Jun 01, 2008

Tanda-tanda Cinta





Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman,
dalam surah at-Tahrim, ayat 8 :
"Hai orang-orang yang beriman, bertaubatlah kepada Allah
dengan taubat yang sungguh-sungguh, nescaya Allah
akan menghapuskan kesalahan-kesalahanmu,
menutupi aibmu, dan memasukkan kamu ke dalam surga-Nya,
yang mengalir di bawahnya sungai-sungai."

Subhanallah..
Bertaubatlah sungguh-sungguh
Allah sayang sama kita.
Selama hayat dikandung badan,
selagi jantung masih berdetak,
segeralah, jangan tunda taubat sungguh-sungguh.

Dan malaikat pun menyertai kalian
seraya mendu'akan dan mengaminkan du'a-dua kalian
agar kalian keluar dari kegelapan menuju cahaya.
Dan Allah benar-benar menyayangi orang-orang beriman
yang selalu berdzikir kepada-Nya.

Salam dari Allah bagi mereka yang selalu berdzikir pada-Nya,
dan Allah persiapkan untuk mereka
ganjaran yang mulia.

Subhanallah..
Bukankah kekasih senang menyebut nama Kekasihnya?
Bukankah kekasih senang membanggakan nama Kekasihnya?
Bukankah Kekasih senang dibanggakan oleh kekasih-Nya?
Semakin cinta, semakin banyak kita menyebut nama-Nya.

