Disember 31, 2008

Hijrahlah dengan Sabar dan Tawakkal





Orang-orang yang hijrah
dalam keredhaan Allah,
sesudah mereka teraniaya,
sesungguhnya Kami tempatkan
mereka di dunia di negeri yang baik.
Sesungguhnya pahala akhirat lebih besar,
jika mereka tahu; iaitu orang-orang yang
sabar dan kepada Tuhan mereka bertawakkal.

[QS An-Nahl : 41-42]

Disember 19, 2008

Niat



Banyak pekerjaan biasa bisa menjadi tabungan amal baik karena terbungkus niat yang bagus, sebagaimana banyak kewajiban menjadi tak bernilai karena terhias niat yang tak lurus.


Izza Rohman Nahrowi
Dan Allah Maha Pengampun

Asa



Putus asa di hadapan begitu kelamnya masa silam yang penuh khilaf, bisa berarti kelalaian bahwa Allah Maha Pemurah dan Maha Pemaaf.


Izza Rohman Nahrowi
Dan Allah Maha Pengampun

Inti Kebaikan



Mengingat Allah adalah inti perbaikan hubungan dengan Allah, sementara menolong orang-orang susah adalah inti perbaikan hubungan sesama manusia.

Izza Rohman Nahrowi
Dan Allah Maha Pengampun

Pintu



Bertobat sama saja dengan mengetuk pintu ampunan Allah. Akan tetapi, "Kapankah kiranya pintu tersebut ditutup sehingga harus diketuk?"


Izza Rohman Nahrowi
Dan Allah Maha Pengampun

Disember 16, 2008

Munajat Faqir





Ya Allah,
kini kubersimpuh di hadapan-Mu.

Sesal dan insafku mengucur
di sekujur tubuhku.
Aku malu dengan pelan
mengetuk pintu-Mu. Ya Allah,
kapan kiranya pintu itu ditutup
sehingga harus kuketuk?


Duhai Rabbi, mengapa pertobatan
tak kunjung memadai aku lakukan?
Duhai Rabbi, mengapa kemaksiatan
terus berulang aku lakukan?
Duhai Rabbi, mengapa ketaatan
tak mencegahku dari kemungkaran?
Ya Rabbi, daku mohon ampunan-Mu
atas seluruh sikap kurang-ajarku.


Duhai Yang Maha Mendengar
lagi Maha Melihat,
kurangnya ilmuku mohon tidak
menghalangi ampunan-Mu.
Kurangnya amalku mohon tidak
menghalangi pemberian-Mu.
Dan kurangnya keikhlasanku
mohon tidak menghalangi kasih-Mu.


Ya Allah, izinkan hamba-Mu ini untuk
meyakini keluasan rahmat-Mu,
sekalipun telah menumpuk maksiatku.
Jadikanlah ingatan akan karunia-Mu
benar-benar modal bagiku untuk
tidak berputus asa,
sekalipun di tengah berat dan
sempitnya suasana.


Ya Allah, perkenanlah hamba-Mu
menaruh harapan pada luasnya rahmat-Mu
agar kami berlayar di samudera keridaan,
terhindar dari setan-setan yang menyesatkan,
menjauh dari pikuk daratan kemaksiatan.


Ya Allah, ampunilah dosa-dosa
hamba-Mu ini. Juga dosa-dosa orang
yang pernah berbuat baik kepadanya.
Juga dosa-dosa orang yang
pernah dia aniaya.
Juga dosa-dosa orang yang pernah
menyediakan ladang amal baginya.

Penyesalan




Tak akan berguna penyesalan sebelum memutar turbin-turbin semangat perbaikan. Tiadalah ratapan itu berfaedah hingga membulatkan tekad untuk berubah.

Izza Rohman Nahrowi
Dan Allah Maha Pengampun

Tertindaskah Iman?





Allah memerintahkan hamba-Nya untuk mengesakan-Nya baik melalui perkataan, perasaan, maupun perbuatan. Barang siapa (berbuat) demikian, ia benar-benar telah menyadari bahwa Dia Maha Esa. Hatinya tenteram dengan pengetahuan itu, perkataannya mencerminkan kebenaran dalam hatinya, serta ia terpicu dan terpacu untuk berbuat baik. Singkatnya, ia telah benar-benar beriman. Semua ini (pengesaan melalui perasaan, perkataan dan perbuatan) terjadi secara bersamaan pada diri seorang hamba. Tetapi, Allah menjadikan syahwat dan hawa nafsu sebagai bagian dalam diri manusia, serta menciptakan setan yang selalu mengembuskan keraguan dalam hati manusia dengan bujuk rayu yang mengalir bagai darah dan menyesap bak ikan dalam laut.


Allah menjadikan hati sebagai penguasa tubuh dan hawa nafsu sebagai penggerak tubuh serta pembawa kerancuan kepada kalbu. Setan selalu membujuk, membisik dan menggoda hati. Hawa nafsu menanggapi dan tertarik dengan bisikan itu, tetapi hati mukmin tetap tenang dengan imannya dan kalimat tauhid selalu menghiasi lidahnya.


Ketika tiba waktu menunaikan kewajiban, hawa nafsu datang menggoda dan setan pun melancarkan bisikan, sehingga jiwa cenderung mengikuti godaan hawa nafsu. Akibatnya, seseorang melakukan perbuatan orang yang tidak beriman, padahal hati dan lidahnya masih menyimpan keimanan kepada Allah Swt. Ia dikalahkan syahwat. Kezaliman hawa nafsu dan tipu daya setan telah mengalahkan hati kendatipun tidak mengubah pengetahuan di dalamnya. Hati sebenarnya tetap cenderung kepada keimanan, tetapi ia terpenjara dan tertindas. Hati selamanya dikendalikan oleh sesuatu yang menguasainya.



Al-Hakim Al-Tirmidzi
Adab al-Nafs
The Wisdom of Al-Hakim Al-Tirmidzi

Terang Cahaya Lentera




Allah Swt. menyeru Anda untuk berpegang teguh pada agama-Nya dalam memerangi hawa nafsu. Anda sepatutnya bersungguh-sungguh dalam berjuang, sebab Dia tidak hanya memberi motivasi, tetapi juga menjanjikan (keselamatan dan) kemenangan:


"Dia adalah Pelindungmu. Maka Dialah sebaik-baik Pelindung dan sebaik-baik Penolong."
[QS Al-Hajj (22) : 78]


Kalau Anda tidak berpegang teguh pada agama Allah, nafsu dengan mudah memperdayaimu. Bila Anda terperdaya, pertolongan takkan pernah datang. Jika pertolongan tidak datang, sementara Anda dalam peperangan melawan hawa nafsu, Anda takkan menang. Musuh menyerang dengan panah syahwat dan hawa nafsu, dan Anda harus membalas dengan kliat ma'rifat dan akal sihat.


Bagaimana itu bisa Anda lakukan, kalau ma'rifat dan akal sihat terkurung dalam hati, sementara hawa nafsu dan syahwat berdiri di luar hati menjadi penghalang antara hati dan Tuhan?


Hawa nafsu dan syahwat menutupi telinga dan mata hatimu, memenjarakan isi hati, dan (dengan cara itu) mengalahkan hati. Hati tak ubahnya seperti lentera dalam wadah tertutup. Bagaimana mungkin lentera itu menerangi rumah jika cahayanya terhalang?


Apabila wadah itu dihancurkan, barulah benda-benda dalam rumah terlihat, baik yang berbahaya maupun yang bermanfaat. Kala jiwa bergolak, lalu Anda berpegang teguh dengan agama Allah, Anda pasti sedar bahwa Anda takkan sanggup meredam gejolak tanpa bantuan-Nya. Dialah yang akan membantu dan menolongmu. Bagaimana mungkin Dia tidak menolong sedangkan Dia menyuruhmu untuk membaca:

"Hanya kepada-Mu-lah kami menyembah dan hanya kepada-Mu-lah kami meminta pertolongan."
[QS Al-Fatihah (1) : 5]


Allah Swt. memerintahkan Anda untuk mengucapkan ayat tersebut, karena Dia pasti menolong:

"Atau siapakah yang menjawab (du'a) orang yang dalam kesulitan ketika ia berdu'a kepada-Nya dan siapakah yang menghilangkan kesulitan?"
[QS An-Naml (27) : 62]


Mahasuci Allah untuk tidak menolongmu bila engkau benar-benar memohon kepada-Nya.




Al-Hakim Al-Tirmidzi
Adab al-Nafs
The Wisdom of Al-Hakim Al-Tirmidzi

Disember 14, 2008

Menuai Hasil dari Bumi Gersang




Seorang ahli hikmah pernah berbicara:

"Bukanlah diharapkan dari awan mendung yang mendatang itu, sekadar turunnya air hujan yang melimpahi bumi, tetapi apa yang dikehendaki ialah berbuahnya pohon-pohon dari bumi yang gersang."

Beristirahat dari Kelelahan Hati





"Dibandingkan dengan kepenatan badan, kita lebih perlukan perlindungan Allah dari kepenatan hati. Sebab, hati akan merasa lelah oleh kerasnya usaha mencari rezeki dan tercurahnya seluruh perhatian kepadanya. Akibatnya, hati terbebani oleh itu semua.

Hati hanya bisa menjadi lapang dan istirah (berehat) ketika ia bersandar kepada Allah Swt. Hati orang yang bertawakal kepada Allah tidak akan merasa berat dan penat kerana Dia membawakan beban untuknya. Allah berfirman, "Siapa yang bertawakal kepada Allah, Dia akan mencukupinya."



