada Allah, Dia akan mencukupinya."



Ibnu Athaillah as-Sakandari
al Tanwir fi Isqath al Tadbir
Mengapa Harus Berserah

Cinta & Harapan





"Di Jalan Ruhani, cinta & pengharapan, keduanya perlu. Bila kau tak memiliki yang dua ini lebih baik kamu tinggalkan pencarian itu. Tetapi apakah pencinta pernah bersabar? Bersabarlah dan berusahalah dengan harapan akan mendapatkan penunjuk jalan. Kuasailah dirimu sendiri dan jangan biarkan kehidupan lahiriah menawanmu."


Fariduddin Attar
Mantiq at-Thayr
Musyawarah Burung

Precious Gems on the Path





When something unique becomes many,

it loses its value.

Yet many are the sorrows of the heart

but they become precious gems

on the path to the Beloved.


Jalaluddin Rumi
Rubai 602

Disember 11, 2008

Kisah Pertaubatan




Dikutip dari buku Cinta Bagai Anggur bab ‘Godaan’.


“Jangan pernah mengira bahwa engkaulah yang memperbaiki dirimu. Taubatmu adalah rahmat dari Allah. Demikian pula kemampuanmu untuk menindaklanjuti taubat itu.”


PERNAH pada suatu ketika, ada seorang penjahat kejam yang telah membunuh sembilan puluh sembilan orang. Suatu hari, dia mendatangi seorang guru agama dan mengatakan bahwa dia ingin mengubah hidupnya, sebagai taubat atas segala kesalahannya. Guru itu menjawab bahwa ia sudah tidak mungkin lagi diampuni karena dosanya sudah ‘keterlaluan’. Dengan sangat marah penjahat itu mengatakan, kalau memang dosanya tidak bisa diampuni, ia sekalian saja membunuh guru itu. Dan ditebasnyalah leher guru agama itu.


Tidak lama kemudian, penjahat itu berpapasan dengan seorang bijak, seorang ulama yang telah benar-benar menyerap dan mengamalkan segala yang diajarkannya. Kepada orang bijak itu dia bertanya, apakah ia masih bisa diampuni walaupun telah membunuh seratus orang tak bersalah. Sang ulama bijak ini menjawab bahwa Allah pasti mengampuni orang yang bertaubat dengan sungguh-sungguh ikhlas. Ia juga menambahkan sebuah nasihat kepada si penjahat, bahwa ia harus pergi dari kampungnya yang penuh dengan perampok dan penjahat. Ia harus pindah ke sebuah kota kecil tak jauh dari sana, yang di sana merupakan tempat tinggal banyak orang jujur dan lurus. Teman yang baik membawa kita pada akhlak yang baik, sedangkan teman yang buruk akan membawa kita pada dosa.


Penjahat itu pun pulang, membereskan barang-barangnya, lalu berangkatlah ia ke kota tempat tinggal orang-orang lurus itu. Hanya saja, baru beberapa langkah ia meninggalkan kota, saat kematiannya pun tiba, sehingga malaikat maut pun mencabut nafs-nya. Seiring dengan kejatuhan jasadnya ke tanah, datanglah malaikat-malaikat penjaga neraka untuk mengambil nafs-nya. Pada saat yang sama, malaikat-malaikat penjaga surga pun tiba, juga hendak mengambil nafs-nya. Para malaikat neraka berpendapat bahwa bandit itu telah membunuh seratus orang, sehingga nafs-nya harus dibawa ke neraka. Tetapi kelompok malaikat penjaga surga berpendapat bahwa bandit itu telah bertaubat dengan ikhlas, bahkan ia telah mengamalkan taubatnya menjadi perbuatan, dengan meninggalkan kampungnya menuju kota yang warganya jujur dan lurus.


Akhirnya, diutuslah malaikat Jibril a.s. untuk menghakimi perkara itu. Jibril a.s. bertanya kepada Allah tentang cara menyelesaikan persoalan ini, karena kedua belah pihak punya alasan yang kuat. Allah pun menurunkan sebuah alat ukur dari langit, dan memerintahkannya untuk memberi keputusan berdasarkan jarak jasad si penjahat ke kedua kota itu. Jika ia mati dalam kedaan lebih dekat kepada orang-orang baik, maka nafs-nya akan naik ke surga. Namun jika ia lebih dekat kepada orang-orang jahat, maka nafs-nya harus masuk neraka.


Para malaikat setuju untuk taat pada kehendak Allah, walaupun para malaikat penjaga surga merasa sedih karena harus kehilangan jiwa seorang manusia yang ingin bertaubat. Mayat penjahat itu hanya berjarak beberapa langkah dari desa para bandit. Jibril a.s. pun menggelar pengukurnya, dan menemukan bahwa mayatnya hanya berjarak dua langkah dari gerbang kampungnya. Ketika Jibril a.s. mengangkat alat ukur dan hendak menggelarnya ke arah kota tempat orang-orang baik, mendadak—karena kemahapengampunan Allah—dinding-dinding luar kota itu berdatangan mendekati mayat si penjahat, sehingga hanya berjarak kurang dari selangkah. Maka diserahkanlah nafs si penjahat yang bertaubat ke pemeliharaan para malaikat penjaga surga.


Sama dengan kita. Jika kau benar-benar ingin mengubah kebiasaan-kebiasaan burukmu, gantilah teman-temanmu. Yang paling penting, mohonlah kepada Allah untuk mengubah dirimu. Jangan pernah mengira bahwa engkaulah yang memperbaiki dirimu. Taubatmu adalah rahmat dari Allah. Demikian pula kemampuanmu untuk menindaklanjuti taubat itu.(1) Dan, jika engkau ingin menjadi orang baik, carilah orang-orang yang baik. Jika engkau ingin mencintai Allah, tetaplah bersama orang-orang yang mencintai-Nya.***


(1) “Barangsiapa menghendaki (kebaikan bagi dirinya), niscaya dia akan mengambil jalan kepada Tuhannya. Dan kamu tidak akan mampu menempuh jalan itu, kecuali bila dikehendaki Allah. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.” (Q. S. Al-Insaan [76]: 29–30). Lihat juga, “Bagi siapa di antara kamu yang mau menempuh jalan yang lurus, kamu tidak akan dapat menghendaki (menempuh jalan itu) kecuali apabila dikehendaki Allah, Tuhan Semesta Alam.” (Q. S. At-Takwiir [81]: 28 –29). –Ed.



Disember 03, 2008

Ukiran Sanubari











Tuhan menunjukkan kepada yang mencari.

Ya, asal diri mencari, Dia menunjukkan.




Pemula perjalananku dahulu,
penerusnya saat ini
dan peneguhnya sampai nanti..

In sya Allah.