[-] M. Arifin Ilham, Intro bagi lagu 'Dengan Menyebut Nama Allah'.

~~~~


TANDA-TANDA CINTA KEPADA ALLAH
Menurut Imam al-Ghazali


Banyak orang mengaku mencintai Allah, tetapi mereka harus mempertanyakan kembali, semurni apakah kecintaan mereka itu? Kecintaannya harus diuji, di antaranya dengan tidak membenci kematian, karena seorang "teman" tidak akan takut bertemu "teman"nya. Nabi saw. bersabda, "Siapa yang ingin melihat Allah, Allah pun ingin melihatnya." Memang benar, seorang pencinta Allah yang ikhlas mungkin saja takut akan kematian sebelum tuntas mempersiapkan dirinya untuk kehidupan akhirat. Namun, jika ia benar-benar ikhlas, pasti ia akan bersemangat mempersiapkan diri. Jadi, salah satu tanda bahwa seseorang mencintai Allah adalah tidak takut mati.





Tanda berikutnya adalah kesediaan seseorang untuk mengorbankan segala hasrat dan kehendaknya demi mencapai kehendak Allah. Ia harus mengikuti dan melaksanakan segala sesuatu yang dapat mendekatkannya pada Allah seraya menjauhkan diri dari segala yang menjauhkannya dari Allah.


Kendati demikian, orang yang pernah melakukan dosa tidak lantas divonis tidak mencintai Allah sama sekali. Keberdosaannya itu semata-mata membuktikan bahwa ia tidak mencintai-Nya sepenuh hati. Wali Fudhail berkata kepada seseorang, "Jika ada yang bertanya kepadamu, cintakah engkau kepada Allah, diamlah; karena jika kaujawab, 'Aku tidak mencintai-Nya,' kau telah kafir; dan jika kaujawab, 'Ya, aku mencintai-Nya,' berarti kau dusta karena banyak perbuatanmu yang bertentangan dengan pengakuanmu."


Tanda yang ketiga adalah pikiran yang selalu hidup dan segar berkat zikir kepada Allah. Setiap saat, ingatan kepada-Nya tak pernah lepas dari pikirannya. Seorang pencinta pasti akan terus mengingat kekasihnya. Dan jika cintanya itu sempurna, tentu ia tidak akan pernah melupakan-Nya. Meski demikian, mungkin saja cinta kepada Allah tidak menempati tempat utama di hari seseorang, namun kecintaan akan cinta kepada Allah menguasai hatinya. Kedua hal itu, cinta kepada Allah dan kecintaan akan cinta kepada-Nya, sungguh berbeda.





Tanda cinta kepada Allah yang keempat adalah mencintai Alquran, firman Allah, dan mencintai Muhammad Nabiyullah. Lalu, jika cintanya benar-benar kuat, ia akan mencintai semua manusia, karena mereka semua adalah hamba Allah. Bahkan, cintanya akan meliputi seluruh makhluk, karena orang yang mencintai seseorang akan mencintai karya-karya cipta dan hasil tangannya.


Tanda yang kelima adalah adanya hasrat yang kuat untuk beruzlah demi tujuan ibadah. Seorang yang mencintai Allah senantiasa mendambakan datangnya malam agar bisa berhubungan dengan Temannya tanpa halangan. Jika ia lebih menyukai bercakap-cakap di siang hari dan tidur di malam hari ketimbang melakukan uzlah seperti itu, berarti cintanya tidak sempurna. Allah berkata kepada Daud a.s., "Jangan terlalu dekat dengan manusia, karena ada dua jenis manusia yang jauh dari kehadiran-Ku, yaitu orang yang bernafsu mencari imbalan namun semangatnya kendur setelah mendapatkannya, dan orang yang lebih menyukai pikiran-pikirannya sendiri dari mengingat-Ku. Tanda-tanda keengganan-ku adalah Aku membiarkannya sendirian."


Sebenarnya, jika cinta kepada Allah benar-benar menguasai hati manusia, kecintaan kepada segala sesuatu yang lain (selain Allah) akan sirna. Dikisahkan bahwa seorang Bani Israil biasa salat di malam hari. Tetapi ketika melihat seekor burung yang selalu bernyanyi dengan merdu di atas sebatang pohon, ia mulai salat di bawah pohon itu agar dapat menikmati nyanyian burung itu. Allah memerintahkan Daud a.s. untuk mengunjunginya dan berkata kepadanya, "Engkau telah mencampurkan kecintaan kepada seekor burung yang merdu dengan kecintaan kepada-Ku sehingga tingkatanmu di antara para wali melorot jatuh." Di lain pihak, ada orang yang sangat mencintai Allah hingga ketika sedang beribadah kepada-Nya dan rumahnya terbakar habis, ia tidak menyadarinya sama sekali.





Tanda yang keenam adalah perasaan riang dan mudah untuk beribadah. Seorang wali berkata, "Selama tiga puluh tahun pertama aku menjalankan ibadah malamku dengan susah payah, tetapi tiga puluh tahun kemudian bahkan aku sangat menyukainya." Jika kecintaan kepada Allah sudah sempurna, tak ada kebahagiaan yang bisa menandingi kebahagiaan beribadah kepada-Nya.


Tanda ketujuh adalah mencintai orang yang menaati-Nya dan membenci orang yang kafir dan orang yang tidak taat, sebagaimana dikatakan Alquran: "Mereka bersikap keras kepada orang kafir dan saling mengasihi di antara sesamanya." Nabi saw. pernah bertanya kepada Allah, "Ya Allah, siapakah pencinta-pencinta-Mu?" Dia menjawab, "Orang yang berpegang erat kepada-Ku layaknya seorang anak yang kepada ibunya; yang berlindung dalam mengingat-Ku sebagaimana seekor burung mencari perlindungan di sarangnya; dan orang yang murka melihat perbuatan dosa, layaknya seekor macan (bhs Melayu : singa) ketika marah; ia tidak takut kepada apa pun." []


Imam al-Ghazali
Bahagia Sentiasa : Kimia Ruhani Untuk Kebahagiaan Abadi [PT Serambi]
diterjemahkan dari The Alchemy of Happiness [J. Murray, London],
dengan merujuk edisi bahasa Arab, Kimiyyah al-Sa'adah [Dar al-Fikr].



2 ulasan:

Nadia'Izzaty berkata...

"(Iaitu) orang2 yang beriman dan tenang tenteram hati mereka dengan zikruLlah. Ketahuilah, hanya dengan mengingati Allah, hati kan tenang tenteram."
[QS Ar-Ra'd;28]

Ibnu Abas berkata...

Yang Tercinta menyeru pencinta~Nya,

"Hai nafsul muthmainnah.. (jiwa yang tenang). Kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang puas lagi diredhai-Nya. Maka masuklah ke dalam golongan hamba-hamba-Ku, masuklah ke dalam jannah-Ku."
[QS Al-Fajr; 27-30]