Ibnu Athaillah as-Sakandari
al Tanwir fi Isqath al Tadbir
Mengapa Harus Berserah

Cinta & Harapan





"Di Jalan Ruhani, cinta & pengharapan, keduanya perlu. Bila kau tak memiliki yang dua ini lebih baik kamu tinggalkan pencarian itu. Tetapi apakah pencinta pernah bersabar? Bersabarlah dan berusahalah dengan harapan akan mendapatkan penunjuk jalan. Kuasailah dirimu sendiri dan jangan biarkan kehidupan lahiriah menawanmu."


Fariduddin Attar
Mantiq at-Thayr
Musyawarah Burung

Precious Gems on the Path





When something unique becomes many,

it loses its value.

Yet many are the sorrows of the heart

but they become precious gems

on the path to the Beloved.


Jalaluddin Rumi
Rubai 602

Disember 11, 2008

Kisah Pertaubatan




Dikutip dari buku Cinta Bagai Anggur bab ‘Godaan’.


“Jangan pernah mengira bahwa engkaulah yang memperbaiki dirimu. Taubatmu adalah rahmat dari Allah. Demikian pula kemampuanmu untuk menindaklanjuti taubat itu.”


PERNAH pada suatu ketika, ada seorang penjahat kejam yang telah membunuh sembilan puluh sembilan orang. Suatu hari, dia mendatangi seorang guru agama dan mengatakan bahwa dia ingin mengubah hidupnya, sebagai taubat atas segala kesalahannya. Guru itu menjawab bahwa ia sudah tidak mungkin lagi diampuni karena dosanya sudah ‘keterlaluan’. Dengan sangat marah penjahat itu mengatakan, kalau memang dosanya tidak bisa diampuni, ia sekalian saja membunuh guru itu. Dan ditebasnyalah leher guru agama itu.


Tidak lama kemudian, penjahat itu berpapasan dengan seorang bijak, seorang ulama yang telah benar-benar menyerap dan mengamalkan segala yang diajarkannya. Kepada orang bijak itu dia bertanya, apakah ia masih bisa diampuni walaupun telah membunuh seratus orang tak bersalah. Sang ulama bijak ini menjawab bahwa Allah pasti mengampuni orang yang bertaubat dengan sungguh-sungguh ikhlas. Ia juga menambahkan sebuah nasihat kepada si penjahat, bahwa ia harus pergi dari kampungnya yang penuh dengan perampok dan penjahat. Ia harus pindah ke sebuah kota kecil tak jauh dari sana, yang di sana merupakan tempat tinggal banyak orang jujur dan lurus. Teman yang baik membawa kita pada akhlak yang baik, sedangkan teman yang buruk akan membawa kita pada dosa.


Penjahat itu pun pulang, membereskan barang-barangnya, lalu berangkatlah ia ke kota tempat tinggal orang-orang lurus itu. Hanya saja, baru beberapa langkah ia meninggalkan kota, saat kematiannya pun tiba, sehingga malaikat maut pun mencabut nafs-nya. Seiring dengan kejatuhan jasadnya ke tanah, datanglah malaikat-malaikat penjaga neraka untuk mengambil nafs-nya. Pada saat yang sama, malaikat-malaikat penjaga surga pun tiba, juga hendak mengambil nafs-nya. Para malaikat neraka berpendapat bahwa bandit itu telah membunuh seratus orang, sehingga nafs-nya harus dibawa ke neraka. Tetapi kelompok malaikat penjaga surga berpendapat bahwa bandit itu telah bertaubat dengan ikhlas, bahkan ia telah mengamalkan taubatnya menjadi perbuatan, dengan meninggalkan kampungnya menuju kota yang warganya jujur dan lurus.


Akhirnya, diutuslah malaikat Jibril a.s. untuk menghakimi perkara itu. Jibril a.s. bertanya kepada Allah tentang cara menyelesaikan persoalan ini, karena kedua belah pihak punya alasan yang kuat. Allah pun menurunkan sebuah alat ukur dari langit, dan memerintahkannya untuk memberi keputusan berdasarkan jarak jasad si penjahat ke kedua kota itu. Jika ia mati dalam kedaan lebih dekat kepada orang-orang baik, maka nafs-nya akan naik ke surga. Namun jika ia lebih dekat kepada orang-orang jahat, maka nafs-nya harus masuk neraka.


Para malaikat setuju untuk taat pada kehendak Allah, walaupun para malaikat penjaga surga merasa sedih karena harus kehilangan jiwa seorang manusia yang ingin bertaubat. Mayat penjahat itu hanya berjarak beberapa langkah dari desa para bandit. Jibril a.s. pun menggelar pengukurnya, dan menemukan bahwa mayatnya hanya berjarak dua langkah dari gerbang kampungnya. Ketika Jibril a.s. mengangkat alat ukur dan hendak menggelarnya ke arah kota tempat orang-orang baik, mendadak—karena kemahapengampunan Allah—dinding-dinding luar kota itu berdatangan mendekati mayat si penjahat, sehingga hanya berjarak kurang dari selangkah. Maka diserahkanlah nafs si penjahat yang bertaubat ke pemeliharaan para malaikat penjaga surga.


Sama dengan kita. Jika kau benar-benar ingin mengubah kebiasaan-kebiasaan burukmu, gantilah teman-temanmu. Yang paling penting, mohonlah kepada Allah untuk mengubah dirimu. Jangan pernah mengira bahwa engkaulah yang memperbaiki dirimu. Taubatmu adalah rahmat dari Allah. Demikian pula kemampuanmu untuk menindaklanjuti taubat itu.(1) Dan, jika engkau ingin menjadi orang baik, carilah orang-orang yang baik. Jika engkau ingin mencintai Allah, tetaplah bersama orang-orang yang mencintai-Nya.***


(1) “Barangsiapa menghendaki (kebaikan bagi dirinya), niscaya dia akan mengambil jalan kepada Tuhannya. Dan kamu tidak akan mampu menempuh jalan itu, kecuali bila dikehendaki Allah. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.” (Q. S. Al-Insaan [76]: 29–30). Lihat juga, “Bagi siapa di antara kamu yang mau menempuh jalan yang lurus, kamu tidak akan dapat menghendaki (menempuh jalan itu) kecuali apabila dikehendaki Allah, Tuhan Semesta Alam.” (Q. S. At-Takwiir [81]: 28 –29). –Ed.



Disember 03, 2008

Ukiran Sanubari











Tuhan menunjukkan kepada yang mencari.

Ya, asal diri mencari, Dia menunjukkan.




Pemula perjalananku dahulu,
penerusnya saat ini
dan peneguhnya sampai nanti..

In sya Allah.



November 16, 2008

Tuhanku, iradat itu hak-Mu..





Tuhanku, iradat itu hak-Mu,
doa itu kepunyaanku,
aku meminta aku meminta
tak Kau kurniakan tak mengapa
jika tak Kau beri semakin kenal aku diri-Mu
jika Kau beri kesejahteraanku pulangkan pada-Mu


Sejauh ini sudah ku kenal kebesaran-Mu
Sedekat ini sudah ku rasai kewujudan-Mu


Tuhanku pun,
jika Kau tak beri
seperti biri-biri mencari Ibu
aku tersesat langkah di lereng-lereng
gunung Anadolu
seperti salji keras batu dan membeku
tak punya batini
andai Kau beri
aku jadi salji mencair
menyegar basah permukaan bumi
ranting-ranting anggur tumbuh lagi
burung-burung berkicau di awal musim semi
daun-daun menghijau kembali
matahari datang lagi
amat ku kasih amat ku cinta
maka aku meminta


Iradat adalah hak-Mu
tak aku ingkari

meminta adalah hakku

kerana dengan merayu

Kau jadi Kekasihku

aku jadi perindu

aku meminta aku meminta

tak Kau kurniakan tak mengapa

jika tak Kau beri

semakin kenal aku diri-Mu

jika Kau beri kesejahteraanku

pulangkan kepada-Mu.


Faisal Tehrani


Mencinta, adalah mencapai Tuhan.





Mencinta adalah mencapai Tuhan.

Takkan pernah lagi dada seorang Pencinta

merasakan kesedihan.

Takkan pernah lagi jubah seorang Pencinta

tersentuh kematian.

Takkan pernah lagi jasad seorang Pencinta

ditemukan terkubur di dasar bumi.

Mencinta adalah mencapai Tuhan.


To Love is to reach God.
Never will a Lover's chest
feel any sorrow.
Never will a Lover's robe
be touched by mortals.
Never will a Lover's body
be found buried in the earth.
To Love is to reach God.



Maulana Jalaluddin Rumi

Kita (Ternyata) Satu





© 2004 - Herry Mardian

Kalian hawa nafsuku yang bodoh
bukan waktunya lagi meratap
Berhenti berandai-andai,
dan hiduplah!

Kita satu, kau dan aku
Bantu aku meraih surgaku,
maka kalian ‘kan meraih surgamu

Kau dan aku, kita satu!
Dahulu berdampingan bersumpah
berikan hidup untuk Sang Raja
Kau pikir kan Dia biarkan
kita berjalan tak tentu arah?

