Jun 03, 2010

Taubat Yang Sejati





Orang yang tenang-tenang atau terbiasa-biasa dengan dosanya adalah
orang yang angkuh atau jahil, yang belum sedar-sedar bahawa ia cuma
seorang hamba yang mutlak milik Tuannya. Ia tak punya apa-apa secara
hakiki, namun nafsu dan syahwatnya memperdaya bahawa setiap yang terlihat
di sini; di balik peluang dan usaha mampu dia miliki.


Maka, akankah datang saat untuk tergerak hatinya? Perlukah ia
dikeluarkan dari Kebenaran, untuk menyedari Kebenaran itu. Keluar
dari Kebenaran bermaksud lain—bencana, tatkala nurani dicambuk ujian
sebagai tanda keadilan-Nya, hingga akhirnya terpicu sesal yang merawan
jiwa. Tanpa sesal, sulit untuk kalbu berniat kembali pada-Nya.


Sesal mengawali ketergerakan untuk bertaubat, peranjakan dari
jalan yang menyimpang menuju jalan lurus. Namun sesal ini bukan hanya
satu-satunya fasa, kerana takkan berguna penyesalan sebelum memutar
turbin-turbin semangat perbaikan.


Tiadalah menguntungkan mereka
yang mengabaikan tanda-tanda rosaknya jiwa,
hingga tidak tumbuh
sezarah rasa sesal di dalam dada.


Tiadalah penyesalan itu berguna
hingga mulai tertitis makna hamba-Nya,
tiadalah makna itu tertanda
hingga mata hati meratap merana.


Tiadalah ratapan itu berfaedah,
hingga membulatkan tekad untuk berubah.


Tiadalah tekad itu mengarah pada apa-apa,
selagi kesempatan yang ada ditunda-tunda.


Beramallah, jangan cukup sekadar tahu.
Bertindaklah, jangan hanya sekadar merasa sesal.


Yang penting bukan kesedaran sesaat,
tapi kelangsungan yang mengiringi ke akhirat.


Sekaranglah masa, inilah kenyataan.
Kembali, lagi kembali.
Sampai taubat ini bertahan,
taubatlah beribu kali.


Hingga redha pada pandangan Ilahi,
atas anugerah-Nya,
atas kemurahan-Nya,
atas kasih-Nya, sayang-Nya
siapa yang benar-benar mencari,
akan Dia hadiahi..
Taubat yang sejati.



********************************



Ya Allah,
kini kami bersimpuh di hadapan-Mu.
Sesal dan insaf mengucur
di sekujur tubuh kami.
Kami malu, dengan perlahan
mengetuk pintu-Mu. Ya Allah,
bilakah kiranya pintu itu ditutup
sehingga harus diketuk?


Duhai Rabbi, mengapa pertaubatan
tak kunjung memadai kami lakukan?
Duhai Rabbi, mengapa kemaksiatan
terus berulang kami lakukan?
Duhai Rabbi, mengapa ketaatan
tak mencegah kami dari kemungkaran?
Ya Rabbi, kami mohon ampunan-Mu
atas seluruh sikap kurang-ajar kami.


Duhai Yang Maha Mendengar
lagi Maha Melihat,
kurangnya ilmu kami mohon tidak
menghalangi ampunan-Mu.
Kurangnya amal kami mohon tidak
menghalangi pemberian-Mu.
Dan kurangnya keikhlasan kami
mohon tidak menghalangi kasih-Mu.


Ya Allah, izinkan hamba-hamba-Mu ini untuk
meyakini keluasan rahmat-Mu,
sekalipun telah menumpuk maksiat kami.
Jadikanlah ingatan akan kurniaan-Mu
benar-benar modal bagi kami untuk
tidak berputus asa,
sekalipun di tengah berat dan
sempitnya suasana.


Ya Allah, perkenanlah hamba-hamba-Mu
menaruh harapan pada luasnya rahmat-Mu
agar kami berlayar di samudera keredhaan,
terhindar dari syaitan-syaitan yang menyesatkan,
menjauh dari pikuk daratan kemaksiatan.


Ya Allah, ampunilah dosa-dosa
hamba-hamba-Mu ini. Juga dosa-dosa orang
yang pernah berbuat baik kepadanya.
Juga dosa-dosa orang yang
pernah dianiayanya.
Juga dosa-dosa orang yang pernah
menyediakan ladang amal baginya.


Kurniakanlah kepada kami, duhai Rabbi,
kerinduan untuk bertaubat;
hingga Engkau meredhai kami,
dan kami meredhai-Mu.
hingga Engkau tenang dengan kami,
dan kami damai bersama-Mu.
hingga Engkau menerima kami,
dan kami terpaut semata-mata kepada-Mu.


Amiin, amiin, amiin..


Selawat dan salam
atas Junjungan Termulia
Kekasih-Mu Tercinta
Muhammad Sallallahu 'Alaihi Wasallam
Ahli keluarganya yang diberkati,
Para sahabat yang diredhai..
serta hamba-hamba-Mu yang soleh
yang menjejak langkah mereka
hingga ke pengakhiran dunia..


Amiin,
Ya Akramal Akramiin
- Wahai Yang Maha Mulia dari sekalian yang mulia,
Ya Arhamar Rahimiin
- Wahai Yang Maha Penyayang dari sekalian yang penyayang.
Kabulkanlah..



Amiin,
Ya Rabbal 'Aalamiin.

Tiada ulasan: