Ogos 08, 2008

Merindukan Allah


Ketika malam telah larut,
alam fikiranku melayang mengembara ke arah kegelapan malam,
fikiranku menerawang ke sebuah kuburan yang kaku,
gundukan tanah merah yang dingin,
perut bumi yang menjadi kediamanku kelak,
di dalamnya tak lain cacing dan serangga pemakan bangkai,
tubuhku yang tak mampu menepis binatang yang menggerogotiku
dan menjadikan tubuhku sarang dan tempat bertelur,

alangkah tak berdayanya tubuh ini,
sahabatku meninggalkanku, anak istriku meninggalkanku,
orang tuaku meninggalkanku, semua orang yang kukenal melupakanku,
mereka tak mau ikut mati bersamaku,
mereka tak mau tahu lagi apa yang menimpaku di kuburku,
mereka tak mau walau hanya menepiskan cacing yang menggerogoti tubuhku,
mereka tak perduli lagi tubuhku membusuk sedikit demi sedikit,
hingga tubuhku hancur dan berbau,
hingga tubuhku menjadi tulang,
lalu habis musnah menjadi tanah,

ke mana aku akan pergi?
ruhku akan melayang memenuhi panggilan Penciptaku.


Wahai Allah, tak ada selain Mu,

Engkaulah yang akan menepiskan semua serangga yang mendekati tubuhku,
akan Kau jaga tubuhku yang masuk dalam perut Bumi,
Engkau mendengar jeritan hatiku yang merindukan Mu,
maka dengarlah Wahai yang menciptakan harapan,
wahai yang menciptakan segala kerinduan,
wahai yang menciptakan keinginan untuk mengadu

kulontarkan kalimat yang kini hampir memecahkan kalbuku,
aku tak mempunyai selain Mu
untuk mengadu, untuk menolong, untuk memberi,
untuk diharapkan, untuk bergerak, untuk bernafas,
untuk berucap, untuk bersuara, untuk mendengar,
untuk melihat, untuk melangkah, untuk bergerak,
untuk berfikir, untuk makan, untuk minum,
untuk tersenyum, untuk bergembira,
untuk segala galanya, selain Mu

semua yang kumiliki, dan yang tak kumilki adalah milik Mu,
tubuhku milik Mu, makananku milik Mu, semua yang kulihat milik Mu,
semua yang kudengar Milik Mu, semua yang kuuucapkan milik Mu,
semua langkahku milik Mu, setiap nafasku milik Mu,
setiap detak jantungku milik Mu, perasaanku milik Mu,
kerinduanku milik Mu, harapanku milik Mu,
kesedihanku milik Mu, kegembiraanku milik Mu,

alangkah indahnya wahai Rabb, Karena Engkau memilikiku,
Engkau menggenggam diriku, Engkau mengaturku,
Engkau menjagaku, Engkau melindungiku,
Engkau mengayomiku, Engkau melimpahkan kelembutan Mu padaku,
aku merindukan Mu wahai Allah,
Engkau memanggilku agar aku dekat kepada Mu wahai Allah..


Wahai yang menciptakan cinta kasih di seluruh kalbu hamba Nya,
Engkau menghendaki aku mencintai Mu wahai Allah..
wahai yang menciptakan lidah saling menyebut nama nama hamba Nya,
Engkau menghendaki aku menyebut nama Mu wahai Allah..

wahai yang menciptakan segala yang indah,
keindahan yang terlihat dan yang tak terlihat,
keindahan yang terdengar dan tak terdengar,
keindahan yang terucapkan dan tak terucapkan,
keindahan yang terasa dan tak dapat dirasa,
keindahan yang diketahui dan yang tak diketahui,
keindahan yang tersaksikan dan yang tersembunyi,

semua keindahan itu berasal dari keindahan Mu wahai Allah,
maka betapa indahnya Engkau .. betapa lembutnya Engkau..


Maka Wahai Pencipta Keindahan, Wahai Pencipta Kelembutan,
Wahai Pencipta Kasih sayang,

sebagaimana Engkau perlihatkan keindahan yang ada pada makhluk Mu,
sebagaimana Engkau perlihatkan kelembutan yang ada pada makhluk Mu,
sebagaimana Engkau perlihatkan kasih sayang yang ada pada makhluk Mu,
maka perlihatkan padaku Keindahan Mu wahai Allah,

perlihatkan kelembutan Mu wahai Allah..
perlihatkan kasih sayang Mu wahai Allah,

walau hanya berupa harapan, walau hanya berupa sangkaan,
walau hanya berupa khayalan, walau hanya berupa kerinduan,
walau hanya berupa keinginan, walau hanya berupa airmata,
walau hanya berupa pemberian, walau hanya berupa lamunan,
walau hanya berupa kemudahan, walau hanya berupa pertolongan,