Tunduk, atau kita semua lenyap
mati di bumi, mati di langit
dilupakan Tuhan
terserak di bawah kaki kesia-siaan

(HM, 03/11/2004, 21:45)


Creative Commons License
All works above are licensed under
Creative Commons Attribution-NonCommercial-NoDerivs 3.0 License

November 08, 2008

Keghaiban Hari Esok




Oleh Zamzam A. J. Tanuwijaya, Yayasan Paramartha (diedit dan diperbaiki seperlunya oleh Herry Mardian).


Orang yang beruntung adalah orang yang bisa menjadikan keghaiban hari esok sebagai hidangan bagi hatinya.


KETIKA Nabi Musa as diperintahkan Allah swt untuk membawa bani Israil ke tepi laut apakah ia sudah mengetahui bahwa Allah swt akan membukakan laut bagi mereka ? Tidak sama sekali. Ia hanya meyakini bahwa di tempat itu Allah swt akan menurunkan pertolongannya, tanpa diketahui apa bentuknya.


Musa a.s. dan umatnya, dalam tekanan kebingungan yang hebat, terjebak diantara laut dan kepulan debu gurun yang dihamburkan ke angkasa oleh ribuan kereta perang Fir’aun Merneptah. Cacian-cacian kepada sang Nabi mulai berhamburan dari lisan-lisan umatnya sendiri, karena Musa, nabi mereka, malah mengarahkan mereka terkepung dan terdesak ke laut Merah.


Sementara pada saat itu, seorang pemuda yang tulus, panglima dan murid Musa a.s., berseru ke imamnya dari atas kuda yang terus diarahkannya ke laut, sesuai perintah imamnya. “Ya Nabiyullah, masih terus?” Pertanyaannya menunjukkan kesiapannya.


Air laut sudah seleher kudanya, dan dia, Yusha’ bin Nun, masih terus berusaha memacu kudanya yang sangat ketakutan itu untuk tetap maju menuju ke laut. Ia tidak mempertanyakan, apalagi membantah, perintah Allah untuk menembus laut Merah. Meski ia tahu bahwa Musa, imamnya dan Nabinya, juga belum mengetahui apa yang akan terjadi kepada mereka setelah itu.


Apakah seorang pangeran muda yang bernama Musa, bertahun-tahun sebelum peristiwa di atas, mengetahui bahwa pukulannya—yang hanya sekali—kepada seorang koptik akan membunuhnya? Satu kejadian “sial” yang membuat Musa menjadi tercela dan kehilangan singgasanannya. Ia ketakutan dan melarikan diri ke Madyan, tempatnya Nabi Syu’aib as. Suatu peristiwa yang merevolusi hidupnya, dari seorang pangeran Mesir menjadi cuma seorang pengemis lain di dunia ini. Namun tanpa peristiwa “sial” itu, ia tidak akan bertemu Syu’aib a.s. yang menjadi gurunya.


Kita semua adalah orang-orang yang tidak mengetahui apa yang akan terjadi, bahkan untuk semenit ke depan. Tidak kita, tidak para orang suci, tidak juga para Rasul yang lain. Kita dilarang bahkan untuk sekedar ingin mengetahui zaman di depan. Keinginan seperti itu hanya akan menjadikan kita masuk ke dalam golongan mayoritas, golongan orang-orang yang tidak bersyukur *.


Masa depan adalah kotak Pandora, dan keghaiban hari esok adalah bagian dari palu Allah yang dipergunakan-Nya untuk menempa dan membentuk jiwa kita. Kita semua adalah hamba-Nya, sebagaimana Rasulullah saw bangga ketika mengatakan “Sesungguhnya aku adalah hamba-Nya, dan rasul-Nya”.


Mari kita sambut dengan suka cita dan kita nikmati palu keghaiban-Nya, karena kita tidak tahu palu yang mana yang akan digunakan-Nya membentuk jiwa kita esok hari. Tenanglah, karena kita berada dalam genggaman Sang Maha Sutradara yang Sangat Terpercaya. Tidak ada yang perlu kita khawatirkan, semua sudah diukur-Nya dengan rapi. Kita hanya melompat dari keadaan “nyaris” yang satu ke “nyaris” yang lain. Semakin tebal tabungan “nyaris” kita, semakin terbukalah Wajah-Nya yang Maha Indah. Hati kita mungkin dibuat-Nya remuk, tapi bukankah Allah swt mengatakan, “Carilah Aku di antara para hamba-Ku yang remuk hatinya”.


Kedigjayaan diri adalah musuh hati, dan keperihan adalah obat. Keutamaan dan kemuliaan seseorang tidak diukur dari penglihatan-penglihatan tentang alam yang tak terlihat, atau bisikan-bisikan skenario masa depan. Orang yang beruntung adalah orang yang bisa menjadikan keghaiban hari esok sebagai hidangan bagi hatinya.


Sahabatku, saudara-saudaraku seperjalanan, kita semua sama, dibuat kalang kabut dengan “pengaturan-pengaturan” suci dari-Nya, dan hati-hati kita ada diantara permainan dua Jemari-Nya.


Jangan ada lagi ketragisan di hati. Kita semua ada dalam genggaman-Nya.***


[*] “Sesungguhnya Allah benar-benar mempunyai karunia yang dilimpahkan atas manusia, akan tetapi kebanyakan manusia tidak bersyukur.”Q. S. Al-Mu’miin [40] : 61

[-] Kedigjayaan - Kekebalan

sumber

Perahu


karya
S.M Zakir


HIDUPKU adalah kesengsaraan!

Ombak memutih berbuih di birai kakinya. Dia hanya bersuara kepada laut yang luas terdampar saujana tanpa hujung. Langit juga memutih dan terdampar saujana luas tanpa hujung.


Aku adalah kesengsaraan yang terlempar dari kolong langit!

Angin berdesir dan menempuh tubuhnya. Dia masih membiarkan birai kakinya dijilat ombak. Sambil menghadap laut dan angin menempuh-nempuh tubuhnya mengibar-ngibar pakaiannya.

Sekumpulan kanak-kanak yang bermain-main di tepi pantai tercegat sebentar. Berpandangan antara satu sama lain. Akhirnya perlahan-lahan mereka bergerak menghampiri lelaki yang tercegat sendirian seperti bertafakur menghadap laut itu.

Dia memerhati kumpulan kanak-kanak yang datang menghampirinya. Kemudian seakan mengepungnya dalam satu kelilingan.


"Kami mahu mendengar cerita."

"Cerita Nabi Nuh dan bahteranya."


"Cerita Nabi Yunus ditelan ikan Nun."


"Cerita Nabi Musa membelah laut dengan tongkatnya."



Dia berjalan ke banir ru diikuti kumpulan kanak-kanak yang bersorak-sorak girang. Dia mengambil tempat duduk dan kumpulan kanak-kanak itu berebut-rebut mengambil tempat mengelilinginya. Berhampiran banir ru di kawasan redup terpacak sebuah bangsal dan sebuah perahu yang masih belum siap ditukang.



Aku adalah manusia miskin dan daif yang dilontar dari sana, tangannya menuding laut.


Kanak-kanak itu melongo. Diam tidak berkutik. Menunggu ceritanya.


Kedaifan membuatkan aku tidak mempunyai apa-apa di dunia ini. Lebih dungu lagi aku tidak mempunyai apa-apa kepandaian dan kemahiran yang mungkin boleh memberikan aku kehormatan dunia harta, pangkat, darjat dan kuasa. Satu-satunya kemahiran dan kepandaian yang aku miliki adalah bertukang perahu.


Kanak-kanak itu menderaikan ketawa. Amat lucu bagi mereka kerja bertukang perahu seperti lucunya cerita Abu Nawas.


Sekarang aku ingin bercerita tentang cerita perahu. Aku si daif yang terlontar dari kemahakuasaan dan kemahaluasan laut dan tercampak di pinggir bumi yang maya dan fana ini hanya ingin bercerita tentang perahu.


Kanak-kanak itu melongo. Berpandangan dan menggeleng-geleng.


"Kami mahu mendengar cerita Nabi Nuh."

"Kami mahu mendengar cerita Nabi Yunus."


"Kami mahu mendengar cerita Nabi Musa."


"Kami mahu mendengar cerita Abu Nawas."


Tiba-tiba sahaja. Mata yang lain melotot.

"Engkau saja jadi Abu Nawas."



Tanpa mempedulikan bantahan kanak-kanak itu, dia bangkit menuju ke perahu yang belum usai ditukanginya itu. Kumpulan kanak-kanak itu bagai ditarik daya misteri terus saja bertolak-tolak mengikutinya.



Lihat laut di hadapan kamu.


Kanak-kanak itu berpaling menghadap laut dan berteriak-teriak.


"Ya laut yang menenggelamkan kaum Nabi Nuh."

"Ya laut yang ada ikan Nun yang besar."


"Ya laut yang terbelah dan bertangkup dengan pukulan tongkat Nabi Musa."


Dalam kepanasan cahaya matahari tengahari begini laut melepaskan zatnya dari air laut yang masin menjadi wap. Wap berkumpul membentuk awan. Awan semakin berat. Wap sekali lagi berubah zatnya menjadi air bersih dan turun sebagai hujan. Air hujan lalu turun membasahi bumi. Menghidupkan tumbuhan dan makhluk. Air hujan berubah lagi zatnya menjadi air tulen yang mengalir menjadi sungai. Air tulen ini menjadi sumber penghidupan tumbuhan dan makhluk. Sungai mengalir memakmurkan bumi. Setelah itu sungai mengalir kembali ke laut kembali ke asalnya kembali bercampur menjadi zatnya yang asal.


