Julai 15, 2008

Berserah Kepada Allah





Dalam kitab al-Hikam Ibnu 'Athaillah al-Iskandari, dinukilkan:

Boleh jadi Allah membuka pintu ketaatan bagimu,
tetapi tidak membuka pintu pengabulan (diterimanya ketaatan itu).

Boleh jadi Allah menakdirkanmu berbuat dosa,
tetapi ternyata ia menjadi sebab sampainya tujuan (kepada-Nya).

Kemaksiatan yang menimbulkan rasa hina dan rendah hati
lebih baik dari
pada ketaatan yang menimbulkan rasa bangga dan sombong.


***

Dulu maupun sekarang, para ulama yang benar-benar mendalam ilmu mereka menyayangkan para ahli ibadah yang memperbagus bentuk luar (ibadah) namun tidak memperbagus sisi batinnya. Sering mengoreksi ritual formal namun tidak mengoreksi tujuannya. Mempraktikkan ritual formal secara teliti, sementara hakikatnya tidak mereka tangkap.

Orang-orang seperti itu hanya menjadi kendala bagi agama dan penghalang terwujudnya makna hakiki ibadah. Mereka bukanlah penopang agama, bukan pula penyeru ibadah hakiki.

Mereka menunaikan salat, tetapi tahukah anda bagaimana salat itu keluar dari mereka? Rasulullah saw. bersabda,
"Salat (mereka) keluar dalam keadaan hitam legam. Salat itu berkata kepada mereka, 'Allah telah menyia-nyiakanmu sebagaimana kamu menyia-nyiakanku.' Sampai akhirnya waktu yang dikehendaki Allah tiba, salat itu dilipat seperti dilipatnya pakaian, kemudian dipukulkan ke wajah orang yang melaksanakannya." (H.R. al-Thabrani)


Mereka melaksanakan puasa, tetapi tahukah anda kualitas puasa mereka? Nilai puasa mereka seperti disabdakan Rasulullah saw.,
"Betapa banyak orang yang berpuasa tetapi puasanya hanya berbuah rasa lapar. Dan betapa banyak orang yang bangun malam tetapi hanya sekadar berjaga malam." (H.R. Ibn Majah)


Ibadah terdiri atas jisim dan roh. Allah hanya menerima ibadah yang dipersembahkan dalam keadaan hidup (raga dan jiwa), bukan dalam keadaan mati (raganya saja). Oleh sebab itu, Rasulullah saw. bersabda,
"Allah tidak menerima amal seseorang hamba hingga hati sekaligus badannya menyaksikannya." (Musnad al-Firdawsi)


Dari Ibn 'Abbas secara marfuk diriwayatkan, "Salat fardu ibarat timbangan. Hanya orang yang memenuhinya yang akan diterima." (H.R. al-Bayhaqi)

Berbuat ihsan hanya dalam bentuk luar saja sedikit manfaatnya, baik bagi pelakunya maupun bagi orang lain.

Suatu hari saya melihat seorang petani yang terkena kewajiban mandi besar. Ia pergi menuju ke sebuah bendungan irigasi kemudian menceburkan dirinya, kemudian muncul kembali. Dengan cara seperti itu ia menganggap dirinya telah suci dari hadas besar! Padahal, jika anda mendekatinya anda akan mencium bau tak sedap yang menusuk hidung. Sebab, badannya masih menyisakan kotoran dan peluh. Lalu, apa arti mandi besar yang ia lakukan dengan menceburkan diri ke dalam air jika tidak menghilangkan kotoran, tidak membuat dirinya suci, dan tidak pula membuat orang lain mau mendekatinya?

Demikian halnya dengan ibadah-ibadah lain yang dilakukan oleh sebagian orang dengan model seperti itu (sekadar memenuhi syarat sah ibadah secara lahirnya sahaja.) Mungkin mereka memenuhi ketentuan-ketentuan formalnya, tetapi kehilangan hakikat dan tujuan sebenarnya. Wajar kalau di sisi Allah mereka tidak mendapat sesuatu yang istimewa.

Yang menjadi patokan dalam menilai ketaatan adalah sejauh mana ia bisa menjadikan seseorang sanggup mewujudkan sifat-sifat ubudiah (kehambaan) di hadapan Tuhan dan di tengah-tengah sesamanya. Ubudiah yang benar menghilangkan kekakuan, kekerasan hati, dan kekeringan jiwa. Ibadah harus melahirkan sikap tawaduk, lemah-lembut dan perangai yang mulia.

