Februari 06, 2008

Cinta (vii)



Seorang insan bertanyakan saya,

"Bagaimana untuk meletakkan Cinta Allah dan cinta insani,
dalam hati saya yang hanya satu ini..?"


Menyedari kekurangan dan hakikat, lemahnya diri
dalam menjelaskan persoalan sebesar ini,
izinkan saya petik dan olah semula
dari artikel tulisan Herry Mardian;
sebagai jawabannya,
dengan memahami hakikat cinta itu sendiri:


_____



Cinta ini hikmah, ujian dan bahan baku du'a..


[1] Hikmah

"Cinta merupakan hak~Nya.

Cinta adalah rasa yang agung, yang indah, dan datang dari Dia, walaupun bisa jadi ia datang lewat pintu syahwat dan hawa nafsu. Kita tak mungkin mengenal cinta ilahiyyah, jika kita tak tau rasa cinta manusiawi.

Kita bisa mencintai seseorang yang kemudian menjadi pasangan kita.. Kenapa mencintai si dia? Itu tidak bisa dilogikakan. Kenapa begitu seorang anak lahir, tiba-tiba tumbuh rasa cinta baru yang amat sangat kepada anak itu? Karena Dia yang menghadirkan rasa itu. Kita bisa mencintai seseorang, karena Dia yang memberikannya. Dia menghadirkan apapun, dan kapanpun, sekehendak~Nya."



[2] Ujian

"Walaupun Dia Maha Sempurna, ada kalanya Dia tampak tidak sempurna di mata kita yang jahil ini. Kadang tindakan~Nya menyakitkan kita, kadang menyebalkan kita. Kadang cinta kita pada~Nya terkikis. Meski demikian, akankah kita hentikan pengabdian ini kepada~Nya? Apakah kita mau mencintai~Nya, jika Dia memberi imbalan saja? Jika kita mampu merasakan rasa dimanja~Nya saja?

Belajar 'mengabdi' pada pasangan (manusia), pada akhirnya kita akan belajar mengabdi kepada~Nya. Kita berusaha memenuhi hak-hak kepada anak dan isteri dengan sebaik-baiknya, seorang isteri pula berusaha memenuhi hak-hak suami dan anak-anaknya dengan sebaik-baiknya pula; maka lambat laun kita akan belajar memenuhi hak-hak Allah dengan sebaik-baiknya."



[3] Bahan baku du'a

"Segala sesuatu memerlukan bahan baku. Kekhusyukan dan rasa fakir kepada~Nya pun memerlukan bahan baku.

Dia pemilik cinta. Jika kita tak mampu menumbuhkannya, jika kita tak lagi memilikinya, akui saja kefakiran kita ini kepada~Nya. Mintalah, mohonlah. Kita meminta sesuatu yang benar-benar kita perlukan (pengampunan, hidayah, dan Cinta~Nya..), dengan demikian kita akan berupaya melahirkan suatu permohonan yang ikhlas dan benar-benar jujur dari hati, sebuah doa yang bukan sekadar basa-basi di bibir. Kita akan memohon sebuah du'a yang benar-benar kita pahami: bahawa kita memerlukan rasa itu.

Jika keinginan untuk mencintai~Nya terasa semakin hambar, mohonlah untuk disegarkan, ditumbuhkan kembali. Jika kita tidak mencintai Dia, maka mohonlah akan rasa cinta kepada~Nya. Jika kita mencintai yang terlarang, maka mohonlah pula agar syahwat cinta itu dipadamkan.

Segala sesuatu adalah tamu dari~Nya. Tamu datang ke qalb kita sebagai 'Rasul~Nya', untuk mengingatkan kita bahawa sebenarnya, disadari maupun tidak, kita memerlukan Dia. Kita hanya bisa meminta pada Dia."

~~~~

3 ulasan:

imanulhassan berkata...

alhamdulillah..

Nadia Izzaty berkata...

Cinta & cinta.
SubhanaLlah..sangat2 indah
dan membahagiakan.

=]

Ibnu Abas berkata...

Subhanallah,
walhamdulillah..

=]