Kumpulan kanak-kanak itu mendengar menanti jika dalam air nanti akan muncul gergasi besar atau yu ganas atau sotong raksasa.


Setiap yang bermula akan kembali kepada asalnya. Yang asal itulah yang melimpah mengubah zat dari satu bentuk ke satu bentuk yang lain dan akhirnya kembali kepada bentuknya yang asal dan azali.


"Tidak ada ombak besar yang ganas menenggelami kaum Nabi Nuh?"

"Tidak ada ikan nun besar terdampar di pantai bersama perutnya yang berisi manusia?"


"Tidak ada tentera-tentera Firaun perkasa yang lemas bertempiaran ditelan laut?"


"Tidak ada baghal Abu.."

Terdiam di situ.

"Lagi-lagi engkau."


Mereka adalah pesuruh-pesuruh Tuhan yang diturunkan untuk membimbing manusia agar menginsafi kejadian dan kewujudannya. Nabi Nuh, Nabi Yunus, Nabi Musa, nabi-nabi dan rasul-rasul lain dan rasul yang paling agung Nabi Muhammad s.a.w, semuanya adalah pesuruh Tuhan. Tuhan? Tuhan itu adalah Maha Pencipta yang telah mencipta seluruh kejadian dan alam semesta melalui perlimpahan zat-Nya. Dan setiap kejadian itu berakhir dengan kembali kepada penciptanya iaitu Tuhan Allah azzawajalla.


"Tuhan lebih berkuasa dari laut yang menenggelamkan kaum Nabi Nuh?"

"Tuhan lebih berkuasa dari ikan Nun yang besar?"


"Tuhan lebih berkuasa dari Firaun?"



Tuhan lebih berkuasa dari segala-galanya.



Kanak-kanak itu terdiam. Diam dan diam sekali. Wajah mereka memainkan fikiran tentang sesuatu yang besar, hebat dan agung. Mereka lalu merasa gerun.


Tuhan menjadikan kita sebagaimana hukum yang terjadi kepada laut tadi.


"Tuhan ada di laut?"

"Tuhan ada di awan?"


"Tuhan ada di sungai?"



Laut itu luas. Ombaknya ganas. Sekali kamu berada di tengah laut, daratan akan hilang. Kamu tidak mempunyai apa-apa selain laut.


"Bagaimana kami hendak ke tengah laut?"


Dia memegang perahu. Menggosok-gosoknya. Berjalan dari hujung ke hujung. Kemudian berhenti di tengahnya.


Dengan perahu ini.


Berhampiran, kedengaran ombak dan angin berhempas saling mengejar untuk mengucupi pantai.


Di tengah ini aku letakkan papan dan kayu yang menjadi dasar kepada perahu ini. Ia dipanggil lunas perahu. Tanpa lunas perahu ini akan tenggelam karam di lautan segara.

Kanak-kanak itu memegang lunas perahu.


Di kiri kanan perahu ini aku letakkan papan yang menjadi dinding daripada rempuhan ombak dan juga dinding kepada lunas perahu tadi. Tanpa papan-papan ini gelombang akan merempuh masuk dan dengan mudah akan menenggelamkan perahu.

Kanak-kanak itu memegang papan perahu.


Di atas lunas dan papan ini yakni di dalam perahu adalah kita. Kita adalah isi yang akan mengemudi perahu belayar ke lautan segara. Isi yang mengemudi perahu harus tahu tujuannya. Tanpa isi yang baik dan tetap tujuannya, perahu akan hanyut sesat di lautan segara.

Kanak-kanak itu memegang diri mereka masing-masing.


Akhir sekali untuk belayar di lautan segara perahu memerlukan layar yang kuat dan tahan. Kita tidak betah untuk berdayung di lautan luas. Kekuatan manusia terlalu kerdil untuk mengatasi ombak dan angin. Apatah lagi laut yang maha perkasa. Layar ini bagai rahsia kerana ia berkibar bukan di atas kekuasan isi atau kita atau manusia tetapi di atas kekuasaan yang di atas segala kekuasaan.

Kanak-kanak itu memegang layar perahu.


Ombak dan angin berhempas saling mendahului mengucupi pantai.


Tahukah kamu bahawa perahu pertama di alam ini dibina oleh Nabi Nuh dan empat orang tukang kayu dengan tunjuk ajar daripada Jibril. Jibril telah diturunkan oleh Allah azzawajalla untuk membantu Nabi Nuh membina perahu. Jibril yang menyampaikan ilmu tentang lunas, tentang papan tentang isi dan tentang layar.


Ketika hari semakin merangkak. Kelihatan kanak-kanak di sebuah perkampungan di daerah Fansur ini berlari-lari pulang ke rumah sambil menjerit-jerit, "Perahu! Perahu! Perahu! Perahu dibina oleh Jibril!"





Hidupku adalah kesengsaraan!

Dia bersuara lagi kepada laut dan ombak, sambil menyorong perahunya ke laut. Malam mengerdip kemerlap gemintang. Bermain-main di tubir langit. Kini dia berada di laut, belayar dengan perahunya. Laut yang luas dan tidak bertepi. Menurut seorang ahli sufi, laut yang luas tidak bertepi ini merupakan kenyataan dalam peringkat pertama yang berupa ilmu, kewujudan, kesaksian, dan Nur. Kerana (ada) ilmu maka Allah itu Maha Mengetahui. Kerana wujud maka Allah itu Maha Esa dan Maha Pencipta. Kerana kesaksian Allah itu Maha Melihat. Kerana Nur Allah itu Maha Kuasa yang menerangi seluruh semesta dan kejadian. Perahunya perlahan-lahan belayar menelusuri laut dalam kebeningan malam yang dikabusi kabut.


Kesengsaraan adalah kesaksian cinta!

Ombak berdenyut dengan pada setiap denyutannya mengilas cahaya perak yang berlari dalam riak yang beralun-alun. Menurut ahli sufi itu lagi, apabila laut memunculkan diri (sebagai yang dikenal, ada, kesaksian dan cahaya), maka ia dipanggil ombak. Ia merupakan kenyataan dalam peringkat kedua, iaitu kenyataan menjadi "yang dikenal" dan "yang diketahui". Pengetahuan dan ilmu Tuhan menyatakan diri dan bentuk "yang dikenal"
dan "yang diketahui".


Perahunya teroleng dialun ombak. Semakin lama semakin jauh meninggalkan daratan dan semakin jauh ke tengah. Ombak laut bagai mengulit dan menguja-uja kalbunya hanyut dalam satu perasaan yang begitu mulus dan bening.


Cinta adalah kedalaman laut yang penuh rahsia!

Ayunan ombak yang mengoleng-oleng semakin menenggelamkan dirinya dalam rasa yang tidak bertepi. Ombak kini wujud sebagai suatu daya yang menarik dan menolak, menghidup dan memati, menggerak dan membeku. Ahli sufi itu menyatakan bahawa roh yang menggerak dan menjadi daya tenaga itu adalah kenyataan dalam peringkat ketiga, iaitu kenyataan yang berupa roh wujud dan maujud. Perahunya berdesar lalu membelah laut. Layarnya berkembang penuh bagai bulan perbani di langit yang terang. Malam temaram berpuput yahum yang menerpa menikam dingin yang dalam. Sumsumnya pedih ditikam dingin, namun kalbunya terbakar menyalakan cinta.


*"Sirr Sirrihi!" Jadi maka jadilah!

Bukan dia yang menyatakan itu. Buih-buih memutih di muka ombak, berlari-lari mengejar kabut; sedang di bawah ombak ikan dan segala hidupan laut berlegar dan bergerak bersama nyawa dan roh yang sempurna yang ditiupkan. Ahli sufi itu menyatakan bahawa penciptaan jasmani alam semesta, makhluk-makhluk, termasuk manusia ini merupakan kenyataan dalam peringkat keempat.


Perahu telah begitu jauh ke tengah laut. Laut tanpa daratan lagi. Daratan telah hilang sehingga dia pun terlupa bagaimanakah rupa daratan itu. Ampuni aku ya Tuhan. Dia menyeru dan melutut. Dia semakin takut dan gentar. Namun dalam masa yang sama, kalbunya semakin terbakar oleh api dingin yang sejuk bagai ais. Perlahan-lahan dia jatuh. Terkulai dan akhirnya hanyut menjadi kecil dan kecil. Larut menjadi tiada dan kosong.



Laut! Aku telah bebas dari daratan!

Aku perbendaharaan tersembunyi, Aku cinta untuk dikenal, maka Aku mencipta dan dengan demikian Aku dikenal. Tanggal dirinya - terlepas daripada keterpautan dunia. Tunggal dirinya - tidak bercampur atau berpisah.

Dia menjadi setitis air yang larut di dalam kemasinan laut yang tidak bertepi.



Pagi di pantai. Sekumpulan kanak-kanak berlari berkejar-kejaran di gigi pantai sambil menyanyi-nyanyi melagukan syair:

**Hamzah gharib unggas quddusi
Akan rumahnya Bait al-Ma'muri
Kursinya sekalian kapuri
Min al-asyjari di negeri Fansuri

________________________________________________________________

*Rahsia yang paling tersembunyi/rahsia Tuhan yang Maha Dalam.
** Bahagian daripada syair Syarab al-Asyiqin karya Hamzah Fansuri.


~~~



Mingguan Malaysia, 26 Disember 1999

Pemenang Hadiah Utama, Kategori Cerpen
Hadiah Sastera Kump. Utusan-Public Bank 1999

Nenek Negro Di Kota Mekah


fragmen cerpen
Faisal Tehrani





Merpati-merpati indah sedang tekun beribadah. Engkau terhidu bau atar mengapung harum menusuk deria hidu dan melihat langit lagi, awan nipis dan angin sesekali sepoi sahaja tiupannya melanggar pakaian pada tubuh, menampar pipi. Engkau bilang tasbih di tangan.


Azan Isya' pun berkumandang. Engkau bersembahyang. Lunak suara imam membacakan surah Yaasin, penawar hati di dalam al-Quran.


Kemudian, sesudah solat jenazah usai, engkau meluru ke arah Multazam, sedar engkau tidak ditegah menghampirinya, lantas engkau berdoa lagi. 50 tahun engkau mahu mempunyai anak.


Suami engkau pernah berkata, “Tak apa Hajar. Abang sudah redha dengan ketentuan Allah. Kita bahagia bersama dan tentu sahaja ada hikmah besar yang tidak pernah kita maklumi.”

Tetapi kali ini engkau meminta-meminta-meminta.


Engkau pulang bersama suami, bersama berpimpinan tangan menghala ke Asia Palace, di hadapan kedai runcit berhampiran hotel engkau singgah sebentar untuk membeli air mineral botol besar.



Tiba-tiba engkau disergah nenek negro itu. Ia bertudung serba hitam dan kepam. Pipinya berkedut dan tangannya; sepuluh jari berbalut warna jingga inai yang kian pudar. Matanya kuyu. Bibir nenek negro itu bahagian bawah lebih tebal dari bahagian atas sedikit terjuih dan engkau sedar di kedua-dua lengan terpasang gelang perak yang sarat. Dia berdiri di hadapan muka pintu kedai runcit tidak bersuara dan hanya pergi setelah diberi air mineral sebotol oleh pekedai yang tidak banyak bicara dan semacam mengerti ragam nenek tersebut.



“Ketepi Hajar, nenek gila nak lalu.”
Kata suamimu, menghela tangan untuk memberi laluan kepada nenek berkulit legam itu. Dia menoleh ke arah engkau, merenung tepat seolah-olah memahami kata-kata suami engkau dan marah menyala pada matanya terpanah membakar rasa dalam jiwa engkau. Telan air liur engkau telan dan engkau perlahan-lahan cuba tersenyum. Nenek negro masih tajam merenung tanpa reaksi dan kemudian perlahan-lahan dia juga tersenyum.


“Jangan abang cakap begitu lagi lain kali. Marah dia.”


“Argh bukannya dia faham.”


“Tak faham pun tak baik kata begitu, orang gila di kota Mekah jangan-jangan wali Allah.”



Engkau naik ke tingkat atas, makan minum dan sudah lima hari, setiap kali makan tengahari serta makan malam engkau menghimpun pelbagai jenis buah-buahan yang dibekal oleh pakej umrah. Ada pisang, limau, oren dan anggur. Engkau bawa semua naik ke atas dan isi di dalam kampit yang asalnya kecil kini mengembung menjadi besar.



Engkau tidur dengan perut kekenyangan. Sebelum mata terlena, engkau terbayangkan nenek negro lagi. Kemudian engkau lelap terus. Di dalam tidur nenek negro muncul tersenyum kepada engkau dan bersuara. Mula-mula butir katanya tidak jelas tetapi kemudian bicara itu menjadi terang. Nenek negro ternyata fasih berbahasa Melayu dan Arab.



“Siti Hajar, akan aku bacakan ayat kedua surah al-Insan bahawa: Sesungguhnya Kami mencipta manusia daripada nutfah yang bercampur.”


..

~~~


*Ketahui sepenuhnya kisah Siti Hajar, suaminya dan nenek itu. Dapatkan Kekasih Sam Po Bo.

November 06, 2008

Narawastu Amman


fragmen cerpen Faisal Tehrani




Masjid Ahlul Kahf tidak jauh dari gua Ashabul Kahfi di Urdun, Jordan.


..Tujuh pemuda ingkar. Kala diminta menyerahkan korban untuk sembelihan berhala, salah seorang darinya menjawab.


“Hanya kepada Allah kita berkorban. Selain dari Allah maka ia adalah kafir.”


Ketika maharaja keluar kota untuk berburu. Diomedes yang memiliki mata paling biru di kalangan mereka pun menghimpunkan rakan-rakannya untuk satu mesyuarat penting.



“Sebelum raja gila itu menggugat akidah kita, marilah kita tinggalkan segala harta benda dan berangkat ke gua dibukit Anchilus. Sesungguhnya berlindung dari kekufuran adalah sesuatu terpuji. Kita harus memilih antara menyelamatkan akidah atau menawar jual beli dengan kejahatan dan kemaksiatan.”



Setelah itu mereka mewakilkan Imblicus untuk keluar ke kota dan menyamar sebagai pengemis buta, siap dengan pakaian compang camping langsung membeli makanan. Waktu itu tersebar sudah, berita maharaja telah pulang dari berburu binatang dan kini sedang memburu tujuh pemuda yang tidak mahu mematuhi kata-katanya.



Maharaja bertitah,
“Pemuda-pemuda menentang aku adalah pemuda maksiat terhadap berhala. Pemuda yang baik dan setia adalah pemuda yang berterima kasih kepada berhala dan pemerintah.”


Imblicus pun pulang mengkhabarkan berita nestapa. Makanlah ketujuh-tujuh sahabat dalam dukacita dan kebimbangan. Terdetiklah di hati mereka, bagaimanakah akan diselamatkan akidah suci ini dari dicemari sedang mereka sudah pun mengundur berlindung dalam gua iman yang kecil dan redup ini..







~~~


*Cerpen
ini tersiar di Akhbar Jawi Utusan Zaman pada 26 Disember 2004,
serta
diterbitkan semula di dalam Kekasih Sam Po Bo.

*** Rujuk di sini, dan di sini untuk maklumat lanjut
tentang sejarah Ashabul Kahfi.

***Gambar-gambar di atas diambil dari sini.

November 05, 2008

Rahmat-Nya mendahului murka-Nya





Sabda Al-Musthafa,
Muhammad Rasulullah Sallallahu 'Alaihi Wasallam:


"Andaikan kamu berbuat dosa sehingga dosamu mencapai langit, kemudian kamu bertaubat (dengan sebenar-benar taubat), nescaya Allah Subhanahu wa Ta'ala mengurniakan keampunan kepadamu."

[Riwayat Ibn Majah]


"Semua anak Adam (manusia) itu sering membuat kesalahan (dosa), dan sebaik-baik manusia yang membuat kesalahan (dosa) itu ialah orang-orang yang selalu bertaubat."

[Riwayat Al-Tirmizi]



"Ketika Allah Subhanahu wa Ta'ala. telah selesai mencipta semua makhluk, maka tertera tulisan di atas Arsy, berbunyi:

Rahmat-Ku mendahului murka-Ku (Rahmat-Ku mengalahkan murka-Ku)."

[Riwayat Bukhari, Muslim & Ibn Majah]


November 04, 2008

Ratu Kosmetik


fragmen cerpen Faisal Tehrani





..

6.
Che Gayah cucunda kita, sungguh cucunda ini tak lelah mengecek ilmu. Baiklah biar nenda jelaskan lagi inti sari yang mana perlu. Tumbuhan yang lain untuk keperluan kecantikan, dapat digunakan minyak zaitun dan air mawar. Tumbuhan ini rasanya sejuk dan sangat berkesan dalam melembutkan kulit. Tumbuhan lain yang mesti cucunda perhatikan tak lain tak bukan daun lidah buaya untuk memperhalus kulit serta pangkal batang pokok pisang untuk melembutkan kulit telapak kaki yang kasar diganding ketimun untuk merawat wajah. Campuran pati kentang kalau digaul dengan pati mengkuang dan air mawar dapat melembutkan dan memutihkan kulit. Sedang bayam boleh diusahakan menjadi serbuk ubat jerawat. Khasiatnya untuk menguncupkan jerawat dan menghilangkan rasa gatal di muka.


Cucunda memang bangsa Melayu hebat menampung ilmu pelbagai, sayang orang tak berapa mahu menjadi Melayu. Yang mereka gilakan yang Barat-barat itulah. Adapun tokoh kosmetik ada wujud dalam dunia Islam satu masa dahulu. Nama ilmuan ini
al-Zahrawi, dalam bahasa Latinnya Albucassis. Hidup di Cordoba, Andalusia antara tahun 936 hingga 1013 masehi. Terdapat sebuah kitabnya bernama at-Tasreef 30 juzuk semua. Juzuk 19 itu yang wajar cucunda gali. Memang khusus tentang ilmu-ilmu menjaga kecantikan ini. Ada dibincangkan cara membuat deodoran, mencabut bulu roma, membuat losyen tangan, sampaikan kaedah mewarna rambut dengan inai pun ada. Dalam juzuk itu bab adwiyat al-zinah malah menerangkan cara membuat lipstik, dan sabun serbuk untuk mencuci pakaian.


Cucunda Che Gayah, lihatlah peradaban 800 tahun Andalusia. Saat itu Eropah dalam kegelapan, kusam dan busuk, serta ahli masyarakatnya ramai yang bahlol bercampur tolol. Umat Islam sudah punya 600 buah masjid, 300 tempat mandi awam, 50 buah hospital, 70 buah perpustakaan dan jalanan digantung lampu untuk menerangkan laluan. Sampaikan ada penulis orientalis
Stanley Lane Poole menulis dalam bukunya The Moors in Spain pada tahun 1887 bahawa sesudah kejatuhan peradaban Islam, Eropah mendapat cahaya dari pelita yang dipinjam. Sampai sekarang al-Zahrawi diabadikan di Cordoba. Cucunda Che Gayah andai sudah banyak menjual produk kosmetik melalui jualan langsung nanti pergilah melancong ke sana dan ziarahlah rumah nombor 6 di Calle Albucassis, tertera di hadapannya dengan plat gangsa: Di sini diamnya Abul Qasim. Itu sahajalah omelan nenda dahulu.


7.
Nenda Puteri Gunung Ledang,

Ada lagi disorok apa-apa? Janganlah diperam-peram..