Sering kita menjumpai para pegiat ibadah tetapi membangga-banggakan ibadahnya di hadapan manusia. Pada sisi lain, kita acap menemukan orang-orang yang tidak begitu giat beribadah namun santun dalam berucap dan sopan dalam bersikap.

Bisa jadi salah seorang dari mereka terjerumus dalam dosa tetapi kemudian terperanjat oleh perbuatannya itu, lalu hatinya segera kembali kepada Allah menyesali kelalaiannya. Bukan tidak mungkin, perasaan hina dan bersalah yang mendalam atas kelakuannya serta penyesalan dalam hatinya, menjadikannya lebih dekat kepada kebenaran dan pahala Allah, ketimbang mereka yang tidak mendapatkan apa-apa dari ketaatannya selain kerasnya hati dan angkuhnya jiwa.

Sesungguhnya Allah mensyariatkan ibadah agar para hamba bisa bertawaduk, bukan malah menjadi sombong. Juga, agar mereka mendapat limpahan rahmat yang kemudian mereka tebarkan kepada seluruh makhluk dengan hati yang lembut, dan jiwa yang tenang, dan perilaku yang bagus. Jika engkau temukan orang-orang yang beribadah tetapi tidak menepati tujuan-tujuan tadi, maka ia tidak beribadah secara benar dan tidak akan diterima ibadahnya.

Memang Allah membenci kemaksiatan dan mengharamkannya atas manusia serta mempersiapkan jahanam untuk para pelakunya. Kendati begitu, bagi sebagian orang, kemaksiatan yang pernah dilakukan menjadi pemecut nuraninya yang sedang tidur dan menimbulkan kesedihan dalam hatinya. Mengucur air matanya, dan mendalam penyesalannya, takut akan ancaman Allah kepadanya. Rasa sesal dan takut orang yang melakukan maksiat ini lebih baik ketimbang ibadah yang hanya melahirkan kesombongan.

Dari uraian tadi kita dapat memahami apa yang dikatakan Rasulullah saw.,
"Seseorang berkata, 'Demi Allah, Allah tidak mengampuni si fulan!' Allah berfirman, 'Mengapa kamu berani mendahului-Ku bahwa Aku tidak mengampuni si fulan? Sesungguhnya Aku telah mengampuninya dan menyia-nyiakan amalmu." (H.R. Muslim)

***

Penjelasan ini jangan sekali-kali dipahami sebagai peremehan arti ibadah. Ini justru bertujuan menjaga makna hakiki ibadah dan mencela ibadah palsu. Ia bertujuan mendidik para hamba agar tidak berbangga diri dengan ibadah yang telah dipersembahkan. Ia juga mendorong mereka agar senantiasa terkait dengan Allah, dan menjadi hamba-hamba yang saleh seperti diceritakan Allah:

Dan orang-orang yang memberikan apa yang telah mereka berikan, dengan hati yang takut, (karena mereka tahu bahwa) sesungguhnya mereka akan kembali kepada Tuhan mereka. (Q.S. al-Mu'minun [23]: 60)

Pemaparan tadi juga menegaskan bahwa dosa tidak mungkin diridai Allah, bahkan merupakan sebab hakiki kehinaan di dunia dan azab di akhirat. Akan tetapi, dosa yang telah melecut pelakunya, dan membangkitkannya dari tidur, serta mendorongnya segera bertobat, tidak dihitung sebagai dosa setelah dibersihkan dengan penyesalan, dan berubah menjadi pemacu si musafir untuk bergegas menuju Tuhan.[]


Dipetik dari buku
Sadar untuk Bersandar,
oleh Sheykh Muhammad al-Ghazali.

2 ulasan:

Rozy berkata...

Assalamu'alaikum saudaraku,

Ape kabar?
Smoga sentiasa dalam kasih sayang Allah SWT :-).

Ijinkan saya berbagi satu link yg berisi tausiyah yg bahasannya tak jauh dari apa yang antum paparkan.

Silakan baca selengkapnya di sini...

Wassalamu 'alaikum

Ibnu Abas berkata...

Wa'alaikumussalam wr wb, wm wr.. saudaraku Rozy.

Moga kita sentiasa dalam teduhan kasih sayang-Nya, dan dipimpin cahaya Cinta-Nya.

Syukran atas perkongsiannya, ya akhi.

Bermanfaat sekali, alhamdu liLlah.

Teruskan memberi,
waLlahu yubarik fik.

Wassalamu'alaikum wr wb, wm wr.
:)