asalkan aku mengetahui bahwa itu datang dari kelembutan Mu,
datang dari kasih sayang Mu, datang dari keindahan Mu,

alangkah kecewa hamba yang hanya memiliki harapan,
hamba yang hanya memiliki khayalan,
hamba yang hanya memiliki lamunan,
hamba yang hanya memiliki kerinduan,
hamba yang hanya ingin dekat,
hamba yang hanya mendambakan kelembutan,
hamba yang hanya mendambakan ayoman,
hamba yang hanya mendambakan kasih sayang,

sedangkan modal semua harapanku hanyalah airmata,

apakah ia harus dikecewakan oleh yang Maha tak mengecewakan,

alangkah hancur perasaannya kalau kerinduannya
ditolak oleh yang Maha tak menolak kerinduan,

alangkah berkeping kepingnya kecintaannya,
bila keinginannya untuk dekat tertolak oleh
yang Maha tak menolak hamba Nya yang ingin dekat,

itu semua tak ada pada dzat Mu,
itu semua tak ada dalam sifat Mu,
itu semua tak ada pada perbuatan Mu,

apalagi yang membuatku tertolak
sedangkan Engkau yang Maha menerima,
apalagi yang membuatku tersingkir
sedangkan Engkau yang Maha merangkul,
apalagi yang membuatku terjauhkan,
sedangkan Engkaulah yang maha mendekatkan,

salahkah aku merindukan Mu,
sedangkan Engkaulah
yang menciptakan kerinduanku pada Mu,

salahkah aku menginginkan dekat pada Mu,
sedangkan Engkaulah
yang menciptakan keinginanku untuk dekat kepada Mu,

salahkah aku merasa tenggelam dalam samudra Kelembutan Mu,
sedangkan Engkaulah yang menciptakan perasaan itu dihatiku.


Wahai Allah.. wahai yang menamakan diri Nya Allah,
wahai yang menginginkan nama Nya dipanggil Allah,

wahai yang menginginkan lidahku
memanggil Dzat Nya dengan panggilan Allah,

wahai yang menginginkan aku mengharapkan Nya
dengan mengingat nama Allah,

wahai yang menciptakan lidahku
bergetar menyebut Nama Allah,

wahai yang memberikan kemampuan
pada jemariku menuliskan nama Allah..

maka dengan kemauan Mu kusebut namamu Allah..
dengan keinginan Mu kurindukan Engkau Allah..
dengan keinginan Mu aku ingin dekat kepada Mu wahai Allah,

salahkah aku berkeinginan,
salahkah aku merindukan,
salahkah aku ingin dekat,
sedangkan semua getaran kalbuku itu,
adalah keinginan Mu wahai Allah?

maka sebagaimana Kau jadikan
cacing merangkak tanpa tangan dan kaki,
maka jadikan aku merangkak kepadamu tanpa hambatan,

sebagaimana Kau jadikan
anjing najis bertasbih mensucikan Mu,
maka jadikan aku pendosa hina yang mendambakanmu,

sebagaimana kaujadikan
air mengalir menjadi beku,
maka jadikan harapanku
mengalir kearah Mu, dan membeku dipintu Mu,

sebagaimana Kau jadikan
gunung batu menjadi debu,
maka jadikan seluruh kesalahanku
menjadi debu di hadapan Keagungan Mu,

sebagaimana Kau jadikan
bumi perkasa terinjak injak,
maka jadikan hawa nafsuku terinjak injak
kerinduanku kepada Mu,

sebagaimana Kau jadikan
Raja berwibawa terkalahkan dan terhinakan,
maka jadikan kesombonganku
terhinakan oleh kewibawaan Mu,

sebagaimana kau jadikan
sesuatu yang bergerak menjadi diam,
maka jadikan tubuhku yang bergerak
berubah diam dari segala yang tak Kau ridhai,

sebagaimana kau jadikan
semua yang ada menjadi fana,
maka jadikanlah gunung dosa ini
fana dalam kelembutan Mu,

sebagaimana kau jadikan
yang tak mungkin menjadi kepastian,
maka jadikan semua
ketidakmungkinanku untuk dekat
menjadi janji kepastian.


2 ulasan:

Rozy berkata...

"Barangsiapa yang rindu perjumpaan dengan Allah, Allah pun rindu tuk berjumpa dengannya"

Ibnu Abas berkata...

Kalau bukan kerana cinta, masakan dunia wujud daripada tiada. Kalau bukan kerana rindu, masakan manusia menyahut seru. Manusia dan kehidupan, punya makna dan penghayatan. Itulah antara hakikat yang tidak dapat dinafikan.

Jalan ini, jalan cinta. Jalan cinta, menyaksikan yang dicinta tanpa pencinta. Nilainya pada kebersamaan. Keagungannya pada keredhaan.

Ya akhi Rozy,
Kalau Bukan Kerna Cinta...