~~~


*Pernah tersiar di dalam majalah URTV 15-31 Ogos 2005,
selebihnya cerpen ini termuat di dalam
Kekasih Sam Po Bo.


November 02, 2008

Cahaya Pada Jiwa


fragmen cerpen Faisal Tehrani


..Alif meronta-ronta dalam jiwa. Dia memberitahu saya, wajah anak-anaknya kadang-kala terlalu kuat mengelus nurani. Akan tetapi dia juga memikirkan, kalau diambil wang itu, belum tentu anak-anaknya akan sihat diubati dan dirawati. Apa berkatnya wang begitu. Datang dan pergi tanpa restu langit. Bukan itu jalan penyudahnya, tengkar diri. Wang tersebut, yang terkandung dalam beg kerja adalah jawapan, desak bahagian otak yang lain.


Alif bertarung. Pertarungan yang terlalu payah. Dia mesti menang, untuk menerima cahaya atau menerima wang lantas menerima dosa dan menerima bahana. Merobohkan maruah baik dan mendobrakkan peribadi mulia yang sekian lama dia bina?



Wang… wang… wang…


Saya ikhlas Encik Alif,
bibir Encik Ta menyebut-nyebut itu terbayang-bayang.

Dia buntu.
Wang… wang… wang.


Kereta membelok perlahan mengarah ke Jalan Jim. Waktu rusuh petang jam lima setengah, semua kenderaan menyerbu jalanraya untuk pulang ke rumah. Dia sendiri porak peranda dalam sukma. Alif berada dalam tekanan memuncak. Terlalu puncak bagaikan akan meledak segala isi dan berhamburan. Kala itulah kata Alif, dia membulatkan hati, dengan rasa begitu pilu dan geram bercampur-baur. Waktu itu ada dua perkara mendorong dirinya menghentikan kereta di tebing, berlari ke arah taman yang tersadai permai tidak jauh dari pinggiran jalan. Dua tiga gadis Cina yang bersiar-siar di taman tercengang-cengang melihat tampangnya berlari-lari tergesa seolah-olah ada sesuatu yang dikejari.



Pengakuan Alif, pertama dia terkenangkan wajah isterinya. Tsa adalah cahaya selama ini di dalam diri. Cahaya hiasan. Kerana perempuan itu, kelembutannya begitu memukau dan dia berasa selamat didorong oleh seorang isteri yang baik. Dia tidak mahu mengotor wajah-wajah ahli keluarganya dengan debu dan kotoran bila dibangkitkan di hari akhirat kelak. Alif sudah tersedu.


Kedua, kata Alif lembut dan lunak dengan air mata tertahan, ialah waktu itu dia terdengarkan ayat-ayat Surah al-Syams mengalun lembut dari kaset bacaan ayat suci al-Quran yang terpasang pada pemain kaset dalam keretanya. Suara qari menyentuh hati. Dia menterjemah sendiri secara penuh hati-hati dan mencengkam jiwa ayat-ayat sembilan dan sepuluh itu.


Sesungguhnya telah menanglah orang yang membersihkan jiwanya. Dan rugilah orang yang mengotorkannya.

Alif tiba-tiba bagai dibisikkan frasa
zakkaaha, ayat al-Quran yang mendorong pertumbuhan dan peningkatan jiwa bercahaya sedang kalimat dassaha itu menunjukkan kekotoran hati yang haram dan menjelekkan. Ustaz Ba dirasakan memapah hala tujunya. Ucapan-ucapan dalam kuliah tafsir datang membelai cuping telinga. Wajah Tsa dan alunan ayat-ayat sembilan dan sepuluh terngiang mendengung dalam telinga memasuki terowong hatinya, padu diserap rongga-rongga.


Kerana dua sebab itulah dia menghentikan kereta dan menuju ke arah kawasan taman, dia terus mengambil segenggam tanah dan memasukkan ke dalam mulutnya dan mengunyah-mengunyah dan mengunyah lalu meluah. Tanah kotor hitam itu penuh dalam mulut, memberi selekeh pada bibir dan terpalit pada misai serta baunya yang busuk memualkan. Ia sama sekali tidak enak, ia menyucuk-nyucuk tekak dan perut untuk muntah. Di situ dia terduduk menangis dan menangis meminta Allah memberikan dirinya perkasa dalam pertarungan yang besar tetapi tidak ternampakkan oleh manusia lain itu.



Dia lebih rela makan tanah, dan Alif buat seketika berasa terlalu insaf. Dia juga setelah itu berasa menang. Gadis-gadis Cina tadi hanya melihat dari jauh separuh gamam separuh kebimbangan.



Begitulah dengan keadaan kotor dan comot, dia melangkah masuk ke dalam wad di Hospital Tawakal mendapatkan isterinya yang kehairanan dan ibu mertuanya yang tercegat keanehan.

..

~~~


Cerpen ini memenangi Hadiah Sastera Berunsur Islam 2001 anjuran
Yayasan Pelajaran Islam-DBP.


*Selanjutnya, termuat di dalam Kekasih Sam Po Bo.


Oktober 29, 2008

Rekah-rekah Kota Andalusia



sebuah cerpen

karya Fahd Razy






711 Masihi - Jeneral Islam Tariq Ibnu Ziad memimpin tentera gabungan orang-orang Berber dan Arab keluar dari Morocco untuk menguasai Sepanyol. Mereka merentasi Selat Gibraltar dari Tangier ke Algeciras. Dalam tempoh dua tahun dengan satu pertempuran di Guadalete berhampiran Cadíz, Vandalusia telah berjaya diduduki sedang orang-orang Visigoths berundur ke kawasan pergunungan berhampiran Jerez. Pendudukan orang Moors (Arab, Berber, dan Hispano-Roman) di Semenanjung Ibez sehingga ke Pyrenees, sempadan Sepanyol-Perancis telah disambut baik oleh rakyat dan nama Vandalusia ditukar kepada Al-Andaluz sehingga kini.


Kami keluar awal dari El Conquistador. Kata Azahari tidak mahu terlepas merakam panorama pagi Andalusia, selanjutnya ke tourist office di Torrijos. Membeli tourist guide-agakku. Aku tidak berani membantah. Semalam aku dileterinya kerana menempah di hotel El Conquistador. Hotel Marisa lebih murah katanya, sekadar 57 Euro. Kalau bernasib baik boleh mendapat bilik menghadap ke Statue of the Virgin of Rosales atau Patio de los Naranjos. Hotel Mezquita pula ada bilik yang menghadap terus ke Masjid Cordoba. Lebih jimat dan servis memuaskan.


Rujuk tourist guide dulu. Kemahiran asas melancong: bijak merancang!

Aku sekadar mengangguk. Penat perjalanan menutup langsung nafsuku untuk membela diri. Ah! Peduli apa? Semua ini ditanggung oleh syarikat. Kemahiran asas survival: bijak mengambil peluang! Aku tersenyum nakal sendirian. Kami asalnya dihantar ke sini untuk persediaan kolum baru di majalah kami, ‘Rekah-rekah Kota Andalusia’. Azahari yang mengelolakan ruangan itu. Aku sekadar menemani sambil merebut peluang menjengah dunia luar. Mengambil kesempatan- Survival. Kami telahpun ke Seville sebelum tiba di Cordoba semalam dengan keretapi.


Kami memilih untuk berjalan kaki - pilihan bijak bagi pelancong jika tidak mahu terlepas mengamati keunikan lorong-lorong kota itu. Keadaan tidak sibuk. Landskap bangunannya tampak keputihan- sememangnya identiti kota klasik Andalusia kesan akulturasi budaya Islam, Yahudi, dan Kristian sekaligus membangkitkan suasana romantis kota ini. Sudah tentu banyak ilham yang akan kuperolehi untuk sajak baruku sekiranya dapat lama di sini. Lewat lorong Cardinal Herrera, kami nampak bangunan Mezquita (Masjid Cordoba) yang tersergam gah di tebing Guadalquivir, sepadan peranannya sebagai mercu tanda ‘Permata kurun ke-10’ ini. Masjid ini seingat hafalanku dibina oleh Abd Rahman I pada 785 M dan diperbesar beberapa kali oleh para khalifah sesudahnya. Dinding masjidnya mencerminkan senibina Islam klasik serta Torre del al Minar yang setinggi 305 kaki itu mengingatkan aku pada puisi cetusan Muhammad Iqbal, La mosquée de Cordoue. Aku terpukau.


Kau sajalah ke dalam, aku mahu ambil angin di luar. Aku tersenyum. Alasan! Rungut Azahari. Sementara dia masuk ke dalam tourist office, aku merayau di pinggir Guadalquivir yang tenang. Ada jambatan Puente Romano yang dibina sejak era Augustus merentang ke seberang. Di situ letaknya the Statue of St. Raphael.


Karya Bernabe Gomez del Rio - lewat 1651, kata Azahari mengejutkan aku dari belakang. Kagum aku! Kau hafal sejarah Cordoba? Azahari geleng, lalu mengangkat tourist guide yang baru dibelinya- mata kanannya dikenyit, perli. Aku cuma tersengih. Angin galak bertiup dari selatan. Azahari tutup matanya, menghirup dalam-dalam. Aku tahu dia kepenatan. Pagi tadi dia tidur dua jam lewat daripadaku untuk menyiapkan jurnalnya.


Bukankah Andalusia dikuasai Islam sekelip mata?

Aku tidak pasti samada itu adalah pertanyaan atau satu penegasan. Dia memasukkan tourist guide ‘kesayangannya’ ke dalam beg Deuter biru di belakangku.

Ya, aku teringat seorang sejarawan, Dozy, dalam karangannya Histoire des Musulmans d'Espagne yang ringkasnya begini: Penguasaan Islam ke atas Sepanyol adalah suatu ‘maslahat’ yang mencetuskan revolusi sosial serta pembebasan rakyat dari rantai kepincangan sistem politik kristian ketika itu. Apatah lagi wujudnya perbalahan antara Trinitarian Christians dan Arian Christians. Jadi?


Azahari mengerut keningnya yang bertangkup di tengah-tengah itu seolah-oleh membangkang reaksiku.



Jadi gerakan tentera Muslim disokong sendiri oleh rakyat yang tertindas termasuk The Bishop of Seville dan Toledo sekaligus mengurangkan serang balas ketenteraan kerajaan Kristian. Maka mudahlah Islam bertapak. Azahari mengendurkan kerutannya dengan dengusan faham. Tapi dari kontur wajahnya masih tidak puas. Azahari sememangnya pemikir yang tidak pernah puas jika berdebat.


Kami mula bergerak ke the Puerto del Perdón, gerbang yang dibina oleh golongan Mudejar di Masjid Cordoba. Kunjungan ke Cordoba tidak sempurna jika tidak menjenguk ke situ. Kelihatan ramai pengunjung mula berkelintar sekitar kawasan itu. Seorang lelaki berpakaian ala Arab dengan kefiyya merah terlilit di leher menghampiri kami lalu menawarkan dua bungkus falafel panas. Kami yang kelaparan tidak sanggup menolak. Aku tersenyum sambil berjenaka sendiri mendengar lelaki itu cuba bercakap Inggeris dengan telor latin berbaur arab - Don’t worry. Halal..! Halal..!


Aku lihat Azahari. Dia tersenyum kelat sedari tadi lantaran tidak mahu kalah dengan hujahku tadi. Sambil lazat mengunyah falafel, dia sempat memetik tulisan Blasco Ibanez dalam Dans l'ombrc de la cathédrale yang menganggap penaklukan Muslim di Andalusia sebagai ‘civilizational expedition’ lantaran memperlihatkan kebebasan beragama sebagai tonggak. Dia memberi contoh; dikri pada tahun 694 (sebelum kedatangan Islam) yang menghukum Yahudi yang menolak pembaptisan jika dibandingkan dengan toleransi Islam terhadap Gereja Kristian dan synagogue Yahudi. Aku tersenyum angguk, sengaja memberi ruang untuknya berasa puas.


Azahari mengeluarkan matawang euro berwarna jingga dari dompet yang terselit di seluar Levi’s lusuhnya lalu membayar di kaunter tiket. Aku gelojoh menghabiskan falafel lalu menurutinya masuk ke bangunan bersejarah itu. Sempat aku menendang tin minuman yang terbiar di kaki lima. Dalam hati aku marah-marah. Tunggulah sehingga aku habis makan dahulu!



Betul-betul di hadapan pintu masuk masjid, di perkarangan sebenarnya, terhampar Patio de los Naranjos -sebuah taman yang dipenuhi oleh pokok oren. Tepat di tengah-tengah terdapat air pancut. Dari situ, struktur seni bina Mezquita yang unik tampak indah pabila diamati. Aku terpaku, mulut separuh terbuka, dahi berkerut menyebabkan Azahari terkekeh-kekeh lucu.

Jangan kagum dulu sahabat. Kita belum masuk. Kalau kau hidup di zaman Islam Andalusia, tentu kau mati kekaguman melihat keindahan Cordoba yang dipenuhi tempat mandi, aqueduct, perpustakaan, masjid-masjid, dan istana yang menakjubkan. Ini kota pertama menggunakan lampu jalan, tahu?
Aku sekadar menjengil geram. Azahari tidak peduli. Dia terus merakam panorama itu dengan kamera Minolta Dimage A1nya yang baru dibelinya.



Di tengah-tengah masjid, tersergam Cathahedral dengan Italian dome yang dibangunkan pada tahun 1523 oleh keluarga Hernan Ruiz. Bangunan itu dibina di dalam Masjid Cordoba setelah umat Islam berjaya diusir dari Andalusia oleh tentera Kristian. Satu pencemaran seni, tegas Azahari. Dia kecewa melihat kesucian senibina Islam itu ternoda. Aku segera terpanggil King Charles V yang turut menyesal sebaik melihat cathahedral itu siap didirikan: You are making what exists in many other places (cathahedral) and you have unmade what was unique in the world (Mezquita). Tapi fikirku lain. Aku tidak beranggapan keunikannya telah hilang.


Nah, lihatlah suatu hasil adunan senibina Islam dan Kristian dalam satu pagar! Bukankah itu keunikan yang tidak tertanding oleh Kuil Abu Simbel mahupun Angkor Wat. Azahari hanya menggeleng mendengar kata-kataku. Sama ada dia tiada hujah, atau sengaja tidak mahu mempedulikan aku.



Azahari tidak putus-putus mencatat. Memperihalkan keunikan Mezquita dengan tiang granit, jasper dan marmar yang berselang merah-putih. Kata Azahari, pembinaan tiang-tiang sebegitu dipercayai menyerupai aqueduct di Merida. Aku terdiam. Terus ke depan, letak mihrab dan maqsura yang dibina oleh Al Hakam II.



Kau tahu, sewaktu Eropah dicengkam Zaman Kegelapan, Andalusia memimpin ketamadunan dengan berumbikan lunas Islam sebagai panduan akhlak sekaligus menjana perkembangan ilmiah termasuk sains. Aku terpinga-pinga. Azahari menjadi semakin khusyuk. Ekor matanya mengintaiku, menanti reaksi barangkali. Dia nampaknya tidak mahu terlalu ralit berbual, sehingga terbengkalai research yang hendak dibereskannya itu.



Tapi apa pertalian ilmu sains dan akhlak? Bagaimana unsur keagamaan sebegitu membantu ketamadunan teknologi Andalusia?



Hei, sahabat. Kau dah lupa ke? Azahari menyimpangkan kameranya ke bahu sambil terkekeh-kekeh memandangku. Kemudiannya membuka buka nota sebesar tapak tangan tertempel gambar Che Guavara di kulitnya sambil mencatat. Aku mendengus lalu bergerak, berkira-kira mahu keluar kerana kami telah berada lama di situ. Azahari yang sedar aku tidak mahu menunggu mula menjawab - kau sudah lupa pada Ibn Rusyd? Bukankah dia menggariskan tiga elemen penting dalam membentuk ‘Harmony of science and religion' yang diamalkan majoriti ilmuwan Andalusia?



