Januari 23, 2008

Usaha Gigih




Perlu ada usaha yang gigih kawan
untuk menjadi seperti Ibrahim,
dermawan menyembelih putera kesayangan;

seperti Ismail yang taat dan
setiakawan menyerah pasrah
tanpa mempersoalkan;

atau tidakkah terlihat pada Ayub
sejenis kekentalan tak mengeluh oleh ujian;

menjadi ibarat Zakaria yang berbicara
dengan lambang-lambang,
tiga hari dan berdoa
dengan suara yang penuh kelembutan;

seperti Yunus terbuang,
di tengah kaumnya hidup dalam keterasingan;

juga kembaranya Isa,
satu-satu harta yang ada ikut dilepaskan;

atau seperti Musa berpakaian

dan kebesaran Muhammad,
selain dari akhlak juga al Quran,
dia hidup dalam kemelaratan;
diberikan langit dan bumi
menolak
tetapi memohon kepada Tuhan
sehari lapar sehari kenyang
menghindari dunia penuh lapis kemewahan.

Bukan senang kawan jalan yang ingin diterokai,
bukan sekadar ada lapan liku
tetapi juga harus menjadi seperti Adam dahulu,
berkhalwat dan diberi akal fikiran
memikir tentang satu demi satu
kejadian-kejadian Tuhan
setelah itu berbuat dosa
– satu dosa kutukan ke atas iblis
dan godaan-godaan celaka
ke atas syaitan yang menyesatkan

dan Adam dihumban;
tiga ratus tahun penuh penyesalan
diberi kenikmatan bertemu di puncak Arafah,
bertaubat
dan membersihkan
bermula dari kekesalan, dan
perenungan baru dicapai
lapan cabaran dan penuh usaha penuh kegigihan.

****

Faisal Tehrani
Nevsehir-Konya, 23 Zulhijjah 1424 Hijrah.






© Faisal Tehrani

:: foto

2 ulasan:

Ibnu Abas berkata...

"Tasawuf didasarkan pada lapan sifat yang dicontohkan oleh lapan rasul.

kedermawanan Ibrahim, yang mengorbankan putranya:

kepasrahan Ismail, yang menyerahkan diri pada perintah Tuhan dan menyerahkan hidupnya;

kesabaran Ayub, yang dengan sabar menahan penderitaan penyakit gatal dan kecemburuan Yang Maha Pemurah;

perlambangan Zakaria, yang menerima sabda Tuhan, `Kau tak akan berbicara dengan manusia selama tiga hari kecuali dengan mempergunakan lambang-lambang" (Surah 3: 36) dan juga "tatkala ia berdoa kepada Tuhannya dengan suara yang lembut" (Surah 19: 2);

keasingan Yunus, yang merupakan orang asing di negerinya sendiri dan terasing di tengah-tengah kaumnya sendiri;

sifat penziarah Isa, yang begitu melepaskan keduniawian sehingga hanya menyimpan sebuah mangkuk dan sebuah sisir — mangkuk itu pun dibuangnya ketika ia melihat seseorang minum dari telapak tangannya, dan juga sisirnya ketika dilihatnya seseorang menyisir rambut dengan jari jarinya;

pemakaian jubah wool oleh Musa;

dan kemelaratan Muhammad, yang dianugerahi kunci segala harta yang ada di muka bumi oleh Tuhan, sabda-Nya, "Jangan menyusahkan diri sendiri, tapi nikmati setiap kemewahan dengan harga ini, " namun jawabnya, `Ya Allah, hamba tidak menghendakinya; biarkan hamba sehari kenyang dan sehari lapar."


Petikan dari
Kashf al Mahjub
Al-Hujriwi.

Mohd Shafiq berkata...

pembetulan:
*Al-Hujwiri