Sains, akal, dan wahyu…! Aku menyampuk pantas. Bangga. Baru aku teringat. Malahan Maimonides, si filosofer Yahudi era Andalusia itu juga turut menyokong prinsip ‘sebab’(reason) dan ‘wahyu’(revelation) yang dinyatakan Ibn Rusyd itu. Oooo.. Azahari menyambung mencatat, tapi ada senyum misteri darinya. Senyum sindir agaknya. Ah! Aku peduli apa, bukannya aku tidak tahu tentang itu. Cuma aku terlupa.



Segera aku mengeluarkan tourist guide yang baru dibeli Azahari. Semalam dia memberitahuku mahu ke Alcazar de los Reyes- kira-kira dua blok dari Mezquita. Itu kota lama tempat tentera kristian berkubu untuk menawan semula Andalusia dari tangan Islam. Aku mencari laluan yang paling sesuai. Sekiranya melalui lorong Amador de los Reyes, lebih cepat. Tapi nanti terlepas peluang melihat keriuhan kota Cordoba dengan lebih dekat. Ya! Melalui lorong Cardenal Salazar, alang-alang boleh singgah ke Museo Taurino, muzium laga lembu (bullfight) di Judios.



Menyebut akan laga lembu, sepatutnya kami menonton perlawanan itu di kota Seville, di Plaza de toros de la Maestranja semalam. Tapi angkara Azahari yang tersangkut terlalu lama pada keunikan menara Giralda dan Alcazár menyebabkan kami terlepas. Ah! Pisang takkan berbuah dua kali. Segera aku menarik lengan t-shirt schwarzenbach putihnya. Jom! Aku tak mahu kita terlajak dari jadual seperti kelmarin. Hari ini aku mesti tengok aksi matador di Cordoba. Azahari menggeleng - bukankah kau menikmati tarian flamenco gipsi itu, tak cukup? Aku tersengih geleng.



Ketika kami keluar dari Mezquita matahari sudah hampir tegak di kepala. Sekarang musim panas. Cuaca di sini agak hangat berbanding negara-negara di utara Eropah. Kedudukan geografinya hampir dengan garisan khatulistiwa dan tidak jauh dari benua Afrika. Di sana-sini rakyat Cordoba berkeliaran. Pemandangan yang paling menarik di jalan-jalan kota sebegini adalah petak halaman di setiap rumah yang mereka gelar patio. Mereka menghiasi patio dengan aneka tumbuhan hiasan dan bunga-bungaan bahkan mereka berbangga sekiranya dapat menunjukkannya kepada khalayak tentang keindahannya yang menjadi warisan Andalusia turun-temurun.



Aku mengingatkan Azahari supaya memegang kameranya yang mahal itu dengan cermat. Kota romantis ini turut terkenal dengan jenayah jalanannya. Aku tidak mahu susah. Pelancong selalu menjadi mangsa.


Dalam perjalanan ke Museo Taurino kami bercerita panjang. Azahari mengingatkanku supaya tidak ralit di sana. Dua puluh minit, cukup. Sambil itu aku tidak sudah-sudah membahaskan isu adunan agama dalam falsafah. Wahyu dalam sains. Azahari meminjam nama-nama filosofer, Ibn Rusyd, Ibn Bajja, sehinggalah ke Ibn 'Arabi. Aku yang tidak mahu beralahpun menambah lagi- Ibn Massara, Ibn Gabirol, dan Ibn Hazm. Seperti biasa, perbincangan kami tidak ketemu jalan penyudah. Namun yang nyata, kami bertindih di atas satu titik selarian, kesemua tokoh-tokoh itu menyumbang ilmu yang tidak kurang pentingnya pada peradaban.


Andalusia adalah pusat perbahasan ilmuwan, kau tahu? Gelanggang berdebat.


Ya, jadi?


Oh. Kau tak nampakkah. Itu membuktikan betapa bidang keilmuan berkembang pesat. Mereka tidak taklid dan ikut-ikutan- ciplak! Mereka kaji dan mereka rumuskan sendiri. Banyak berdirinya universiti. Bercambah ilmu-ilmu baru sehinggakan sendat perpustakaan dengan buku, setanding Bait al Hikmah di Baghdad. Aku tersengih buat-buat melihat Azahari begitu bersemangat. Dalam fikiran, aku diam-diam membayangkan Abu Abbas al-Fernass, cubaan pertama manusia untuk terbang. Bukannya Wright Brothers!



Bagaimana dengan percanggahan? Bukannya semua ilmu itu betul. Sengaja kutimbulkan soalan itu untuk menjentik emosi Azahari. Dia memang cepat panas.



Azahari mendengus geram. Aku tersenyum nakal. Helahku menjadi.

Percanggahan ilmu bukannya suatu yang negatif, jika setiap pendukung tampil dengan hujah yang berasas. Perdebatan membantu ilmuwan mencari kesilapan. Para fuqaha’, ulama’ hadis, dan mujtahid juga berdebat. Bahkan antara Imam Syafie dan Imam Malik turut berbeza sedangkan Imam Malik adalah gurunya. Aku menepuk-nepuk bahu sahabatku, tapi ditepisnya. Aku tersenyum lagi. Diapun tersenyum juga.



Kami tiba di Museo Taurino lima belas minit kemudian. Sengaja kami berlengah, memberi ruang memerhati cacamarba ragam warga latin memperaga barang jualan. Azahari menunjukkan jam Casionya kepadaku sebelum masuk. Aku mengangguk faham. Kami tidak lama di situ, muzium itu gagal menambat hati kami benar-benar kecuali replika makam Manolete, lagenda toreador terkemuka berserta kepala lembu yang telah membunuhnya, Islero. Kami terus ke Alcazar de los Reyes Cristianos melalui Plaza Campo de los Maetires.



Sekarang? Kata Azahari ringkas, tiba-tiba, tapi penuh maksud bercangkaliwang berserta emosi dan kekecewaan.



Aku terperanjat mendengar Azahari merungut sendirian. Andalusia sudah tidak seperti dulu lagi, katanya. Entah mengapa tiba-tiba dia terpanggil satu kajian Dr. Abdellatif Charafi - Once Upon a Time in Andalucia. Menjelang saat-saat kejatuhannya, generasi Islam yang kemudian sudah kian tersasar. Rasa tamak, hasad, dan berpuak-puak warisan Jahiliyyah mula meratah segala pertimbangan kemanusiaan dan keadilan. Akhirnya, umat Islam sendiri yang membakar kitab-kitab Al-Ghazali, membuang kitab-kitab dalam perpustakaan al-Hakam II ke sungai, dan menghukum dengan tidak adil para ilmuwan.



Ibn Rusyd - Ibn Hazm - Ibn Tufayl - Ibn Arabi.


Nampak jelas kekecewaan Azahari pada tumbangnya Islam di Andalusia dan seluruh dunia. Sesudah Sultan Muhammad membuka Constantinople - setelah Salehuddin Ayyub membersihkan Al Quds, kita hari ini kenapa masih gagal bangkit? Azahari, di sinilah silap kita. Seperti yang dirumuskan oleh Dr. Abdellatif Charafi sendiri, kita hari ini memerlukan Islamic Renaissance yang tulen, menyatukan umat dengan kebenaran aqidah. Memulihkan akhlak dan jati kendiri dengan ketulusan Iman. Tapi umat Islam tiada kesatuan. Golongan ahli ibadat menjadi mundur dalam penguasaan ilmu. Golongan ilmuwan pula leka daripada akhirat. Aku dapat merasai percikan kecewa Azahari menyusupi teduh naluri kejiwaanku.



Sempat juga aku meminjam teori kebahagiaan Al Ghazali- ‘Kebahagiaan itu adalah kemuncak jalan tasawuf dan merupakan hasil daripada ma'rifatullah atau mengenal Allah dengan sebenarnya. Asas kebahagiaan ialah jalinan ilmu dan amal’.



Azahari mengangguk setuju. Wah, jarang sekali dia menyetujuiku tanpa menjualkan hujahnya! Dia merumuskan hujahku dengan memetik kitab Sayyid Quttub, Ma’alim fi al-Tariq - manusia kini di ambang kehancuran kerana satu gejala penyakit yang bukanlah penyakit yang sebenar - manusia kebankrapan nilai!




Kami menghayati kemegahan kota Islam klasik itu dengan jutaan persoalan dan pengharapan. Sambil melewati lorong-lorong kota Cordoba yang berliku-liku dan boleh menyesatkan (bagi yang tiada tourist guide) sempat kami tebarkan fikrah jauh ke dunia ketiga dengan wajah-wajah negara Islam terkial-kial mencari dahan untuk menyangga. Survival of the fittest? Sedang pohon aqidah yang mercup dari keesaan Al-Khaliq itu kita semua lepaskan seperti dedaunan yang gugur dari pohon di tepi hotel kami. Kita adalah manik yang terlerai, kata Azahari. Atau sekadar buih-buih yang melata dan rapuh. Melayah ditampar ombak, pecah diusik jari.


Kau tahu, Christopher Columbus telah mendalami lakaran peta dunia Al-Idrissi sebelum menemukan idea tentang ‘Dunia Baru’. Kata Azahari cuba berjenaka, namun dari senyumannya jelas tertempel kerusuhan. Aku cuba menambah Al-Zarqalli dengan astrolab serta Ibn Muadh of Jaén dengan konsep trigonometrinya.



Kami tiba di Alcazar de los Reyes Cristianos yang memperlihatkan rupa senibina Roman dan Gothic dengan tiga buah menaranya tersergam gagah - The Tower of Lion - The Tower of Allegiance - The Tower of River. Lewat tahun 1031M, sistem kekhalifahan di Andalusia runtuh sesudah melewati period kepincangan politik dan sahsiah yang dipuncakan dari umat Islam sendiri.



Andalusia berpecah menjadi beberapa buah taifa (kerajaan kecil) yang sering bertelagah menyebabkannya telah dikuasai oleh puak Almoravids dan kemudiannya Almohads sehinggalah Kerajaan Kristian Portugal berjaya memerdekakan diri tangal 1250. Dengan perkahwinan Isabella I of Castile dan Ferdinand V of Aragon maka kerajaan Kristian menjadi terkuat di semenanjung tanah Iberia- menguasai satu persatu daerah Andalusia.



Azahari membuka tourist guide birunya dengan kening berkerut. Kota ini dibina oleh Alfonso XI pada tahun 1328 untuk tujuan ketenteraan. Dan juga di sinilah Ferdinand V dan Isabella berkubu sebelum menyerang kota Islam terakhir - Granada.



Granada… Di sini nafas Islam di kota Ilmu berdesah buat yang penghabisan.

Aku tersenyum mengangguk. Tapi dalam senyum itu ada rasa yang berbaur. Di sini, di sini aku nampak rekah-rekah kota Andalusia, perlahan-lahan meruntuh. Aishah, ibu Abu Abdullah, Raja Islam Granada terakhir pernah berkata ketika anakandanya kali terakhir melihat Alhambra - 'Abu Abdullah menangis seperti wanita demi sebuah kerajaan yang dia tidak dapat pertahankan sebagai seorang lelaki.'


Azahari terduduk.

~~~


*Karya ini menyandang tempat pertama Pertandingan Menulis Cerpen Remaja Nasional 2005.